Menu

Mode Gelap
Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa Bantah Isu Kontraktor LPJ, PMD Kolaka Utara Siapkan Klinik Desa Sultan HB X: Desa Adalah Fondasi Budaya dan Ekonomi

RAGAM · 24 Jan 2026 14:37 WIB ·

Jejak Sunyi di Lembah Pusako Episode 18: Pendidikan untuk Semua


					Jejak Sunyi di Lembah Pusako Episode 18: Pendidikan untuk Semua Perbesar

 

Episode 18: Pendidikan untuk Semua

Balai desa kini tak lagi hanya tempat orang bermusyawarah, tapi juga tempat ilmu bertumbuh. Di bawah atap seng yang dipaku ulang dan papan surian yang mulai menguning, suara anak-anak bercampur dengan tawa orang dewasa. Mereka belajar huruf dan gawai, membaca dunia lewat layar kecil, namun masih berhenti sejenak ketika azan magrib memanggil dari surau tua di kaki bukit.

Program pendidikan yang dulu dirintis diam-diam kini tumbuh seperti batang padi di awal musim. Sari, guru muda yang dikenal sabar dan tajam pikirannya, menjadi penggerak utama. “Kalau perempuan pandai membaca dan menulis dunia, maka nagari akan lebih kuat,” katanya suatu sore di depan ibu-ibu yang baru pulang dari sawah.

Di tangannya, buku-buku lusuh bersanding dengan laptop bekas kiriman Raka, anak rantau yang kini menetap lagi di nagari. Mereka berdua bagai dua sisi zaman yang bertemu di satu jalan: Sari dengan semangat mendidik dari akar, Raka dengan gagasan membangun dari arus baru.

Di ruang balai yang berlantai kayu tua itu, mereka tak hanya mengajar huruf dan angka, tapi juga bagaimana memasarkan hasil tani lewat internet, menulis kisah rakyat untuk anak-anak sekolah, dan mengabadikan dendang lama agar tak hilang ditelan waktu.
“Teknologi itu bukan musuh adat,” kata Raka, “asal dipakai dengan niat yang elok.”

Beberapa mamak dan datuk awalnya masih menimbang. “Anak nagari kini pandai memotret sawahnya sendiri,” ujar seorang datuk tua dengan nada geli, “padahal dulu memotret itu hanya untuk pesta.” Namun setelah beberapa bulan, mereka mulai melihat perubahan yang lembut.

Anak-anak muda yang dulu lebih suka ke kota, kini betah di kampung. Mereka membuat kanal Ranah Pusako.id, tempat menulis berita tentang kegiatan nagari: gotong royong, alek surau, dan cerita tua yang disalin dari mulut ke tulisan.

Sari melihat semua itu dengan mata yang basah. Ia teringat waktu kecil, ketika balai desa hanya ramai kalau ada rapat atau pesta. Kini, tiap sore ada suara ketikan dan tawa, seperti degup baru bagi lembah yang lama tertidur.

Namun, perubahan tak pernah datang tanpa riak. Suatu hari, ketika kelas literasi digital sedang berlangsung, datanglah seorang mamak tuo yang disegani. Ia berdiri di pintu, memandangi anak-anak muda yang sibuk menatap layar. “Apakah ini yang kalian sebut belajar adat?” tanyanya pelan.

Suasana hening. Sari bangkit dan menunduk hormat.“Datuk,” katanya dengan lembut, “kami tak sedang melupakan adat. Kami sedang mencari cara baru untuk menulisnya, supaya anak cucu tak kehilangan jejak.”Datuk menatap layar di depan mereka, di mana terpampang naskah Tambo Lembah Pusako yang telah mereka salin. Di situ, nama-nama leluhur terpahat kembali, huruf demi huruf.

“Baiklah,” katanya akhirnya, “asal jangan sampai tambo itu kalian ubah maknanya. Adat itu seperti air dari hulu, boleh dialirkan, tapi jangan dikotorkan.” Raka tersenyum. “Itu janji kami, Datuk.”

Sejak hari itu, para mamak mulai datang bergiliran ke balai desa. Mereka menceritakan kisah lama — tentang perang di pinggir batang air, tentang surau yang dibangun di atas tanah sumbangan bersama, tentang perempuan-perempuan kuat yang menjaga sawah ketika lelaki pergi berperang. Sari dan murid-muridnya menulis semua itu, menatanya menjadi buku kecil berjudul Cerita dari Hulu Nagari.

