Menu

Mode Gelap
Siasat Desa Paenre Lompoe Merajut Prioritas di Tengah Badai Efisiensi APBDes 2027: Strategi Desa Batang Kejar Target Desa Zero Stunting Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa

RAGAM · 14 Jan 2026 15:03 WIB ·

Jejak Sunyi di Lembah Pusako Episode 12: Jejak Warisan Leluhur


					Jejak Sunyi di Lembah Pusako  Episode 12: Jejak Warisan Leluhur Perbesar

 

Pagi itu lembah seperti berwudu dengan kabut. Tipis, dingin, dan hening—seakan alam sedang menyiapkan diri untuk sebuah pengakuan lama. Sari berdiri di tepi lereng, menatap hamparan hijau yang perlahan diselimuti putih. Di tangannya tergenggam sebuah buku catatan lusuh, berbau kertas tua dan ingatan. Di dalamnya tertulis nama-nama yang nyaris dilupakan zaman, potongan mantra, serta kisah rakyat yang ia kumpulkan dari para tetua—cerita yang hidup dari mulut ke mulut, bukan dari tinta ke tinta.

Di pondok bambu dekat balai desa, beberapa pemuda duduk bersila, jari mereka menari di atas papan ketik. Mereka mengetik ulang naskah-naskah lama, dengan wajah serius namun mata menyala.

“Jangan sekadar menyalin kisahnya,” ujar Sari lembut, seperti seorang ibu menasihati anaknya. “Tuliskan juga makna di baliknya. Sebab cerita tanpa makna hanyalah suara, bukan pelajaran.”

Dina, relawan muda itu, mengangguk. “Supaya anak-anak nanti mengenal sejarahnya sendiri. Tak perlu merantau hanya untuk tahu siapa dirinya.”

Sari tersenyum. Di hatinya terbit harap kecil: semoga akar yang lama terpendam itu kembali menemukan tanahnya.

Di sisi lain lembah, Raka berdiri di atas bukit kecil, memandang sungai yang berliku seperti doa panjang. Di tangannya ada selembar sketsa—jalur wisata yang ia rancang dengan hati-hati. Dari balai budaya, melewati kebun kopi tua yang batangnya mengeriput oleh usia, hingga berhenti di sebuah batu besar tempat legenda Putri Embun dipercaya bersemayam.

“Bayangkan,” katanya kepada kepala dusun yang mendampinginya, “setiap tempat akan punya pemandu dari warga sendiri. Wisatawan bukan hanya melihat, tapi ikut merasakan hidup—menenun, menumbuk padi, menari di bawah bulan purnama.”

Kepala dusun tersenyum, senyum orang yang lama memendam harap. “Kalau begitu, lembah ini bukan hanya dikenang, tapi bernapas kembali.”

Namun tidak semua yang bernafas itu tenang.

Di antara tumpukan naskah dari rumah Pak Ranu—penjaga nisan leluhur—Sari menemukan selembar kertas yang tak tercatat dalam daftar mana pun. Kuning, rapuh, dan nyaris tak terbaca. Namun satu kalimatnya masih berdiri tegak, seperti peringatan:

“Siapa yang membangkitkan kisah Sang Penjaga Kabut tanpa restu, akan membuka gerbang yang seharusnya tertutup.”

Jantung Sari berdegup. Angin sore menyapu lembah, membawa bau tanah basah dan daun gugur. Kabut di kejauhan tampak lebih tebal dari biasa, seolah sedang mengintai.

Malamnya, di beranda penginapan sederhana, lampu minyak berkelip tertiup angin. Sari membuka kembali naskah itu, menelusuri huruf-hurufnya dengan jari yang gemetar. Nama Sang Penjaga Kabut tak pernah ia dengar dalam kisah mana pun. Ia berniat bertanya pada Pak Ranu esok hari, namun ada bisikan halus di dadanya: jangan lanjutkan.

Rasa ingin tahu mengalahkan takut. Ia menulis di catatannya: Perlu dikaji. Mungkin kisah pelindung alam, atau peringatan yang dibungkus mitos.

Sementara itu, Raka menyusuri tepi sungai bersama para pemuda. Mereka mencari titik yang layak untuk jalur wisata air. Langit kelabu. Angin membawa aroma lumut yang lembap.

“Kabutnya pekat sejak dua hari ini,” ujar seorang pemuda. “Biasanya pertanda hujan besar.”

Raka mengangguk, meski hatinya gelisah. Kabut kali ini terasa berat—sunyi yang menelan suara burung, seakan alam menahan napas.

Keesokan harinya, Sari kembali ke rumah Pak Ranu. Lelaki tua itu menatapnya lama, seolah membaca isi dadanya.

“Jadi kau menemukannya,” katanya serak.

“Siapa Sang Penjaga Kabut itu, Pak?” tanya Sari lirih.

Pak Ranu menarik napas panjang. “Dulu, lembah ini sering dilanda bencana. Leluhur memohon perlindungan pada alam. Dari doa itulah lahir penjaga kabut—pelindung sekaligus peringatan. Ketika manusia lupa memberi restu, gerbang itu ditutup.”

Ia menatap Sari tajam. “Jika kabut turun tanpa hujan, ia sedang resah. Ada yang membangunkannya.”

Sari terdiam. Ia teringat malam ketika tanpa sadar membaca naskah itu keras-keras.

Hujan turun deras sepulangnya. Petir membelah langit. Dalam kilat sekejap, Sari melihat siluet tinggi di balik jendela—seperti manusia berdiri di tengah kabut—lalu lenyap.

Pagi berikutnya desa gempar. Sungai berubah keruh kehijauan. Seekor kerbau mati tanpa luka, dari tubuhnya tercium wangi dupa. Bisik-bisik pun merebak.

Raka menemui Sari di balai desa. “Kau tahu sesuatu?” Sari menunduk. “Aku membaca naskah itu. Mungkin aku telah melampaui batas.”

“Kita harus menenangkan lembah ini,” kata Raka. “Dengan doa, dengan restu para tetua.”

Kabut kembali turun, lebih tebal, menelan bunyi kehidupan. Sari memandangnya dengan hati bergetar. Ia kini mengerti: ini bukan sekadar cerita lama yang terbangun, melainkan jejak warisan leluhur—yang menuntut dihormati, sebelum alam menagihnya dengan cara sendiri.(DA)

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 45 kali

badge-check

Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Tegaskan Bebas Tendensi Politik, LSM KANe Malut Buka Suara Soal Monitoring BLT dan Legalitas Organisasi

8 September 2026 - 06:13 WIB

LSM Tantang Inspektorat Halsel Audit Dana Desa Sengga Baru

4 September 2026 - 22:43 WIB

Jurus Baru 20 Desa Wisata Sumbar Pikat Dunia

3 September 2026 - 05:12 WIB

Warga Desa Marikapal Sambut Harapan Baru Terang Listrik PLN dan Penataan Infrastruktur

2 September 2026 - 09:43 WIB

DKP Banggai dan LAUTRA Sulteng Matangkan Jadwal Musdes Sosialisasi

27 Agustus 2026 - 13:45 WIB

Dari Voucher Seharga 10 ribu, Yogi Berakhir di Balik Jeruji

27 Agustus 2026 - 11:11 WIB

Trending di RAGAM