Oleh: Suryokoco Suryoputro
Ketua Koperasi Komunitas Desa Indonesia (KODE Indonesia)
Beberapa tahun lalu, saya mendampingi kepala desa di sebuah lereng gunung. Ia canggung mengisi formulir, tetapi lancar bercerita. Tentang sungai yang rusak karena tambang ilegal, tentang anak muda yang pulang kampung dan membuka usaha ternak kambing, dan tentang pengajian ibu-ibu yang rutin berbagi sembako untuk lansia.
Cerita-cerita ini begitu kuat, tetapi sayangnya hanya hidup di percakapan. Tak terdokumentasi. Tak tertulis. Tak ditemukan siapa pun, kecuali mereka yang mendengar langsung.
Saya kemudian bertanya pada diri sendiri: kenapa desa tidak menulis tentang dirinya sendiri?
Dan sejak itu, saya mulai merintis berbagai ruang agar desa bisa bercerita. Mulai dari Jurnal Desa Merdeka, pelatihan-pelatihan menulis, hingga sekarang: media komunitas digital DesaMerdeka.id.
Dari Jalanan ke Tulisan
Saya tumbuh dari jalanan, dari gerakan. Dari aksi Aliansi Desa Indonesia menuntut Undang-Undang Desa, hingga forum-forum relawan desa yang penuh semangat namun tanpa struktur. Saya percaya perubahan besar selalu diawali dari kebisingan kecil yang tekun.
Tapi hari ini, medan perjuangan itu bergeser. Tak cukup dengan spanduk dan toa. Kita harus hadir di dunia digital. Bukan sebagai korban informasi, tapi sebagai penulisnya. Bukan sebagai objek laporan, tapi sebagai narator utama.
DesaMerdeka.id hadir sebagai jawaban atas kebutuhan itu. Sebuah portal media digital milik koperasi desa. Bukan milik korporasi. Bukan dimonopoli algoritma. Ini ruang kita—untuk menulis, berbagi, dan membangun narasi kolektif tentang desa.
Media Kita, Cerita Kita
Apa yang bisa ditulis di DesaMerdeka.id? Hampir segalanya. Anda bisa menulis:
- Cerita kegiatan Musyawarah Desa
- Praktik baik BUMDes atau Koperasi
- Kisah inspiratif pemuda desa
- Kritik kebijakan dari lapangan
- Esai reflektif sebagai pendamping
- Bahkan fiksi tentang kehidupan desa
Platform ini dirancang mudah. Cukup login dengan akun Google. Langsung bisa unggah tulisan. Bisa menambahkan foto, menyematkan kontak WhatsApp, bahkan menautkan media sosial.
Di sana, setiap penulis punya profil pribadi. Lengkap dengan nama, domisili, dan tautan portofolio. Inilah wajah baru jurnalisme warga desa.
Menulis Itu Membebaskan
Saya tahu banyak yang ragu, “Pakde, saya belum pandai menulis.”
Saya jawab, “Jangan takut keliru. Yang penting menulis dulu. Nanti kita belajar bersama.”
Menulis itu seperti bercocok tanam. Tak semua benih langsung panen. Tapi kalau tidak ditanam, ya tidak akan tumbuh. Begitu juga cerita. Kalau tidak ditulis, ia akan hilang.
Kita bukan sedang membuat karya sastra. Kita sedang menyusun dokumentasi kehidupan. Menyusun jejak perubahan. Menulis itu tindakan sosial. Bahkan tindakan spiritual—karena yang kita tulis bisa menjadi warisan nilai.
Mengapa Harus Menulis Sendiri?
Karena tak ada yang lebih mengerti desa selain warganya sendiri.
Berapa kali desa kita diberitakan hanya karena konflik atau bencana? Padahal ada begitu banyak inovasi, solidaritas, dan kearifan lokal yang luput dari media arus utama.
Saat kita menulis sendiri, kita memegang kendali atas cerita. Kita bisa merekam kebaikan, memperingatkan kesalahan, dan menyebarkan inspirasi. Kita bisa menjadi rujukan—bukan sekadar kutipan.
