Menu

Mode Gelap
APBDes 2027: Strategi Desa Batang Kejar Target Desa Zero Stunting Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa Bantah Isu Kontraktor LPJ, PMD Kolaka Utara Siapkan Klinik Desa

RAGAM · 4 Jan 2026 08:46 WIB ·

Jejak Sunyi di Lembah Pusako Episode 2: Tari Randai di Balairung


					Jejak Sunyi di Lembah Pusako Episode 2: Tari Randai di Balairung Perbesar

 

Oleh Deddi Ajir

Senja perlahan menepi, seperti seorang ibu yang menyelimuti anaknya dengan kehangatan jingga yang lembut. Cahaya keemasan merambat di atas punggung bukit, menebarkan warna ke langit dan meluruhkan bayang-bayang yang mulai mengendap di lembah hijau. Di kejauhan, suara ayam pulang kandang bersahut-sahutan, dan aroma tanah yang menguap pelan membaur dengan wangi dupa dari balairung yang berdiri megah di tengah kampung.

Raka dan Sari melangkah pelan, menyusuri jalan setapak yang mulai teduh. Di setiap langkah, ada desir angin yang membawa kisah lama, dan bisikan sunyi dari tanah yang menyimpan jejak para leluhur. Mereka menuju balairung—rumah besar nan sakral tempat musyawarah, pelestarian adat, dan pentas seni diwariskan dari satu generasi ke generasi lainnya.

“Di sinilah jiwa kampung kami berkumpul,” bisik Sari, lirih tapi penuh kebanggaan. “Malam ini, kau akan melihat Tari Randai. Ia bukan hanya pertunjukan. Ia adalah sejarah yang menari, warisan yang bicara lewat tubuh dan nada.”

Begitu memasuki balairung yang beratapkan ijuk dan berdinding kayu ukir, Raka merasa seakan melangkah ke lorong waktu. Balairung itu tak hanya sebuah bangunan, tapi ruang hidup tempat masa lalu dan masa kini bersua dalam cahaya lentera yang temaram. Suara tawa, celoteh anak-anak, dan alunan rabab serta talempong membaur menjadi simfoni kampung yang begitu manusiawi.

Di tengah ruangan, para pemuda desa telah bersiap. Pakaian mereka berwarna terang—merah, kuning, biru tua—berhias ikat kepala dan kain songket yang menari bersama angin. Wajah mereka penuh semangat, namun juga menyimpan kesungguhan. Saat musik mulai mengalun, tubuh mereka bergerak serempak. Langkah demi langkah membentuk lingkaran, berputar dalam irama, dan di situlah segalanya bermula.

Raka terdiam. Setiap gerakan, lompatan, dan tepukan seolah membawa pesan tersirat. Randai bukan sekadar tari, ia adalah kitab yang dibaca dengan tubuh. Melalui pantun, syair, dan dialog, para penari menceritakan kisah kepahlawanan, cinta tanah air, pengkhianatan, hingga pengorbanan. Kisah lama yang tak pudar dimakan waktu, karena selalu dihidupkan kembali oleh anak-anak desa yang tak pernah lupa dari mana mereka berasal.

Sari duduk di sampingnya, seperti pemandu yang mengenalkan isi hati kampung halaman. Suaranya pelan, namun menggetarkan.

“Randai adalah cermin hidup kami. Di dalamnya ada nilai adat, semangat juang, dan cinta yang tak pernah mati kepada pusako—tanah, budaya, dan kebenaran. Kami percaya, selama Randai terus ditarikan, maka jiwa nenek moyang kami pun akan terus hidup.”

Raka menatap wajah Sari. Ada cahaya yang lain di sana—cahaya yang hanya dimiliki oleh mereka yang hidup dalam makna, bukan sekadar rutinitas. Ia mulai memahami bahwa di balik keindahan tarian itu, tersembunyi kerja keras, keyakinan, dan kerendahan hati untuk terus menjaga pusaka warisan.

Pertunjukan berlangsung hampir satu jam. Namun bagi Raka, waktu seolah membeku. Ia menyaksikan bukan hanya seni, tapi jiwa yang menari. Ketika tepuk tangan bergema memenuhi balairung, ia berdiri dan ikut bertepuk, namun hatinya tak bisa berhenti bergetar.

“Sari,” ucapnya kemudian, “di kota kami menyebut seni sebagai hiburan. Tapi di sini, aku melihatnya sebagai ruh yang memberi arah dan napas. Aku… tak pernah melihat sesuatu yang begitu hidup dan dalam.”

Sari tersenyum. Senyum yang tak banyak bicara, tapi mengandung pengertian yang luas. “Kami tidak sekadar menjaga bentuk tarinya, Raka. Kami merawat maknanya. Agar anak cucu tahu bahwa sebelum mereka, ada cerita yang panjang dan suci.”

Malam merangkak turun. Balairung perlahan sepi, seperti gunung yang kembali menyimpan suara. Raka dan Sari berjalan pulang, ditemani cahaya bintang yang berserakan di langit, seperti lampu kecil yang menuntun arah pulang ke dalam diri.

Di sepanjang jalan, Raka tak bisa mengusir suara canang dan pantun yang tadi terdengar. Ia tahu, Randai telah menanamkan sesuatu di hatinya—sebuah kesadaran baru tentang siapa dirinya, dan apa yang bisa diselamatkan di tengah dunia yang serba cepat dan bising.

Sari menggenggam tangannya, pelan tapi pasti. “Esok, aku akan bawa kau ke tempat para randai dilatih. Kau akan belajar gerakannya. Tapi lebih dari itu, kau akan belajar mendengar suara nenek moyangmu sendiri.”

Raka mengangguk. Malam itu, di bawah langit Minangkabau yang penuh bintang, ia menyadari bahwa perjalanannya belum selesai. Ia baru saja memasuki bab baru—bab tentang mengenal akar, tentang menghormati jejak, dan tentang mencintai kembali yang pernah dilupakan.

Karena di tanah adat ini, seni bukan hanya karya. Ia adalah cahaya yang membimbing pulang. (DA)

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 61 kali

badge-check

Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Desa Atue, Menjadi Percontohan Desa Produktif Ramah Lingkungan

9 Juni 2026 - 21:09 WIB

Pilkades Pasir Mayang: Tiga Calon Berebut Kursi Desa

9 Juni 2026 - 12:24 WIB

Jejak Sunyi di Lembah Pusako

8 Juni 2026 - 20:57 WIB

Sumbar Perketat Distribusi BBM Subsidi demi Kesejahteraan Desa

8 Juni 2026 - 20:25 WIB

Sinyal Mati Hidup di Desa Tambang, Ekonomi Terancam

8 Juni 2026 - 19:05 WIB

Warga Loleo Tuntut Investigasi Dana Desa yang Fiktif

8 Juni 2026 - 15:52 WIB

Trending di RAGAM