oleh: Suryokoco Suryoputro
Di tengah gemuruh kota, lampu-lampu neon, dan deru mesin kendaraan, sering kali kita lupa bahwa tempat kita berasal bukanlah gedung-gedung tinggi atau jalanan beton. Kita berasal dari tanah, dari alam, dari sebuah tempat yang sunyi namun penuh makna: desa.
Desa bukan hanya sekadar tempat tinggal. Ia adalah akar. Ia adalah ruang hidup yang membentuk siapa kita sebenarnya. Dalam bahasa Sanskerta, desa disebut sebagai “desha” yang berarti wilayah, negeri, atau tempat. Tapi lebih dari itu, desha juga berarti ruang kehidupan, tempat di mana manusia menjalani tindakan (karma), menjalankan nilai (dharma), dan membentuk jiwanya (jiva).
Sayangnya, dalam narasi besar pembangunan, desa terlalu sering diletakkan di pinggiran. Pembangunan lebih sering dimaknai sebagai kota yang makin besar, makin padat, dan makin cepat. Padahal, justru desa-lah yang menyimpan potensi keberlanjutan, ketahanan pangan, kearifan lokal, dan kehidupan yang lebih seimbang.
Sudah saatnya kita berubah cara pandang. Sudah waktunya kita sadar: desa harus dimuliakan.
Desa: Tempat Tindakan dan Penghidupan (Karma-Desha)
Setiap hari di desa, tangan-tangan bekerja dalam senyap. Tak ada sorotan kamera. Tak ada gelar akademik. Tapi ada ketulusan, ada kerja keras, ada hidup yang dijalani sepenuh hati. Petani menanam padi dengan sabar. Ibu-ibu menganyam kerajinan tangan. Anak-anak belajar langsung dari alam.
Inilah karma-desha: tempat perbuatan. Bukan sekadar tempat lahir dan tinggal, tetapi tempat di mana hidup dijalani dengan nyata. Desa bukan tempat menunggu bantuan. Desa adalah tempat orang bangkit dan berbuat. Dalam kerja mereka, terkandung martabat.
Desa: Tempat Nilai dan Gotong Royong (Dharma-Desha)
Jika kota adalah ruang kompetisi, maka desa adalah ruang kebersamaan. Di desa, nilai bukan hanya teori. Ia hidup dalam praktik sehari-hari: tetangga saling bantu saat panen, anak-anak menjaga adik-adiknya, dan warga bermusyawarah dalam balai desa.
Inilah dharma-desha: tempat nilai-nilai ditegakkan. Di desa, gotong royong bukan sekadar slogan, tapi denyut nadi kehidupan. Kita belajar untuk tidak hidup sendiri, tidak sukses sendiri, dan tidak berjalan sendiri.
Desa mengajarkan kita bahwa kebaikan itu kolektif. Kebahagiaan itu sederhana. Dan hidup itu harus selaras dengan alam.
Desa: Tempat Jiwa Dibentuk (Jiva-Desha)
Coba kita ingat-ingat masa kecil. Di mana kita belajar tentang arti kesabaran? Di mana kita tahu bahwa setiap musim membawa pelajaran? Jawabannya: di desa.
Di desa, kita belajar dari hujan, dari angin, dari suara jangkrik malam. Jiwa kita ditempa bukan oleh teori, tapi oleh pengalaman. Inilah jiva-desha: tempat di mana karakter dibentuk secara alami.
Ketika dunia pendidikan modern sibuk dengan kurikulum dan ujian standar, desa menyuguhkan pendidikan kehidupan. Dari desa, lahir manusia yang punya akar, tahu malu, dan tahu arah.
Desa Bukan Tertinggal, Tapi Tertinggalkan
Kita sering salah kaprah menyebut desa sebagai “daerah tertinggal”. Padahal desa bukan tertinggal. Desa hanya tertinggalkan. Yang tertinggal adalah perhatian kita, bukan potensi desanya.
Desa punya semuanya: alam yang subur, budaya yang kaya, komunitas yang kuat. Yang belum dimiliki adalah ruang dalam pikiran dan hati kita. Kita terlalu lama sibuk membangun ke atas, tanpa sadar fondasi kita justru melemah.
Padahal bila desa runtuh, kota tak akan kuat berdiri. Bila petani tak lagi menanam, supermarket pun tak bisa menjual. Bila air desa tercemar, sungai kota tak bisa dibersihkan.
Bhinneka Tunggal Ika dan Semangat Memuliakan Desa
Dalam Kakawin Sutasoma, Mpu Tantular menulis: “Bhinneka tunggal ika, tan hana dharma mangrwa”. Artinya: Berbeda-beda tetapi tetap satu, tiada kebenaran yang mendua.
Falsafah ini tidak hanya berlaku untuk agama atau suku. Ia juga berlaku untuk desa dan kota. Mereka berbeda, tapi seharusnya tidak dipertentangkan. Kota bisa tumbuh jika desa kuat. Dan desa bisa maju jika kota memberi ruang.
BUMDes dan KopDes misalnya, sering dianggap dua hal yang bersaing. Padahal mereka adalah dua instrumen yang bisa bersinergi. Yang satu mengelola aset desa, yang lain membangun kekuatan komunitas. Keduanya harus didorong untuk bekerja sama, bukan saling menjatuhkan.
Mari Menjadi Generasi yang Memuliakan Desa
Memuliakan desa bukan berarti kembali ke masa lalu. Bukan pula menolak kemajuan. Memuliakan desa adalah tentang memberi tempat yang layak dalam pikiran, kebijakan, dan tindakan kita.
Kita bisa memulai dengan hal-hal kecil:
- Menghargai hasil pertanian lokal.
- Mendukung produk UMKM desa.
- Liburan ke desa dan belajar dari kearifan lokal.
- Mengajak generasi muda kembali mencintai kampung halamannya.
Bagi pembuat kebijakan: dengarlah suara desa. Bagi pendidik: ajarkan tentang desa. Bagi pengusaha: libatkan desa. Karena masa depan Indonesia tidak hanya terletak di kota-kota besar. Masa depan Indonesia juga tumbuh di ladang-ladang, di lereng bukit, di pinggir hutan—di desa.
Desa bukan pinggiran. Desa adalah pusat dari banyak hal: pangan, air, budaya, dan harapan. Maka, sudah saatnya kita menempatkan desa sebagai Desha—tempat suci kehidupan, yang harus dijaga, dihormati, dan dimuliakan.
Karena dari desalah Indonesia tumbuh. Dan kepada desalah kita harus kembali.

Jurnalis dan Pegiat Pemberdayaan Masyarakat Peduli Desa. Saat ini adalah Ketua Komunitas Desa Indonesia dan Koordinator Mobile Journalist Desa


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.