Menu

Mode Gelap
APBDes 2027: Strategi Desa Batang Kejar Target Desa Zero Stunting Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa Bantah Isu Kontraktor LPJ, PMD Kolaka Utara Siapkan Klinik Desa

DESA · 20 Jan 2026 08:56 WIB ·

Dana Desa Dipangkas Drastis: Siasat Koperasi Merah Putih Jadi Penyelamat


					Ketua APDESI Sumatera Utara, Suparman, M.SP Perbesar

Ketua APDESI Sumatera Utara, Suparman, M.SP

Medan, Sumatera Utara [DESA MERDEKA] Badai pemangkasan dana desa yang melanda sejumlah wilayah di Indonesia, termasuk Sumatera Barat dan Sumatera Utara, memaksa para kepala desa memutar otak. Bukan sekadar pengurangan kecil, angka pemangkasan di beberapa titik bahkan menyentuh angka fantastis hingga 70 persen. Namun, di balik krisis anggaran ini, muncul secercah harapan melalui reorientasi ekonomi desa yang lebih mandiri.

Ketua APDESI Sumatera Utara, Suparman, M.SP, mengungkapkan bahwa tantangan terbesar saat ini bukan hanya soal nominal uang yang hilang, melainkan pemahaman regulasi di tingkat bawah. Di tengah keterbatasan, pemerintah kini mendorong pembentukan Koperasi Desa atau Kelurahan Merah Putih. Langkah ini diproyeksikan sebagai “sekoci penyelamat” untuk menggenjot ekonomi masyarakat secara mandiri tanpa harus selalu bergantung pada kucuran dana pusat.

Dilema Infrastruktur vs Stunting
Pemangkasan anggaran yang masif ini ibarat pisau bermata dua. Dalam dialog Aspirasi Sumut di RRI Medan pada Kamis (15/1/2026), terungkap bahwa sektor lingkungan seperti pembangunan drainase adalah yang paling terdampak. Namun, dampak yang lebih mengkhawatirkan justru mengintai program kesejahteraan manusia.

“Peningkatan stunting dan program BKKBN yang sudah berjalan juga akan ikut terkena dampaknya,” ujar Suparman. Hal ini menjadi peringatan keras bagi pemerintah daerah, mengingat penanganan stunting adalah program prioritas nasional yang membutuhkan kesinambungan anggaran.

Strategi Seleksi Ketat di Tingkat Desa
Realitas pahit ini sudah dirasakan langsung di lapangan. Salah satu Plt. Kepala Desa di Kecamatan Tanjung Morawa, Kabupaten Deli Serdang, mengaku anggarannya tahun ini merosot tajam hingga tersisa 30 persen saja dibandingkan tahun sebelumnya.

Alih-alih menyerah, pihak desa kini menerapkan strategi “Seleksi Prioritas Radikal”. Kepala desa harus lebih selektif dan tegas dalam memilah kegiatan. Program-program yang tidak memberikan dampak langsung dan besar bagi masyarakat akan ditiadakan demi menjaga program inti tetap berjalan.

“Masyarakat harus diberikan pemahaman agar dapat menerima bahwa ini adalah kebijakan pemerintah pusat. Fokus kita adalah memangkas kegiatan yang tidak mendesak,” ungkap Plt. Kades tersebut.

Melalui edukasi regulasi yang konsisten, para kepala desa diharapkan tidak hanya cakap dalam membangun infrastruktur fisik, tetapi juga andal dalam manajemen krisis dan pengelolaan sumber daya ekonomi alternatif melalui koperasi.

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 38 kali

badge-check

Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Pindang Srani: Rahasia Harmonisasi Petinggi Desa Jepara

15 Juni 2026 - 11:00 WIB

Dilema Dana CSR Desa Tamainusi: Antara Pembangunan dan Penjara

15 Juni 2026 - 09:05 WIB

Lewat Sentuhan Digital, Potensi Tersembunyi Desa Wisata Guranjhil Siap Mendunia

13 Juni 2026 - 17:49 WIB

Nagari Ladang Panjang Perkuat Benteng Desa Lawan Narkoba

13 Juni 2026 - 15:43 WIB

Ujian Nyata Dua Kades PAW Bojonegoro Memimpin Desa

11 Juni 2026 - 18:40 WIB

Desa Ketanggan Berhasil Legalkan Tanah Aset Desa

9 Juni 2026 - 19:01 WIB

Trending di DESA