Pagi itu, balai desa Lembah Pusako tampak lebih ramai dari biasanya. Di dinding depan terpampang spanduk bertuliskan “Program Pelestarian Bahasa Minang — Manjago Lidah, Manjago Budaya”. Beberapa anak sekolah dasar berlari-lari kecil sambil tertawa, sementara para remaja duduk di bangku bambu menunggu kegiatan dimulai. Di tengah ruangan, Mak Ijah, salah satu tokoh adat perempuan yang dihormati di desa, menata lembaran kartu berisi kosakata Minang yang telah ia siapkan semalam.
“Anak-anak kini banyak yang pandai berbahasa Indonesia dan Inggris, tapi sudah jarang yang fasih berbahasa Minang,” katanya lirih kepada Sari, yang sedang menyiapkan kamera untuk meliput kegiatan. “Kalau lidah mulai lupa, hati pun bisa jauh dari akar.”
Sari mengangguk. Ia tahu benar kekhawatiran itu. Dalam liputan-liputannya, ia sering melihat anak muda lebih suka menulis caption media sosial dalam bahasa asing. “Justru itu, Mak,” ujarnya lembut, “program ini penting. Kita perlu buat bahasa Minang kembali hidup, bukan hanya di rumah, tapi juga di ruang publik.”
Acara dibuka dengan salam hangat dari Raka, yang kini juga menjadi koordinator bidang pendidikan dan inovasi desa. “Bahasa bukan sekadar alat komunikasi,” katanya dengan nada tegas namun bersahabat, “tapi juga identitas. Lewat bahasa, kita mengenal nilai, sopan santun, dan cara berpikir nenek moyang kita.”
Ia melanjutkan dengan memperkenalkan program “Lidah Pusako” — inisiatif digital yang dikembangkan oleh tim muda desa. Aplikasi ini berisi kamus interaktif, permainan kata, dan audio pembelajaran yang memudahkan anak-anak belajar bahasa Minang dengan cara menyenangkan. Di layar proyektor, muncul tampilan antarmuka sederhana dengan ikon rumah gadang dan tombol “Mulai Belajar.”
Ketika Raka mendemonstrasikan fitur permainan tebak kata Minang, anak-anak langsung tertawa riang. “Cubo, apo arti kata ‘lapiak’?” tanya Raka. Seorang bocah laki-laki mengangkat tangan cepat. “Tikar, Uda!” serunya. Raka tertawa. “Betul! Hebat! Nah, sekarang coba yang ini, ‘rangkiang’?”Siti yang membantu di sampingnya menjawab, “Tempat menyimpan padi di depan rumah gadang!”
Suasana balai desa berubah menjadi kelas penuh tawa dan semangat. Di luar, udara lembah yang sejuk seolah ikut menyambut kebangkitan bahasa yang lama terpendam di antara percakapan modern.
Mak Ijah kemudian maju ke depan. Dengan suara serak tapi penuh wibawa, ia mulai bercerita dalam bahasa Minang lama: kisah tentang Malin Kundang yang bukan hanya legenda durhaka, tetapi pelajaran tentang lupa asal dan hilangnya hormat kepada ibu.
“Kalau lidah sudah tak bisa menyebut kata ‘ibu’ dalam bahasa sendiri,” ujarnya, “bagaimana mungkin kita bisa mengerti makna kasih sayang yang diwariskan turun-temurun?”
Anak-anak terdiam, mendengarkan dengan mata berbinar. Bagi mereka, kisah yang sering dibacakan dalam buku pelajaran kini terasa lebih hidup, lebih dekat, karena diceritakan dengan bahasa yang lahir dari tanah mereka sendiri.
Sore harinya, para remaja desa berkumpul di Rumah Gadang Digital—tempat belajar multimedia dan konten kreatif yang dibangun oleh komunitas Suara Pusako. Sari dan Damar mengajak mereka membuat seri video pendek berjudul “Bahaso Kito”. Setiap video menampilkan satu kata Minang dan maknanya dalam kehidupan sehari-hari.
“Contohnya begini,” jelas Damar sambil menunjukkan contoh klip. “Kata ‘malu’ bukan hanya berarti rasa segan. Dalam budaya Minang, malu adalah pagar diri, tanda hormat, dan bentuk kasih sayang terhadap orang lain.”
Salah satu remaja, Rino, mengangkat tangan. “Kalau begitu, kita bisa bikin video tentang pepatah Minang juga, Bang. Kayak ‘Alam takambang jadi guru’.” Sari tersenyum. “Bagus sekali. Kita jadikan segmen baru: Pepatah dan Maknanya. Kalian yang menulis naskahnya, nanti kita bantu editing.”
Kegiatan itu pun berkembang menjadi gerakan budaya kecil yang menarik perhatian banyak orang. Setiap pekan, mereka mengunggah satu video baru di media sosial. Tak disangka, video-video sederhana dengan latar musik saluang dan pemandangan sawah itu mendapat ribuan penonton. Banyak anak muda dari daerah lain ikut berkomentar, bahkan mencoba menulis balasan dalam bahasa Minang.
