Opini [DESA MERDEKA] Richa Rachmawati Afag, S.Ak., M.Sc., Dosen Politani Negeri Samarinda
Sepanjang tahun 2025, dimulai dari bulan Juni tren IHSG cenderung mengalami kenaikan (bullish). Level IHSG menguat 22.13% ke angka ke 8646 dan mencetak rekor all time high sebanyak 24 kali sepanjang tahun 2025. Hal ini menjadi euphoria tersendiri bagi para investor karena fase tren yang bullish memberikan kesempatan bagi investor untuk meraih keuntungan. Momentum kenaikan IHSG juga dimanfaatkan oleh investor saham pemula. Hal ini yang mendorong lonjakan investor ritel di pasar modal Indonesia. Berdasarkan siaran pers Bursa Efek Indonesia (BEI), hingga akhir Oktober 2025 jumlah investor pasar modal Indonesia tercatat mencapai 19.154.487 Single Investor Identification (SID). Dari total tersebut, investor baru sepanjang tahun 2025 mencapai 4.282.848 SID, atau tumbuh 58,4% dibandingkan penambahan 2.703.578 investor baru pada tahun 2024. Investor baru tersebut ialah investor ritel.
Menurut Otoritas Jasa Keuangan, investor ritel adalah pemodal individu yang berpartisipasi di pasar modal. Dari segi modal yang diinvestasikan, investor ritel memiliki modal yang lebih sedikit dibandingkan investor institusi (smart money). Berdasarkan data PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), komposisi investor keseluruhan yaitu investor ritel berusia di bawah 30 tahun menjadi kelompok terbesar dengan proporsi 54,23% dari total investor di Indonesia. Kelompok usia 31–40 tahun menyumbang 24,88%, diikuti usia 41–50 tahun sebesar 12,31%. Sementara itu, investor berusia 51–60 tahun tercatat sebesar 5,69%, dan kelompok usia di atas 60 tahun hanya mencapai 2,89% dari keseluruhan investor.
Kenaikan lonjakan investor baru ini ditandai dengan terbukanya informasi terkait dunia investasi yang disampaikan melalui konten-konten finansial influencer. Hal ini mendorong minat investasi yang tinggi pada investor-investor baru yang dibarengi dengan tren IHSG yang bullish. Menurut Rasheed et al. (2018), investor cenderung membeli saham ketika indeks pasar saham sedang naik. Momentum kenaikan IHSG ini harus dibarengi dengan pengetahuan yang memadai terkait investasi saham.

Gejolak tren investor baru ini dikhawatirkan termasuk dalam kategori investor musiman atau dalam bahasa kasual disebut investor FOMO (Fear of Missing Out), akibat khawatir atas kehilangan momentum IHSG yang sedang bullish. Berdasarkan kondisi tersebut, diharapkan para investor tidak FOMO dan mengerti analisa yang tepat terhadap saham. Apabila investor memiliki sifat FOMO, mereka cenderung untuk entry pada suatu saham tanpa melakukan analisa yag tepat dan berdampak pada salah mengambil keputusan entry, sehingga dapat menimbulkan kerugian bagi investor itu sendiri. Sebagai contoh, jika investor takut tertinggal momentum, investor tersebut membeli suatu saham/entry saham saat sudah mencapai harga tertinggi, lalu dalam jangka waktu yang singkat, harga saham mengalami penurunan karena smart money sedang melakukan distribusi atau penjualan saham. Selain itu, investor ritel yang FOMO dapat terjebak pada transaksi saham yang harga dan volumenya telah dimanipulasi oleh pihak tertentu atau sering disebut sebagai saham “gorengan”. Hal ini ditandai dengan keputusan membeli saham pada perusahaan yang memiliki kinerja keuangan tidak baik, di mana salah satu ciri-cirinya adalah kapitalisasi pasar yang kecil serta likuiditas yang rendah.
Sebagai bentuk pencegahan dan pemberian edukasi, Bursa Efek Indonesia (BEI) telah banyak melakukan upaya untuk menyebarluaskan informasi kepada para investor muda maupun para investor yang sudah berpengalaman. Beberapa upaya yang dilaksanakan antara lain bekerja sama dengan universitas untuk membuka galeri BEI, bekerja sama dengan komunitas investor, serta membuat inkubator influencer keuangan agar memberikan pengetahuan terkait pentingnya pemahaman terhadap investasi saham di pasar modal Indonesia. Meskipun demikian, BEI seharusnya memiliki tugas penting dalam menyikapi isu-isu FOMO tersebut yakni menyelesaikan persoalan saham “gorengan”. Apabila saham “gorengan” tersebut tidak ditindak secara tegas, maka investor ritel yang minim analisa dan tidak mengerti pengetahuan terkait informasi fundamental perusahaan akan menjadi korban kerugian. Hal ini akan menimbulkan dampak krisis kepercayaan investor-investor pemula ataupun muda terhadap iklim investasi saham di pasar modal Indonesia.
Daftar Referensi:
Bursa Efek Indonesia (2025, November 6).19 Juta Investor Pasar Modal dan 8 Juta Investor Saham Tercapai di Penutupan Bulan Inklusi Keuangan 2025. Dapat diakses melalui: https://www.idx.co.id/id/berita/siaran-pers/2488
Bisnis.com (2025, Desember 30). OJK Catat Investor Pasar Modal Tembus 20,2 Juta SID per Desember 2025. Dapat diakses melalui: https://market.bisnis.com/read/20251230/7/1940508/ojk-catat-investor-pasar-modal-tembus-202-juta-sid-per-desember-2025
Rasheed, M. H., Rafique, A., Zahid, T., & Akhtar, M. W. (2018). Factors influencing investor’s decision making in Pakistan: Moderating the role of locus of control. Review of Behavioral Finance, 10(1), 70-87.



















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.