Inovasi Mahasiswa Ubah ‘Sampah’ Desa Pambantanan Jadi Rantai Ekonomi Sirkular
Banjar, Kalimantan Selatan [DESA MERDEKA] – Kelompok mahasiswa dan dosen dari Universitas Sari Mulia (UNISM) Banjarmasin sukses mengubah tantangan lingkungan—mulai dari hama keong mas, eceng gondok, hingga limbah pertanian—di Desa Pambantanan, Kabupaten Banjar, menjadi sumber penghidupan baru. Melalui program Pemberdayaan Masyarakat (PM-BEM) yang didanai oleh DPPM Kemendiktisaintek, UNISM berhasil menciptakan model ekonomi sirkular desa yang mandiri dan berkelanjutan, menghasilkan pelet ikan probiotik dari limbah untuk menyokong budidaya Keramba Jaring Apung (KJA) pintar.
Program ini berfokus pada dua kelompok sasaran utama. Pertama, ibu-ibu PKK yang dilatih untuk mengolah limbah tersebut menjadi pelet ikan probiotik. Pelet ini memiliki nilai tambah berkat proses fermentasi menggunakan bakteri indigenous dari lahan gambut setempat, menjadikannya pakan yang lebih sehat. Kapasitas produksi mereka kini mencapai 20 kg per jam, lompatan besar dari kondisi awal yang nihil.
Kelompok kedua, Kelompok Tani Papadaan, yang terdiri atas petani ikan, diperkenalkan dan diimplementasikan dengan sistem KJA pintar di Sungai Martapura. Empat unit KJA yang dibangun mampu menampung 4.000 ekor ikan patin. Sistem ini canggih dan ramah lingkungan karena dilengkapi autofeeder untuk meminimalkan limbah pakan dan didukung 100% energi dari panel surya.

Sinergi Ekonomi dan Peningkatan Kesejahteraan
Keberhasilan program ini terletak pada terciptanya sinergi ekonomi sirkular di tingkat desa: pelet yang diproduksi oleh ibu-ibu PKK langsung diserap oleh Kelompok Tani Papadaan untuk pakan KJA pintar mereka. Model ini secara drastis menekan biaya produksi budidaya ikan sekaligus menciptakan rantai pasok yang mandiri, tahan terhadap gejolak harga pakan luar.
Dampak intervensi teknologi dan pemberdayaan ini terbukti signifikan, tidak hanya pada aspek ekonomi, tetapi juga sosial dan lingkungan. Dari segi ekonomi, kedua kelompok mencatat peningkatan pendapatan sebesar 35 hingga 45 persen. Ibu-ibu PKK yang sebelumnya tidak memiliki kegiatan produktif, kini berkontribusi langsung pada pendapatan keluarga, sekaligus memperkuat peran perempuan dalam struktur ekonomi desa.
Secara lingkungan, program ini berfungsi ganda sebagai solusi pengendalian hama dan limbah. Populasi hama keong mas dan gulma eceng gondok di sungai berkurang, dan limbah pertanian termanfaatkan, menciptakan sistem bio-ekonomi yang bersih dan berkelanjutan.

Dukungan Penuh Pemerintah Desa dan Komitmen Kampus
Yusransyah, Ketua Kelompok Tani Papadaan, menyampaikan apresiasi mendalam, menyebut teknologi modern dalam budidaya ikan yang kini mereka miliki adalah mimpi yang terwujud. Senada, Zulfah, Ketua PKK, menyatakan kebanggaannya karena ibu-ibu kini memiliki penghasilan sendiri dan menjadi mitra sejajar dalam pembangunan desa.
Perwakilan Pemerintah Desa Pambantanan, Baihaki, menegaskan bahwa sinergi antara akademisi, masyarakat, dan pemerintah desa ini adalah model terbaik yang harus dilanjutkan. Pemerintah desa berkomitmen penuh untuk mendukung keberlanjutan usaha ini.
Rektor Universitas Sari Mulia, Dwi Sogi Sri Redjeki, menegaskan bahwa keberhasilan di Pambantanan ini adalah bukti konsep yang harus terus dikembangkan. “UNISM bertekad menjadi jembatan yang menghubungkan ilmu pengetahuan dengan kebutuhan riil masyarakat, menciptakan lebih banyak lumbung-lumbung inovasi di seluruh Kalimantan Selatan,” tegasnya.
Keberhasilan ini membuktikan bahwa pemanfaatan potensi lokal dan teknologi tepat guna dengan pendekatan partisipatif adalah kunci transformasi sosial-ekonomi di pedesaan, selaras dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), terutama pengentasan kemiskinan dan kesetaraan gender.



















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.