Boyolali, Jawa Tengah [DESA MERDEKA] – Di tengah ambisi besar menuju Indonesia Emas 2045, sebuah narasi baru muncul dari Pendopo Gedhe, Boyolali. Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, menegaskan bahwa desa bukan lagi sekadar wilayah administratif, melainkan “ujung tombak” pembangunan nasional yang memiliki “personalitas” atau potensi unik yang tidak boleh diseragamkan.
Dalam Lokakarya Desa Berprestasi pada peringatan Hari Desa Nasional, Rabu (14/1/2026), Luthfi membedah anatomi Jawa Tengah yang memiliki 7.810 desa—jumlah terbanyak di Indonesia. Pesan intinya jelas: setiap desa harus tumbuh dengan wajahnya sendiri, baik itu sebagai pusat pangan, destinasi wisata, maupun mandiri energi.
Anatomi Potensi: Dari Padi hingga Energi Mandiri
Strategi pengembangan desa di Jawa Tengah kini berbasis pada spesialisasi. Luthfi memaparkan data yang impresif mengenai pemetaan wilayahnya. Saat ini, terdapat 334 desa lumbung pangan yang fokus pada sentra padi di 16 kabupaten. Di sisi lain, sentra jagung yang tersebar di 449 desa mampu memproduksi hingga 3,69 juta ton pada tahun 2025.
Tak hanya pangan, Jawa Tengah juga memimpin dalam transisi hijau melalui Desa Mandiri Energi (DME). Tercatat ada 2.331 desa yang telah memulai inisiatif ini, dengan 28 desa di antaranya sudah masuk kategori mapan. “Semua desa itu beda-beda. Ada yang kuat di kearifan lokal, ada yang di produk unggulan. Inilah yang harus kita asah,” ujar Luthfi.
Strategi “Keroyok Rame-Rame” Lawan Kemiskinan
Sudut pandang menarik lainnya adalah konsep interkoneksi dalam menekan angka kemiskinan. Luthfi menegaskan bahwa kemiskinan adalah musuh bersama yang tidak bisa dilawan secara parsial. Ia memperkenalkan filosofi “keroyok rame-rame”, di mana Pemerintah Provinsi, Pemerintah Daerah, hingga Kementerian harus terintegrasi untuk memberikan bantuan keuangan dan penguatan BUMDes secara masif.
Senada dengan hal tersebut, Dirjen Bina Pemerintahan Desa, La Ode Ahmad P. Bolombo, menambahkan sebuah konsep segar tentang “Happy Village”. Mengingat Jawa Tengah adalah destinasi utama mudik nasional, desa harus mampu menangkap peluang ekonomi dari para perantau dengan menciptakan ekosistem desa yang membahagiakan dan produktif.
Jika setiap kepala desa mampu menjaga jalurnya (on the track) dan mengembangkan potensi spesifiknya, maka kesejahteraan masyarakat bukan lagi sekadar angka statistik, melainkan kenyataan yang dirasakan langsung di tingkat akar rumput.
Redaksi Desa Merdeka


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.