Solok, Sumatera Barat [DESA MERDEKA] – Stadion Marahadin, Kota Solok, mendadak menjadi pusat perhatian regional pada akhir Mei 2026. Sabtu (30/5/2026), Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi Ansharullah, resmi membuka turnamen sepak bola FE Cup 2. Namun, ini bukan sekadar tentang skor akhir di lapangan; ini adalah tentang bagaimana sebuah event olahraga mampu mengubah ritme ekonomi masyarakat lokal secara drastis. Sebanyak 32 klub dari Sumbar, Jambi, Riau, dan Sumatera Utara berkumpul, membawa gelombang penonton yang memadati sudut-sudut Kota Solok dan wilayah desa penyangga sekitarnya.
Secara geografis, Kota Solok merupakan titik strategis di jantung Sumatera Barat yang menghubungkan berbagai jalur perdagangan. Kehadiran ribuan orang dari luar provinsi memberikan suntikan energi segar bagi pelaku UMKM, sektor perhotelan, hingga jasa transportasi. Mengacu pada data tren sport tourism di Sumatera Barat, penyelenggaraan event berskala regional secara konsisten mampu meningkatkan okupansi penginapan hingga 30 persen dan mendongkrak perputaran uang di sektor UMKM lokal hingga miliaran rupiah selama durasi kompetisi. Walikota Solok, Ramadhani Kirana Putra, menuturkan bahwa turnamen ini adalah agenda olahraga terbesar di Solok Raya tahun ini yang secara nyata membangkitkan ekonomi mikro.
Fenomena ini adalah contoh nyata sinergi “ranah dan rantau”. Inisiator acara, perantau asal Solok, Fadlul Efendi, membuktikan bahwa kepedulian perantau tidak melulu soal donasi, tetapi tentang menciptakan ekosistem ekonomi. Gubernur Mahyeldi sangat mengapresiasi kontribusi ini. Baginya, olahraga adalah instrumen promosi daerah yang efektif. “Ini menjadi stimulus pergerakan ekonomi daerah yang sangat berharga,” ungkapnya saat memberikan sambutan.
Bagi generasi muda, ajang ini menjadi ruang pembinaan atlet sekaligus contoh bagaimana event olahraga bisa dikelola secara profesional untuk kemaslahatan publik. Bagi warga, ini adalah peluang emas untuk menjajakan kuliner lokal dan jasa pendukung lainnya.
Turnamen yang akan berlangsung hingga 1 Juli 2026 ini menunjukkan bahwa ketika olahraga dikelola dengan konsep sport tourism, dampak ekonominya akan menetes hingga ke lapisan masyarakat terbawah. Keberhasilan FE Cup 2 bukan diukur dari siapa yang mengangkat trofi, melainkan dari seberapa besar daya beli masyarakat meningkat selama satu bulan penuh kompetisi ini berlangsung. Solok kini menjadi contoh bagaimana kolaborasi antara pemerintah, perantau, dan masyarakat mampu menciptakan denyut ekonomi yang tangguh di masa depan.


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.