Menu

Mode Gelap
Siasat Desa Paenre Lompoe Merajut Prioritas di Tengah Badai Efisiensi APBDes 2027: Strategi Desa Batang Kejar Target Desa Zero Stunting Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa

LINGKUNGAN · 1 Mar 2025 15:16 WIB ·

Jalan Selur-Ngrayun Ambles: Alarm Bencana yang Terabaikan Dua Tahun


					Jalan Selur-Ngrayun Ambles: Alarm Bencana yang Terabaikan Dua Tahun Perbesar

Ponorogo, Jawa Timur [DESA MERDEKA] Kerusakan parah yang memutus kenyamanan akses jalan protokol penghubung Desa Selur dan Desa Ngrayun, Kabupaten Ponorogo, menjadi bukti nyata betapa mahalnya harga sebuah pengabaian. Jalan milik pemerintah daerah ini ambles sedalam 70 sentimeter pada Rabu (26/2/2025) setelah diguyur hujan deras. Ironisnya, retakan awal di lokasi tersebut sebenarnya sudah menampakkan diri sejak dua tahun lalu, namun hanya dianggap angin lalu karena dinilai tidak bergerak signifikan.

Kini, retakan yang sempat dianggap remeh itu berubah menjadi “mulut” tanah yang menganga sepanjang 30 meter. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Ponorogo mengonfirmasi bahwa pergerakan tanah di kawasan lereng tersebut telah mencapai tahap yang mengkhawatirkan dan mengancam mobilitas warga di Kecamatan Ngrayun.

Ancaman dari Bawah dan Atas
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Ponorogo, Agung Prasetya, menjelaskan bahwa kondisi di lapangan menunjukkan adanya risiko bencana susulan yang jauh lebih besar. Berdasarkan kajian cepat, ditemukan mahkota gerakan tanah yang berpotensi memicu longsor lanjutan jika intensitas hujan tidak menurun.

“Tanah gerak mengakibatkan bahu jalan ambles dengan kedalaman variatif antara 50 hingga 70 sentimeter. Masalahnya bukan hanya di atas, tapi sekitar 100 meter di bawah lokasi kejadian terdapat aliran air bercampur lumpur yang sangat labil,” ungkap Agung.

Fenomena ini kian diperparah dengan mulai tumbangnya pepohonan di titik terbawah, yang menandakan fondasi tanah benar-benar telah jenuh air dan kehilangan daya ikat. Agung menegaskan bahwa kajian mendalam sangat diperlukan untuk memetakan arah pergerakan tanah agar pemukiman di sekitar area tersebut tidak menjadi korban berikutnya.

Edukasi dari Sebuah Retakan
Pemerintah Desa Selur mengakui bahwa tanda-tanda kerusakan sebenarnya sudah terlihat sejak lama. Namun, perspektif masyarakat yang cenderung baru bertindak saat bencana besar terjadi, membuat peringatan dini dari alam tersebut terabaikan. Hal ini menjadi pelajaran berharga bagi warga di daerah rawan longsor lainnya di Ponorogo: alam tidak pernah berbohong melalui retakan sekecil apa pun.

Meski kondisi jalan sangat berbahaya, akses protokol ini terpantau masih dibuka oleh warga demi menyambung urat nadi ekonomi antar-desa. Sebagai langkah darurat, BPBD dan relawan setempat telah memasang rambu peringatan di titik-titik ambles.

Warga yang melintas diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan berkali-kali lipat, terutama saat cuaca mendung atau hujan turun. Akses jalan ini bisa ditutup sewaktu-waktu jika pergerakan tanah kembali terdeteksi meningkat guna menghindari jatuhnya korban jiwa.

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 57 kali

badge-check

Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Dari Sampah Menjadi Berkah di Akar Rumput Singosari

24 Juli 2026 - 07:32 WIB

Camat Singosari menerima penghargaan Kecamatan Inovatif pada Innovative Government Award (IGA) Kabupaten Malang 2026 melalui inovasi Sanggar Lingkungan Singosari.

Puting Beliung Terjang Talun Rejo, Warga Menanti Bantuan Pemerintah

5 Juli 2026 - 20:33 WIB

Bumi Butuh Healing: Warga Batu Busuak Belajar Rawat Tanah

25 Juni 2026 - 05:31 WIB

Darurat Sampah: Desa di Pati Wajib Miliki Perdes Kebersihan

18 Juni 2026 - 06:08 WIB

Kolaborasi Anambas Foundation Ubah Wajah Lingkungan Kuala Maras

8 Juni 2026 - 13:19 WIB

Ancaman Agraria dan Bencana Ekologis Desa di Banjarnegara

26 Mei 2026 - 13:07 WIB

Trending di LINGKUNGAN