SRAGEN [DESA MERDEKA] — Di tengah deretan mobil mengilat dan hiruk-pikuk pengunjung Government Auto Show (GAS) Sragen 2026 di Gedung Sasana Manggala Sukowati (SMS), sebuah benda putih kecil berbentuk kotak duduk tenang di sudut stan Samsat Budiman.
Sekilas, benda itu tak mencuri perhatian. Namun, ketika lampu indikator di bagian depannya berkedip ritmis, barulah para pengunjung sadar: kotak kecil itulah “jantung” yang menggerakkan seluruh sistem layanan fiskal digital di sana. Benda itu adalah perangkat Internet Rakyat (IRA).
Kehadiran teknologi nirkabel ini menegaskan bahwa transformasi pelayanan publik di Kabupaten Sragen pada usianya yang ke-280, tidak lagi hanya mengandalkan pendekatan konvensional, melainkan sudah beralih ke arah kedaulatan digital berbasis komunitas.
Urgensi IRA: Urat Nadi Layanan Samsat Budiman
Samsat Budiman (Samsat Badan Usaha Digital Mandiri) yang digagas UPPD Sragen bersama BUMDesa, membutuhkan satu syarat mutlak agar bisa beroperasi tanpa hambatan: koneksi internet yang stabil dan aman. Di sinilah Internet Rakyat (IRA) mengambil peran krusial.
Sekretaris Forum BUMDes Indonesia Kabupaten Sragen, Ady, mengungkapkan bahwa penempatan perangkat ini di area pameran GAS 2026 didesain untuk menjamin kelancaran transaksi pajak kendaraan bermotor pengunjung.
“Perangkat dari Internet Rakyat itu memang ditaruh di sini untuk memperlancar pelayanan Samsat Budiman dalam pembayaran pajak kendaraan. Keberadaannya sangat membantu aktivitas teman-teman Samsat Budiman dan juga pemakai lainnya di lokasi acara,” jelas Ady.
Selama ini, asumsi publik menilai bahwa pelayanan digital di lapangan cukup ditopang oleh jaringan seluler sekadarnya melalui ponsel pintar (tethering). Namun, untuk sistem keuangan sekuritas tinggi seperti pembayaran Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) dan Opsen Pajak, jaringan seluler biasa sering kali tidak stabil di area padat pengunjung.
“Saya kira pakai HP sebagai jaringan internetnya, ternyata malah pakai IRA,” ungkap Desta, salah satu pengunjung pameran yang menyadari adanya jaringan WiFi atas nama Forum BUMDes Indonesia di lokasi.
Masyarakat mungkin datang untuk melihat mobil baru, membeli rumah, atau menikmati kuliner olahan ikan. Namun, di balik kemudahan mereka membayar pajak secara instan di lokasi acara, ada orkestrasi teknologi “tak terlihat” yang digawangi oleh Internet Rakyat dan Forum BUMDes Indonesia Kabupaten Sragen.
Dari Layanan Publik Menuju Peluang Bisnis BUMDesa
Bagi Forum BUMDes Indonesia Kabupaten Sragen, membawa brand IRA ke permukaan dalam momentum Hari Jadi Sragen ke-280 ini adalah langkah penetrasi pasar yang cerdas. IRA tidak sekadar berfungsi sebagai infrastruktur pendukung pameran, melainkan bisa diproyeksikan sebagai unit usaha baru bagi BUMDesa di seluruh Sragen.
Potensi Ekonomi IRA bagi BUMDesa
Integrasi Internet Rakyat (IRA) dengan BUMDesa menciptakan efek ekonomi ganda (double-loop effect) yang menguntungkan ekosistem pedesaan:
Penyedia Jaringan Desa: BUMDesa dapat bertindak sebagai agen atau penyedia internet murah bagi warga desa yang selama ini belum terjangkau provider besar (blank spot).
Kemandirian Pendapatan Desa: Keuntungan dari pengelolaan WiFi IRA akan masuk sebagai Pendapatan Asli Desa (PADes), yang bisa diputar kembali untuk pembangunan infrastruktur desa.
Langkah taktis UPPD Sragen dan Forum BUMDes Indonesia Kabupaten Sragen ini patut diapresiasi. Mereka tidak hanya menyelesaikan masalah hilir (pembayaran pajak yang dekat melalui Samsat Budiman), tetapi juga menyelesaikan masalah hulu (ketersediaan jaringan internet melalui IRA). Jika infrastruktur benda putih kecil ini sukses direplikasi di seluruh wilayah Kabupaten Sragen, maka digitalisasi daerah bukan lagi sekadar jargon politik, melainkan sebuah kedaulatan ekonomi baru dari desa.

Jurnalis
NIM : JT 2207-0007


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.