Namun, di tengah antusiasme itu, muncul tantangan dari dalam. Beberapa orang tua merasa khawatir anak-anak akan mencampuradukkan bahasa. “Nanti kalau kebanyakan main bahasa daerah, takutnya mereka ketinggalan di pelajaran sekolah,” kata seorang ayah dalam rapat desa.
Raka menjelaskan dengan sabar. “Kita tidak sedang memilih antara bahasa daerah dan nasional. Justru kita ingin menambah kekayaan berpikir. Anak yang menguasai dua atau tiga bahasa akan lebih mudah memahami dunia.” Pak Marwan menimpali dengan bijak, “Betul. Bahasa Minang bukan penghalang kemajuan, tapi cermin dari cara kita memaknai hidup.”
Untuk menjembatani hal itu, mereka pun membuat modul bilingual: setiap kata dan kalimat Minang disertai padanan dalam bahasa Indonesia. Program ini juga diintegrasikan ke dalam kegiatan sekolah minggu di surau dan kelas budaya di SD. Guru-guru muda yang dilatih oleh tim Lidah Pusako mulai mengajar dengan metode permainan: teka-teki bahasa, lomba pantun Minang, dan kuis interaktif.
Sari tak tinggal diam. Ia menulis artikel khusus untuk Suara Pusako berjudul “Bahasa yang Menjaga Jiwa Nagari.” Dalam tulisannya, ia menekankan bahwa pelestarian bahasa bukan sekadar soal kata, tapi tentang menjaga cara berpikir kolektif masyarakat.
“Di balik setiap kata Minang tersimpan filosofi. Kata budi, misalnya, bukan hanya akal, tapi juga hati. Kata marwah bukan sekadar harga diri, tapi kehormatan yang harus dijaga bersama.”
Artikel itu viral di kalangan akademisi dan aktivis budaya. Sejumlah universitas bahkan menghubungi Sari untuk menjadikan Lidah Pusako sebagai contoh praktik baik revitalisasi bahasa daerah.
Suatu pagi, rombongan mahasiswa datang berkunjung untuk belajar langsung. Mereka disambut hangat oleh warga. Mak Ijah memimpin kelas terbuka di bawah pohon beringin tua, tempat dulu nenek moyang sering berkumpul untuk bercerita. Ia mengajarkan beberapa peribahasa Minang klasik yang nyaris punah.
“Cubo, anak kamanakan, ulangi nan ambo katokan,” katanya. “Nan sabana kawan, indak tabuek di musim hujan.” Artinya, teman sejati tidak akan hilang meski musim berganti.
Para mahasiswa menulis dan merekam dengan penuh perhatian. Mereka sadar, di setiap ungkapan itu tersimpan nilai-nilai sosial yang relevan untuk zaman modern—tentang solidaritas, kesetiaan, dan keseimbangan hidup.
Malamnya, di balai desa, diadakan Festival Bahasa dan Budaya Minang. Anak-anak menampilkan drama pendek dalam bahasa Minang, para remaja membacakan pantun, sementara ibu-ibu menyanyikan lagu daerah dengan iringan talempong. Di panggung sederhana itu, rasa bangga terhadap bahasa sendiri mengalir seperti alunan musik tradisional yang lembut namun menggetarkan.
Raka yang duduk di antara penonton menatap suasana itu dengan mata berbinar. “Dulu, aku pikir inovasi hanya soal teknologi,” katanya pada Sari. “Ternyata melestarikan bahasa juga bagian dari inovasi. Kita sedang menyambung masa depan lewat masa lalu.”
Sari mengangguk. “Teknologi memberi kita alat, tapi bahasa memberi kita arah.”
Menjelang akhir acara, Mak Ijah naik ke panggung membawa mikrofon. Dengan suara bergetar, ia berkata, “Alhamdulillah, lidah kito masih basuaro. Kalau anak cucu sudah pandai manyabuik kato Minang, berarti jiwa nagari masih hidup.” Tepuk tangan menggema di seluruh ruangan.
Sejak hari itu, Lidah Pusako tak lagi sekadar program desa, melainkan gerakan yang menular ke daerah lain. Setiap kali kabut pagi turun di Lembah Pusako, suara anak-anak yang bermain sambil berpantun terdengar di udara.
“Ayam den lapeh di bawah bungo, indak lamo mananti sore, kito basaba, kito basuo, jan hilang bahaso di nagari kito dek mode.”
Sari menatap mereka dengan senyum haru. Di tengah dunia yang serba cepat, desa kecil itu telah menemukan cara untuk tetap berdiri tegak: dengan menjaga bahasa, menjaga jiwa.
Di akhir hari, ketika matahari perlahan tenggelam di balik bukit, Raka menulis satu kalimat di papan pengumuman balai desa: “Siapa yang menjaga bahasanya, ia sedang menjaga dirinya sendiri.”
Dan di bawah sinar senja yang lembut, Lembah Pusako berbisik dalam bahasa ibu—bahasa yang lahir dari tanah, tumbuh bersama kasih, dan kini hidup kembali di hati generasi muda.(DA)
Saya seorang pensiuan berpengalaman di bidang pemerintahan dengan kemampuan analisis dan komunikasi yang baik. Terbiasa bekerja secara tim maupun mandiri, saya selalu berkomitmen memberikan hasil terbaik dan terus belajar untuk berkembang.


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.