Menu

Mode Gelap
APBDes 2027: Strategi Desa Batang Kejar Target Desa Zero Stunting Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa Bantah Isu Kontraktor LPJ, PMD Kolaka Utara Siapkan Klinik Desa

RAGAM · 30 Mei 2026 19:48 WIB ·

Internet Rakyat: Antara Teknologi Canggih dan Kemandirian Desa


					Internet Rakyat: Antara Teknologi Canggih dan Kemandirian Desa Perbesar

Sragen, Jawa Tengah [DESA MERDEKA] Bagi warga Sragen, akses internet cepat kini bukan lagi sekadar mimpi. Kehadiran teknologi Internet Rakyat (IRA) yang menggunakan spektrum 1,4 GHz membawa angin segar bagi konektivitas digital hingga ke pelosok. Namun, di balik kecepatan 100 Mbps yang ditawarkan, muncul pertanyaan krusial: bagaimana nasib unit usaha desa yang telah lebih dulu merintis “internet rakyat” versi mereka sendiri?

Secara teknis, IRA adalah lompatan inovasi. Menggunakan teknologi 5G Fixed Wireless Access (FWA), IRA mampu menjangkau radius 500 meter per BTS dengan penetrasi sinyal yang sangat kuat menembus dinding rumah. Sebagai layanan komersial 5G 1,4 GHz pertama di dunia, IRA menawarkan solusi internet unlimited tanpa ribet kabel, sebuah terobosan bagi wilayah perdesaan dengan topografi sulit.

Namun, Sragen memiliki cerita unik. Sebelum korporasi masuk dengan modal besar, desa-desa di sini sudah lebih dulu “merdeka” secara digital. Ambil contoh BUMDes Tanggan yang telah melayani ratusan rumah sejak 2021, atau program Sistem Internet Milik Desa (Simides) yang sukses menggaet ribuan pengguna. Di sinilah letak persimpangan jalan bagi pembangunan desa kita.

Geografi Sragen yang didominasi area pertanian dan hunian padat memang menjadi lahan basah bagi ekspansi IRA yang menargetkan 5.500 titik jaringan di tahun 2026. Secara ekonomi, kehadiran IRA memberikan demokratisasi akses digital dengan tarif terjangkau. Namun, dari sudut pandang sosial, pemerintah daerah kini diuji untuk membuat regulasi yang adil. Bagaimana memastikan “gajah” teknologi ini tidak mematikan “semut-semut” lokal—yakni unit usaha BUMDes—yang selama ini menjadi tulang punggung Pendapatan Asli Desa (PADes)?

Bagi generasi muda dan pelaku UMKM desa, pilihan di depan mata adalah soal kualitas dan efisiensi. Namun, bagi desa, ini adalah soal kedaulatan ekonomi. Ke depan, kolaborasi menjadi kunci. Pemerintah daerah perlu merumuskan kebijakan yang tidak hanya fokus pada pajak, tetapi juga integrasi teknologi antara sistem korporasi dan jaringan mandiri desa. Internet Rakyat sejati seharusnya bukan hanya soal kecepatan unduh, tetapi soal sejauh mana teknologi ini mampu memperkuat kemandirian desa, bukan justru menggilas usaha lokal yang sudah terbangun dengan susah payah.

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 4 kali

badge-check

Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Tebar Qurban Pemprov Sumbar Sukses Jangkau Mentawai

30 Mei 2026 - 15:47 WIB

Ambulans Desa: Saat Pejabat Tinggalkan Mobil Mewah

29 Mei 2026 - 20:25 WIB

Ambulans dari Anggaran Dinas: Langkah Berani Bupati Serang

29 Mei 2026 - 18:09 WIB

Sapi Kurban Wabup Tabalong Bahagiakan Warga Desa Lano

29 Mei 2026 - 12:18 WIB

Sapi Kurban Wapres Berdayakan Peternak Lokal Limapuluh Kota

29 Mei 2026 - 10:20 WIB

Golkar Bekasi Distribusi Hewan Kurban ke 23 Kecamatan

28 Mei 2026 - 18:25 WIB

Trending di RAGAM