Pasuruan, Jawa Timur [DESA MERDEKA] – Di tengah gempuran kafe estetik yang menjual kemewahan visual, sebuah kedai di Desa Cowek, Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Pasuruan, justru melakukan “pembangkangan” budaya. Bernama Griya Sarinah, tempat ini menolak menjadi sekadar ruang komersial dan memilih bertransformasi menjadi laboratorium kesetaraan kelas melalui secangkir kopi.
Baru dibuka pada Desember 2025, Griya Sarinah mengusung filosofi yang dalam. Nama “Griya” berarti rumah, sementara “Sarinah”—terinspirasi dari sosok pengasuh Bung Karno—menjadi simbol perlawanan terhadap sekat status sosial. Di sini, tidak ada hierarki; semua pengunjung adalah subjek yang setara untuk belajar dan berdiskusi.

Paradoks Desa dengan Jangkauan Global
Meskipun lokasinya tersembunyi di pelosok desa, Griya Sarinah justru menjadi magnet bagi pengunjung dari berbagai daerah, bahkan turis mancanegara. Keunikan kedai ini terletak pada atmosfernya yang memaksa orang untuk kembali ke akar budaya ngopi Indonesia: mengobrol.
Inisiatornya adalah Abdul Khafid (24), mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga. Ia merancang ruang ini agar tidak ada jarak antara pemilik dan pelanggan. Khafid sering kali duduk satu meja dengan pengunjung untuk membedah isu sosial, politik, hingga keresahan hidup sehari-hari.
“Sarinah adalah simbol bahwa ruang publik harus ramah untuk semua kalangan. Di sini tidak ada yang lebih tinggi atau lebih rendah,” ujar Khafid.

Melawan Budaya Layar dan Individualisme
Griya Sarinah secara sadar menyediakan rak buku dan ruang diskusi terbuka untuk mengikis budaya “nongkrong individualis” yang biasanya sibuk dengan gawai masing-masing. Interiornya sederhana, dengan meja kayu dan kursi tak seragam, menciptakan suasana ruang keluarga yang hangat ketimbang kafe komersial yang kaku.
Tempat ini membuktikan satu hal: ruang untuk bertumbuh tidak harus lahir di kota besar. Melalui Griya Sarinah, Khafid menunjukkan bahwa kesetaraan dan literasi bisa dimulai dari meja kayu di sebuah sudut desa. Di sini, ngopi bukan soal gengsi kelas, melainkan tentang koneksi antarmanusia.
Redaksi Desa Merdeka


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.