Oleh: Rochendry
Dalam kehidupan yang serba cepat dan penuh distraksi ini, manusia kerap kehilangan orientasi: siapa sebenarnya dirinya, dari mana ia berasal, dan ke mana ia akan kembali. Di tengah derasnya arus modernitas, pertanyaan klasik namun mendalam ini terus mengemuka: Apakah hakikat diri kita yang sejati?
Pertanyaan ini bukan sekadar spekulasi filosofis. Ia adalah panggilan batin yang muncul dari kedalaman eksistensi manusia, ketika topeng-topeng dunia tak lagi memberi makna. Ia adalah bisikan ruhani yang menuntun kita kembali ke asal: kepada Allah.
Diri Sejati Bukan Ego, Tapi Ruh
Dalam perspektif Islam, manusia adalah makhluk yang dimuliakan karena ruh yang ditiupkan oleh Allah. Firman-Nya:
“Kemudian Aku tiupkan ke dalamnya ruh-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud.”
(QS. Al-Hijr: 29)
Ayat ini mengisyaratkan bahwa hakikat terdalam manusia bukan pada jasadnya, bukan pada akalnya semata, melainkan pada ruh_entitas suci yang bersumber dari Allah. Ruh inilah yang menjadi titik mula dari kesadaran spiritual. Ia bukan milik dunia, dan karena itu tidak akan pernah bisa dipuaskan oleh dunia.
Jiwa manusia, ketika jauh dari ruh dan Tuhan-nya, akan hampa. Sebaliknya, ketika dekat kepada-Nya, ia akan menemukan ketenteraman:
“Ketahuilah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”
(QS. Ar-Ra’d: 28)
Diri Sejati dalam Pandangan Psikologi dan Tasawuf
Psikologi modern mengenal istilah aktualisasi diri sebagai puncak perkembangan kepribadian. Namun dalam khazanah tasawuf Islam, kesempurnaan diri tidak cukup berhenti pada ego yang stabil, tetapi pada pelenyapan ego itu sendiri (fana) demi mengenali Wujud Mutlak: Allah .
Imam Jalaluddin Rumi menggambarkan hal ini secara puitis:
“Aku mati sebagai mineral dan menjadi tumbuhan. Aku mati sebagai tumbuhan dan menjadi hewan. Aku mati sebagai hewan dan menjadi manusia. Maka mengapa aku harus takut kehilangan manusia? Aku akan mati sebagai manusia dan terlahir sebagai malaikat.”
Kematian di sini adalah simbolik — pelepasan dari lapisan-lapisan identitas palsu menuju puncak eksistensi ruhani: penyaksian kehadiran Allah dalam seluruh wujud.
Ibnu ‘Arabi, sang Syaikhul Akbar, menyatakan:
“Tiada dalam wujud ini kecuali Wujud Allah.”
Dengan kata lain, diri sejati manusia hanya akan terungkap saat ia menyadari bahwa seluruh keberadaan ini adalah manifestasi dari Kehendak dan Cahaya Ilahi.
Pandangan yang Diberkahi dan Pandangan yang Sia-sia
Dalam karya hikmah sufistik Al-Hikam karya Ibnu Athaillah as-Sakandari terdapat satu ungkapan mendalam:
“Jika engkau memandang sesuatu dan melihat Allah di dalamnya, maka terberkatilah pandanganmu. Namun jika engkau melihat sesuatu dan tidak melihat Allah di dalamnya, maka sia-sialah pandanganmu.”
Pandangan lahiriah bisa saja menangkap bentuk, nama, dan citra. Namun pandangan ruhani, pandangan batin yang tercerahkan, menangkap makna dan kehadiran-Nya. Di sinilah letak kemuliaan jiwa: bukan pada apa yang ia miliki, tetapi pada apa yang ia saksikan dalam keheningan batin.
Kembali ke Fitrah: Jalan Pulang ke Diri Sejati
Rasulullah bersabda:
“Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah…”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Fitrah adalah kemurnian spiritual, kemampuan batiniah manusia untuk mengenal Tuhan tanpa perantara. Namun seiring perjalanan hidup, fitrah ini tertutup oleh nafsu, ambisi, trauma, dan kebisingan dunia. Jalan menuju hakikat diri adalah jalan tazkiyah — pensucian jiwa dari segala hal yang menghalangi cahaya Allah.
Ketika seseorang kembali kepada fitrahnya, maka ia akan sampai pada satu kesadaran: bahwa seluruh hidup adalah perjalanan pulang. Dan rumah sejati bukanlah di dunia, melainkan di sisi Allah .
Penutup: Menjadi Diri dalam Cahaya Ilahi
Hakikat diri sejati bukan tentang menjadi siapa, tapi tentang menyadari siapa yang memilikimu. Ia bukan soal pencapaian lahir, melainkan tentang kejernihan batin. Ketika seseorang mampu melihat Allah dalam setiap kejadian, dalam setiap ciptaan, bahkan dalam dirinya sendiri—maka ia telah menemukan yang hakiki.
Sebaliknya, siapa yang hidup dalam kepalsuan ego dan tidak pernah menyaksikan kehadiran Allah dalam hidupnya, maka sejatinya ia sedang menjauh dari asal-usulnya.
Maka mari kita kembali, menyepi dari hiruk pikuk yang menipu, dan menyelam ke dalam batin yang paling dalam. Sebab di sanalah, hakikat diri yang sebenarnya menanti untuk disingkap: ruh yang bersujud dalam cahaya-Nya.

“Ketika kamu merasa sendiri dan tak ada yang peduli, ingatlah bahwa ada seseorang di luar sana yang begitu ingin memiliki hidup yang kamu jalani.”


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.