Menu

Mode Gelap
Siasat Desa Paenre Lompoe Merajut Prioritas di Tengah Badai Efisiensi APBDes 2027: Strategi Desa Batang Kejar Target Desa Zero Stunting Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa

KABAR DESA · 10 Feb 2026 19:34 WIB ·

Drainase Mampet, Warga Wederok Malaka Tagih Solusi Deker


					Situasi terkini lokasi terdampak banjir luapan air hujan di desa Wederok, (Foto istimewa) Perbesar

Situasi terkini lokasi terdampak banjir luapan air hujan di desa Wederok, (Foto istimewa)

Malaka, Nusa Tenggara Timur [DESA MERDEKA] Hujan deras selama dua hari berturut-turut di Kabupaten Malaka bukan sekadar fenomena alam bagi warga Desa Wederok dan Ikumuan, melainkan “alarm” kegagalan drainase. Sebanyak 20 rumah warga terendam banjir akibat luapan saluran air yang dangkal dan tersumbat di sepanjang jalan utama Betun–Wederok, Selasa (10/2/2026).

Banjir ini menjadi sorotan karena genangan air yang lambat surut tidak hanya melumpuhkan aktivitas domestik di Dusun Wederok A, Wederok B, dan Ikumuan, tetapi juga mengancam umur infrastruktur jalan raya. Warga kini mendesak Pemerintah Daerah Malaka untuk berhenti menggunakan solusi sementara dan segera membangun deker (belah jalan).

Deker Sebagai “Napas Buatan” Bagi Pemukiman
Fransiskus Bria Fauk, warga Desa Wederok, menegaskan bahwa masalah utama bukan sekadar volume hujan, melainkan aliran air yang “tercekik” karena tidak adanya akses pembuangan yang cepat. Konstruksi deker atau belah jalan di bawah ruas utama Betun–Wederok dianggap sebagai solusi permanen untuk membuang debit air ke area yang lebih rendah.

“Kami minta perhatian Dinas PUPR Malaka. Air turun sangat lambat sehingga tergenang dan masuk ke rumah. Kalau ada deker, air bisa turun lebih cepat,” ungkap Fransiskus kepada desamerdeka.id.

Ancaman Kerusakan Jalan dan Keselamatan
Pantauan di lapangan menunjukkan luapan air tidak hanya menginvasi ruang tamu warga, tetapi juga menggenangi badan jalan. Hal ini menciptakan dua risiko besar: kerusakan struktur aspal yang tergerus air secara terus-menerus dan potensi kecelakaan bagi pengguna jalan yang melintas.

Hendrik, warga setempat lainnya, menambahkan bahwa kondisi drainase saat ini sudah tidak layak menyandang status sebagai saluran pembuangan. “Drainase sudah dangkal dan penuh sumbatan. Begitu hujan deras, air langsung melompat ke jalan dan rumah kami,” jelasnya.

Warga berharap Dinas PUPR tidak hanya sekadar melakukan normalisasi rutin, tetapi melakukan redesain sistem drainase yang lebih integratif, termasuk pendalaman saluran dan pembangunan deker sebagai prioritas di tahun anggaran ini agar siklus banjir tahunan ini dapat terputus.

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 213 kali

badge-check

Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Di Bawah Teduh Pepohonan, Tripika Pasimarannu Dampingi Warga Terdampak Gempa

15 Agustus 2026 - 12:07 WIB

Keteladanan 2 Kades di Biboki Selatan Tambal Jalan

14 Agustus 2026 - 16:34 WIB

Warga Dusun 2B Karang Sari Bangun Gapura Sambut HUT ke-81 RI, Semarakkan Desa HELAU

12 Agustus 2026 - 16:38 WIB

Merah Putih di Gerbang Penyangga: Menjahit Swadaya Lewat Desa HELAU

11 Agustus 2026 - 13:03 WIB

Pertahankan Ruang Hidup Pesisir, Nagari Ketaping Daulatkan Mitigasi Bencana

9 Agustus 2026 - 18:11 WIB

Tinggalkan Asumsi, RKP Banjararum 2027 Kini Berbasis Data!

9 Agustus 2026 - 15:59 WIB

Musdes Penetapan ID Banjararum2.
Trending di KABAR DESA