Menu

Mode Gelap
APBDes 2027: Strategi Desa Batang Kejar Target Desa Zero Stunting Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa Bantah Isu Kontraktor LPJ, PMD Kolaka Utara Siapkan Klinik Desa

RAGAM · 9 Feb 2026 05:51 WIB ·

Griya Sarinah Pasuruan: Saat Ngopi Kembali Menjadi Manusia


					Griya Sarinah tampak depan (Image courtesy : Afthon Magang) Perbesar

Griya Sarinah tampak depan (Image courtesy : Afthon Magang)

Pasuruan, Jawa Timur [DESA MERDEKA] Di tengah gempuran kafe estetik yang menjual kemewahan visual, sebuah kedai di Desa Cowek, Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Pasuruan, justru melakukan “pembangkangan” budaya. Bernama Griya Sarinah, tempat ini menolak menjadi sekadar ruang komersial dan memilih bertransformasi menjadi laboratorium kesetaraan kelas melalui secangkir kopi.

Baru dibuka pada Desember 2025, Griya Sarinah mengusung filosofi yang dalam. Nama “Griya” berarti rumah, sementara “Sarinah”—terinspirasi dari sosok pengasuh Bung Karno—menjadi simbol perlawanan terhadap sekat status sosial. Di sini, tidak ada hierarki; semua pengunjung adalah subjek yang setara untuk belajar dan berdiskusi.

Kegiatan belajar di Griya Sarinah (Image courtesy: Afthon Magang)

Paradoks Desa dengan Jangkauan Global
Meskipun lokasinya tersembunyi di pelosok desa, Griya Sarinah justru menjadi magnet bagi pengunjung dari berbagai daerah, bahkan turis mancanegara. Keunikan kedai ini terletak pada atmosfernya yang memaksa orang untuk kembali ke akar budaya ngopi Indonesia: mengobrol.

Inisiatornya adalah Abdul Khafid (24), mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga. Ia merancang ruang ini agar tidak ada jarak antara pemilik dan pelanggan. Khafid sering kali duduk satu meja dengan pengunjung untuk membedah isu sosial, politik, hingga keresahan hidup sehari-hari.

“Sarinah adalah simbol bahwa ruang publik harus ramah untuk semua kalangan. Di sini tidak ada yang lebih tinggi atau lebih rendah,” ujar Khafid.

Griya Sarinah tampak dalam (Image courtesy : Afthon Magang)

Melawan Budaya Layar dan Individualisme
Griya Sarinah secara sadar menyediakan rak buku dan ruang diskusi terbuka untuk mengikis budaya “nongkrong individualis” yang biasanya sibuk dengan gawai masing-masing. Interiornya sederhana, dengan meja kayu dan kursi tak seragam, menciptakan suasana ruang keluarga yang hangat ketimbang kafe komersial yang kaku.

Tempat ini membuktikan satu hal: ruang untuk bertumbuh tidak harus lahir di kota besar. Melalui Griya Sarinah, Khafid menunjukkan bahwa kesetaraan dan literasi bisa dimulai dari meja kayu di sebuah sudut desa. Di sini, ngopi bukan soal gengsi kelas, melainkan tentang koneksi antarmanusia.

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 57 kali

badge-check

Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Ketua Golkar Kabupaten Bekasi Bagikan Ratusan Paket Daging Kurban Warga

28 Mei 2026 - 18:25 WIB

Gotong Royong 16 Sapi Kurban Masjid Darul Huda

28 Mei 2026 - 16:31 WIB

Sapi Kurban Terbesar Lambo di Pedalaman Pasaman

28 Mei 2026 - 14:28 WIB

Spirit Idul Adha Sumbar: Kurban Ramah Lingkungan untuk Desa

27 Mei 2026 - 21:02 WIB

Siasat Ekonomi Pascatambang Desa Kalimantan Timur Lepas dari Batu Bara

27 Mei 2026 - 14:06 WIB

Perjuangan Energi dan Janji Listrik Nagari Sungai Lolo

27 Mei 2026 - 10:24 WIB

Trending di RAGAM