Dan lebih penting lagi: kita bisa mendidik generasi muda untuk bangga pada desanya. Lewat cerita-cerita yang hidup. Lewat tulisan-tulisan yang berjejak.
Penerbitan di Era Digital
Beberapa kawan bertanya, “Pakde, bagaimana caranya menerbitkan buku?”
Saya jawab: hari ini lebih mudah dari sebelumnya.
Kalau kamu sudah menulis 5–10 artikel, kamu bisa gabungkan jadi e-book. Simpan dalam format PDF. Unggah ke Google Drive. Lalu jual atau bagikan lewat tautan.
Kalau ingin cetak, bisa pakai sistem print on demand. Cetak 25 atau 50 eksemplar dulu. Tambahkan desain cover yang bagus. Ajukan ISBN ke perpustakaan nasional. Jadi deh buku pertamamu!
Saya sendiri sudah menjual beberapa file PDF yang berisi kompilasi regulasi. Harganya Rp15.000 saja. Tapi bukan soal untung. Ini soal menghargai kerja dan berbagi ilmu.
Konten Digital Bisa Jadi Ekonomi Baru
Kita sering hanya memikirkan jualan fisik di desa: hasil panen, kerajinan, ternak. Tapi sesungguhnya konten digital adalah komoditas masa depan.
- Video pelatihan bisa dijual sebagai kursus
- E-book bisa dipasarkan via katalog digital
- Podcast bisa jadi alat promosi desa wisata
- Tulisan bisa dikurasi jadi buku bersama
Kalau kita konsisten, satu desa bisa punya kanal YouTube, perpustakaan digital, hingga toko konten sendiri.
Dan semua itu dimulai dari satu langkah: berani menulis.
Lomba dan Ruang Belajar Menulis
Kami sedang menyiapkan kompetisi konten desa di DesaMerdeka.id. Nanti ada kategori opini, feature, fiksi desa, hingga profil koperasi atau BUMDes. Pemenangnya akan mendapat:
- Uang pembinaan
- Tulisan dibukukan
- Pelatihan lanjutan dan sertifikat
- Promosi ke media mitra
Tapi jangan tunggu lomba. Mulailah menulis sekarang. Tulis pengalaman hari ini. Unggah di DesaMerdeka.id. Gunakan tagar #CeritaDesaku. Dan jika ingin belajar lebih jauh, bergabunglah dalam komunitas Kelas Menulis Desa yang kami siapkan daring.
Menulis untuk Kolektif, Bukan Popularitas
Saya tidak ingin kita menulis demi viral. Saya ingin kita menulis demi nilai.
Setiap tulisan di DesaMerdeka.id akan hidup lebih lama dari unggahan di media sosial. Ia bisa dicetak. Dibaca ulang. Dikutip. Dan jadi pijakan gerakan.
Menulis bukan untuk mengejar like, tapi untuk membangun logika. Bukan untuk pamer pencitraan, tapi untuk menyuarakan kebenaran lokal.
Dan yang lebih penting: tulisan kita bisa mengubah cara orang memandang desa.
Penutup: Mari Kita Tulis Sejarah Kita Sendiri
Saya percaya masa depan desa bukan hanya soal dana, proyek, atau infrastruktur. Tapi juga soal narasi. Soal siapa yang menulis sejarah. Soal siapa yang mendokumentasikan perubahan.
Kalau kita tak menulis desa kita, siapa yang akan melakukannya?
Kalau kita tak mengangkat suara kita, siapa yang akan mendengar?
Mari jadikan DesaMerdeka.id sebagai rumah menulis bersama. Tempat kita menabur cerita, memanen ide, dan membangun desa bukan hanya di tanah—tapi juga di pikiran.
Karena ketika desa mulai bercerita, dunia akan mendengarkan.

Jurnalis dan Pegiat Pemberdayaan Masyarakat Peduli Desa. Saat ini adalah Ketua Komunitas Desa Indonesia dan Koordinator Mobile Journalist Desa


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.