Menu ✖

Mode Gelap
Siasat Desa Paenre Lompoe Merajut Prioritas di Tengah Badai Efisiensi APBDes 2027: Strategi Desa Batang Kejar Target Desa Zero Stunting Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa

SOSBUD · 4 Jul 2024 18:28 WIB ·

Jaga Adat Nagari, Pemuda Solok Bentengi Diri Lewat Randai


					Jaga Adat Nagari, Pemuda Solok Bentengi Diri Lewat Randai Perbesar

Solok, Sumatera Barat [DESA MERDEKA] – Di tengah kepungan kultur modern digital, pemuda di Jorong Lurah Nan Tigo, Nagari Salayo, Kecamatan Kubung, Kabupaten Solok, memilih jalan sunyi untuk menjaga identitas mereka. Melalui sanggar seni, mereka menghidupkan kembali pidato pasambahan dan kesenian randai sebagai tameng kultural agar tidak hanyut ditelan zaman.

Langkah taktis akar rumput ini tercermin dalam acara silaturahmi budaya bertajuk “Siriah Pulang ka Pitunggua” yang digelar pada Rabu (3/7/2024). Agenda ini bukan sekadar seremonial pamer ketangkasan adat, melainkan strategi kolektif masyarakat untuk merajut kembali tali persaudaraan (badunsanak) antarnagari.

“Ini bukan ajang pamer kepandaian, tetapi upaya murni melestarikan tradisi dan memperluas jaringan persaudaraan,” ujar pengurus Sanggar Siriah Pulang ka Pitunggua, Dt Palawan Sati.

Gerakan lokal ini juga menarik simpati lintas wilayah. Kelompok pasambahan dari Nagari Gauang, serta perwakilan Lega Carano dan Tigo Sapilin dari Nagari Supayang turut hadir melebur dalam ruang komunal yang sama.

Diplomasi Rebung Melalui Seni Randai
Strategi sanggar ini terbilang cerdik dalam menyasar generasi z. Alih-alih menceramahi pemuda dengan teks adat yang kaku, mereka menggunakan randai sebagai media edukasi. Pertunjukan teater rakyat ini menyisipkan cerita rakyat penuh pesan moral, nilai kehidupan, dan hukum adat secara visual yang interaktif. Dengan melibatkan anak-anak muda secara aktif dalam latihan dan panggung pertunjukan, proses regenerasi berjalan secara organik tanpa paksaan.

Aksi nyata pelestarian adat salingka nagari dari tingkat jorong ini mendapat apresiasi resmi dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Solok. Pamong Budaya Wirasto SH, yang hadir memantau kegiatan, bahkan memberikan piagam penghargaan khusus bagi para pelaku seni yang konsisten bergerak di jalur kebudayaan ini.

Wirasto mengingatkan bahwa tantangan terbesar desa hari ini adalah silau terhadap budaya luar yang dianggap lebih keren, namun melupakan fondasi sendiri.

“Rancak kilek loyang urang, jan lupo dek kilau ameh (sebagus apa pun kilau kuningan orang lain, jangan sampai lupa dengan kilau emas milik sendiri),” tutur Wirasto memperingatkan.

Melalui sinergi seni pertunjukan dan pidato adat ini, Nagari Salayo membuktikan bahwa pembangunan komunitas desa yang tangguh tidak selalu berbicara tentang semen dan beton, melainkan tentang bagaimana menjaga esensi manusia dan budayanya tetap hidup melintasi zaman.

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 215 kali

badge-check

Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Layanan Kesehatan Gratis KAI Dekatkan Medis Warga Bumiayu

16 September 2026 - 12:21 WIB

Air Kembali Mengalir, LPPM UNEJ dan PATPI Ringankan Beban Perempuan Desa Tadho

8 September 2026 - 08:53 WIB

Perempuan Desa Tado

Duka Pantai Selatan: Lelah Pamong Desa Menjaga Asa

5 September 2026 - 20:29 WIB

Lautan Cahaya Lilin Sambut Bunda Maria di Malaka

2 September 2026 - 22:47 WIB

Bukan Sekadar Sertifikat: Denyut Budaya Sumbar Ada di Tangan Masyarakat

29 Agustus 2026 - 16:46 WIB

Jangan Tangkap Ikan Kecil, Bongkar Bandar Togel Papua!

29 Agustus 2026 - 10:31 WIB

Trending di SOSBUD