Buku itu kemudian dibacakan dalam acara Malam Balai Baco, di mana anak-anak dan orang tua duduk bersila di bawah cahaya lentera. Talempong berdenting pelan, dan di sela-sela bunyinya terdengar suara Sari membacakan kisah seorang ibu yang menanam padi sambil berpantun kepada anaknya yang merantau.

Para ninik mamak tersenyum mendengar itu. Seorang datuk bahkan berkata, “Kalau begini caranya, adat bukan lagi cerita di kepala orang tua, tapi napas yang dihirup anak muda.”

Beberapa bulan kemudian, lembah pusako mendapat tamu dari kota: dosen-dosen, wartawan, dan pejabat yang ingin melihat “nagari digital beradat”. Tapi bagi orang kampung, tak ada yang luar biasa. Mereka tetap bekerja di sawah, tetap datang ke surau, hanya saja kini tangan mereka juga memegang ponsel yang menyimpan kisah tentang kampung sendiri.

Pada suatu senja, Raka duduk di tepi sawah bersama Datuk tetua. Air mengalir jernih di sela batu-batu yang telah diperbaiki bersama. Datuk menatap langit yang mulai merah.
“Anak muda,” katanya pelan, “rupanya benar juga katamu dulu. Air boleh mengalir, tapi jernih kalau sumbernya dijaga. Sekarang ambo lihat, adat dan kemajuan bukan lagi dua jalan yang bersilang.”
Raka menunduk hormat. “Kami belajar dari Datuk, bahwa menjaga akar bukan berarti berhenti tumbuh.”

Di kejauhan, terdengar suara anak-anak berlatih tari galombang di halaman balai. Musik talempong berpadu dengan gitar, suara lama dan baru berkejaran dalam irama yang sama.

Malam itu, ketika lentera-lentera kembali dinyalakan, Sari menatap Balai Adat yang kini penuh cahaya. “Lihat, Rak,” katanya pelan, “balai ini dulu tempat orang berdebat, kini jadi tempat orang belajar dan tertawa. Mungkin beginilah caranya nagari berdamai dengan waktu.”

Raka mengangguk. “Adat bukan untuk ditinggalkan, Sar. Ia untuk disertai berjalan.”

Di bawah cahaya bulan yang menimpa gonjong rumah gadang, dua generasi berdiri dalam satu lingkaran — mamak dan kemenakan, guru dan murid, tua dan muda. Mereka menari kecil, menepuk tangan, dan menertawakan hidup yang akhirnya bisa berjalan seiring.

Dari puncak bukit, lembah pusako tampak seperti bernafas lagi. Batang airnya berkilau, sawahnya subur, dan di tengahnya berdiri balai desa — tak hanya sebagai bangunan kayu, tapi sebagai hati nagari yang berdegup kembali.

Dan jika angin malam bertiup dari arah surau, terdengar suara yang seolah datang dari masa silam:

“Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah — bukan untuk membatasi, tapi untuk menuntun.”

Lembah pusako pun tetap hidup, menulis dirinya sendiri di antara zaman yang terus berjalan — dengan huruf-huruf kecil dari tangan anak nagari yang masih mencintai kampungnya.(DA)

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 28 kali

badge-check

Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

AKPERSI Sumatera Selatan Gelar Musdalub dan Pelantikan DPD-DPC 2026–2031, Perkuat Konsolidasi Pers Profesional

28 April 2026 - 23:25 WIB

Aroma Premanisme di Tubuh Dishub Halsel: Oknum Pegawai Diduga Intimidasi Warga, Kadishub Akui Pelaku “Pemain Lama”?

28 April 2026 - 20:05 WIB

Kepala Desa Jarang Ngantor Jadi Ancaman Serius Pembangunan

24 April 2026 - 22:13 WIB

Ekonomi Digital Desa: Koperasi Merah Putih Tembus Pasar Dunia

23 April 2026 - 09:32 WIB

Asa dari Kalaotoa: Saat Bupati Peluk Keluhan Warga

22 April 2026 - 10:54 WIB

Optimisme Petani Selayar: Jagung Bersemi, Kelapa Menanti Data

21 April 2026 - 18:24 WIB

Trending di RAGAM