Menu

Mode Gelap
APBDes 2027: Strategi Desa Batang Kejar Target Desa Zero Stunting Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa Bantah Isu Kontraktor LPJ, PMD Kolaka Utara Siapkan Klinik Desa

JALAN JAJAN · 18 Sep 2025 01:12 WIB ·

Festival Payung: Dari Kerajinan Desa Menuju Panggung Asia


					Festival Payung: Dari Kerajinan Desa Menuju Panggung Asia Perbesar

Solo, Jawa Tengah [DESA MERDEKA] Apa yang bermula dari tangan-tangan terampil perajin di pelosok Tasikmalaya, Bali, dan Solo kini telah menjelma menjadi festival payung terbesar di Asia. Festival Payung Indonesia (FESPIN), yang baru saja merayakan satu dekade perjalanannya, sukses membuktikan bahwa benda sederhana dari keseharian desa mampu menjadi simbol diplomasi budaya dan penggerak ekonomi kreatif nasional.

Masuk dalam deretan Top 10 Kharisma Event Nusantara 2025, FESPIN kini bukan sekadar pameran visual. Sejak debutnya di Taman Balekambang pada 2014, ajang ini telah menjadi ruang pemberdayaan bagi UMKM perajin tradisional untuk bersanding dengan seniman kontemporer dan partisipan internasional dari Thailand hingga Jepang.

Filosofi Perlindungan dari Akar Rumput
Heru Prasetya, Direktur Mataya Art Foundation, menyebut payung sebagai metafora sempurna untuk persaudaraan. Meski tampak sederhana, payung menyimpan filosofi perlindungan yang melingkupi banyak orang. Nilai inilah yang dibawa FESPIN saat menjelajahi lokasi bersejarah, mulai dari Pura Mangkunegaran hingga kemegahan Borobudur dan Prambanan, untuk menyuarakan harmoni sosial.

Keberhasilan FESPIN juga terletak pada ketangguhannya. Saat pandemi 2020 menghantam, festival ini tidak mati suri, melainkan bertransformasi ke platform digital. Semangat gotong royong ini menjadi modal penting bagi para pelaku seni dan perajin desa untuk tetap kreatif dan optimis menghadapi perubahan zaman.

Diplomasi Budaya Melalui Bilah Bambu
Puncak prestasi festival ini tercatat pada 2022, saat 81 grup seni dari 50 kota berkumpul dalam tema CatraCitra. Kolaborasi masif ini menegaskan bahwa payung tradisional bukan lagi sekadar pelindung hujan, melainkan identitas bangsa yang diakui dunia.

Bagi perajin di desa, FESPIN adalah jembatan yang menghubungkan warisan leluhur dengan pasar global. Di sini, setiap helai kain dan bilah bambu payung tidak hanya bercerita tentang keindahan, tetapi juga tentang keberlanjutan ekonomi dan harga diri budaya yang melampaui batas geografis.

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 5 kali

badge-check

Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Nagari Anduriang Siap Jadi Destinasi Wisata Halal Unggulan

15 Juni 2026 - 08:54 WIB

Pasar Kampung Samiler: Branding Unik Desa Wisata Wonosunyo

15 Juni 2026 - 07:42 WIB

Satu Abad Jam Gadang, Momen Kebangkitan Wisata Minang

30 Mei 2026 - 05:43 WIB

Paket Wisata Hotel Mewah Wajib Gandeng Desa Wisata

17 Mei 2026 - 21:31 WIB

Mentawai: Menata Surga Dunia Agar Desa Tak Terpinggirkan

13 Mei 2026 - 09:40 WIB

Terobosan Guru MGMP IPS: Ubah Benteng Tua Jadi Ruang Kelas

2 Mei 2026 - 08:19 WIB

Trending di JALAN JAJAN