Opini [DESA MERDEKA] – Mengapa berita korupsi di Jakarta lebih cepat sampai ke ponsel Anda daripada inovasi tani di desa tetangga? Jawabannya bukan karena desa tidak punya cerita, melainkan karena adanya “sumbatan” sistemik yang membuat 75 ribu lebih desa di Indonesia seolah menjadi komunitas introvert dalam panggung informasi nasional.
Selama ini, desa sering kali hanya muncul di layar kaca saat terjerat bencana, kriminalitas, atau kemiskinan ekstrem. Stigma inferior ini menenggelamkan potensi wisata dan kearifan lokal yang seharusnya menjadi komoditas informasi mahal.
SDM dan Obsesi pada Komunikasi Lisan
Salah satu penghambat utama adalah kapasitas perangkat desa dalam mengemas data. Mayoritas operator media sosial desa bukanlah jurnalis; mereka adalah administratur yang merangkap beban kerja segudang. Akibatnya, informasi penting hanya berhenti di grup WhatsApp internal atau obrolan di balai desa.
Kultur “getok tular” (lisan) yang sangat kuat di desa memang efektif secara sosial, namun lemah secara dokumentasi. Tanpa data tertulis dan visual yang layak, media arus utama kesulitan menyadap bahan baku berita dari desa. Fenomena “kemiskinan ide” ini diperparah oleh rendahnya literasi digital yang membuat warga merasa keseharian mereka tidak cukup penting untuk diberitakan.
Media yang Terlalu “Jakarta-Sentris”
Di sisi lain, industri media kita masih mengidap penyakit sentralisasi isu. Baik media nasional maupun lokal sering kali terjebak dalam keriuhan politik kota, sehingga menempatkan desa sebagai komunitas marginal. Hubungan antara awak media dan pemerintah desa pun sering kali dingin; minim sinergi dan sarat birokrasi.
| Faktor Penghambat | Dampak di Lapangan |
| Birokrasi DPMD | Akses data pembangunan berbelit dan tertutup. |
| Media “Homeless” | Munculnya berita tanpa verifikasi yang merusak citra desa. |
| Anggaran Promosi | Dana Desa lebih fokus ke fisik, melupakan pos publikasi. |
Tantangan Infrastruktur dan Literasi
Meskipun sinyal internet mulai menyentuh pelosok, literasi digital tetap menjadi tembok tebal. Program lama seperti “Koran Masuk Desa” terbukti gagal di beberapa titik karena angka buta huruf atau ketidaktertarikan warga pada konten formal.
Untuk memecahkan kebuntuan ini, diperlukan revolusi cara pandang. Desa harus berhenti memposisikan diri sebagai objek, dan mulai menjadi subjek pemberitaannya sendiri. Tanpa keberanian untuk “pamer” inovasi melalui kemasan jurnalistik yang apik, desa akan tetap menjadi rahasia yang terkubur di bawah rimbunnya pohon-pohon bambu.



















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.