Desa Watugaluh Rawat Peninggalan Sejarah Mandiri, Sumur Upas Dipercaya Penyembuh
Jombang, Jawa Timur [DESA MERDEKA] – Desa Watugaluh di Kecamatan Diwek, Jombang, Jawa Timur, dikenal sebagai “lumbung” peninggalan bersejarah yang tersebar di empat dusunnya: Watugaluh, Gendong, Jasem, dan Nanggalan. Pemerintah desa bersama warga secara aktif dan mandiri terus berupaya menjaga kelestarian warisan kuno tersebut, termasuk Sumur Upas yang populer diyakini memiliki khasiat penyembuhan.
Kepala Desa Watugaluh, Feryanto, menegaskan komitmen Pemdes dalam upaya pelestarian. Ia menyebutkan bahwa pemerintah desa aktif menjalin komunikasi dengan berbagai pihak, termasuk Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (P dan K) Jombang serta Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur (kini BPK Wilayah XI Jatim).
”Sejak 2017, peninggalan seperti Batu Mpu Sindok hingga Lumpang Kenteng sudah ditinjau langsung dan kini kami menunggu kajian serta instruksi lebih lanjut sesuai prosedur yang berlaku,” terang Feryanto.
Sumur Upas: Misteri Air Tak Pernah Surut
Salah satu peninggalan yang menarik perhatian warga adalah Sumur Upas, sebuah sumur kuno yang terletak di tengah area persawahan di Dusun Watugaluh. Sumur ini memiliki struktur unik, dibangun dari susunan batu bata kuno berukuran besar, sekitar $45 \times 20$ sentimeter, dengan diameter sumur sekitar 50 sentimeter dan kedalaman mencapai 7 hingga 10 meter.
Meski dalam bahasa Jawa upas berarti racun, sumur ini justru dipercaya memiliki kekuatan sebaliknya. Warga setempat meyakini bahwa air dari sumur ini mampu menjadi penangkal racun atau mengobati berbagai penyakit bila dikonsumsi maupun digunakan untuk membasuh tubuh.
Daya tarik Sumur Upas tidak hanya pada khasiat yang dipercaya, tetapi juga pada fenomena alamiahnya. Air dari sumur ini dimanfaatkan petani untuk mengairi lahan pertanian, dan yang mengherankan, debit airnya tidak pernah surut meskipun terjadi musim kemarau panjang. Fenomena ini menambah nuansa misteri dan keistimewaan peninggalan di Desa Watugaluh.
Kendala Anggaran dan Keberlanjutan Perawatan Mandiri
Hingga kini, Pemdes Watugaluh bersama masyarakat merawat seluruh peninggalan sejarah secara swadaya. Upaya pelestarian mandiri ini menghadapi sejumlah tantangan, terutama terkait kendala anggaran serta kerangka aturan pengelolaan cagar budaya.
”Berbagai kendala terutama terkait anggaran serta aturan pengelolaan juga menjadi tantangan tersendiri bagi kami,” tambah Feryanto.
Meskipun demikian, warga setempat menunjukkan komitmen kuat dengan rutin memelihara dan merawat lokasi peninggalan secara gotong royong. Feryanto menambahkan bahwa Pemdes akan terus melakukan upaya pelestarian semaksimal mungkin, sambil menunggu perhatian dan langkah konkret dari pemerintah daerah untuk status dan pengelolaan resmi warisan sejarah ini. Sinergi antara pemerintah desa dan masyarakat menjadi kunci utama dalam menjaga agar jejak peradaban masa lalu di Watugaluh tetap lestari.
Redaksi Desa Merdeka


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.