Padang, Sumatera Barat [DESA MERDEKA] – Pemerintah Provinsi Sumatera Barat (Pemprov Sumbar) berkomitmen kuat dalam mewujudkan sekolah berbudaya lingkungan atau Sekolah Adiwiyata. Untuk mengakselerasi program ini, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sumbar mengambil langkah terobosan dengan menggandeng dunia usaha melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL).
Inisiatif kolaboratif ini digagas oleh Sekretaris DLH Provinsi Sumbar, Andi Irawan, sebagai upaya kreatif untuk memenuhi target nasional. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menargetkan minimal 20 persen sekolah di setiap provinsi memiliki predikat Adiwiyata pada 2030.
Berdasarkan data DLH Sumbar, dari total 763 SMA/SMK/MA yang ada, baru sekitar empat persen atau 25 sekolah yang menyandang predikat Adiwiyata (15 Provinsi, 8 Nasional, dan 2 Mandiri) hingga tahun 2024. Kesenjangan ini menuntut langkah strategis dan cepat.
“Saat ini baru sekitar empat persen sekolah menengah di Sumbar yang berpredikat Adiwiyata. Karena itu, kita perlu langkah-langkah kreatif dan kolaboratif agar bisa mengejar target yang telah ditetapkan,” ujar Andi Irawan di Padang, Jumat (24/10/2025).
Andi menjelaskan, konsep Sekolah Adiwiyata jauh melampaui sekolah yang sekadar bersih. Intinya adalah menanamkan kesadaran dan perilaku peduli lingkungan pada seluruh warganya. Pengelolaan sampah, sanitasi, ketersediaan air bersih, dan penghijauan dijadikan bagian integral dari pembelajaran sehari-hari, sekaligus mendukung upaya mitigasi perubahan iklim.
Untuk mempercepat realisasi target tersebut, DLH Sumbar telah menjalin komunikasi positif dengan dunia usaha. Pada tahap awal, penjajakan kerja sama telah dilakukan dengan PT Semen Padang dan PT Tirta Investama (AQUA) melalui pemanfaatan program TJSL.
“Alhamdulillah, rencana ini mendapat sambutan positif. Insya Allah dalam waktu dekat kita akan melakukan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS),” ungkap Andi.
Melalui kerja sama ini, kedua perusahaan akan berperan sebagai “Bapak Angkat” bagi sejumlah sekolah binaan. Dukungan yang diberikan mencakup peningkatan sarana-prasarana, pelatihan terstruktur bagi warga sekolah, serta penguatan kapasitas pengelolaan lingkungan. Pada tahap awal, sekolah binaan yang terpilih meliputi SMA/SMK Semen Padang dan SMKN 2 Gunung Talang, Kabupaten Solok.
Andi berharap, pendampingan ini akan menjadikan setiap warga sekolah tidak hanya mampu menerapkan prinsip Adiwiyata di lingkungannya, tetapi juga berfungsi sebagai agen perubahan yang menularkan kebiasaan baik ke masyarakat sekitar.
Program ini menciptakan simbiosis mutualisme yang sehat. Sekolah mendapatkan bantuan pengelolaan lingkungan tanpa membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), sementara perusahaan mendapatkan penguatan reputasi positif sebagai pelaku usaha yang peduli terhadap pendidikan dan lingkungan hidup. Pendayagunaan TJSL pun menjadi lebih terarah dan selaras dengan kebijakan pembangunan berkelanjutan daerah.
Inovasi ini sekaligus merupakan Proyek Perubahan yang diusung Andi Irawan dalam Diklat PKN II, bertajuk “GREEN SCHOOL, STRONG FUTURE: Transformasi Pendidikan Lingkungan untuk Sumatera Barat Bebas Sampah.”
“Kita ingin sekolah di Sumbar tidak hanya cerdas secara akademik, tapi juga tangguh menghadapi tantangan lingkungan. Dari sekolah hijau, lahir generasi hijau yang siap menjaga bumi,” pungkas Andi Irawan.



















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.