Padang, Sumatera Barat [DESA MERDEKA] – Era kecerdasan buatan (AI) dan robotika bukan lagi sekadar cerita fiksi ilmiah, melainkan tantangan nyata yang siap menggulung tenaga kerja tidak siap pakai. Di Aula Universitas Andalas (Unand), Jumat (10/1/2025), Menteri Ketenagakerjaan RI, Prof. Yassierli, membunyikan alarm keras: Indonesia harus segera bertransformasi jika tidak ingin tertinggal dari negara-negara ASEAN lainnya.
Tantangan ini terasa lebih berat karena struktur ketenagakerjaan kita masih rapuh. Berdasarkan data terbaru, lebih dari 50% angkatan kerja Indonesia masih terjebak di sektor informal dengan produktivitas yang tergolong rendah. Angka ini menjadi penghambat utama bagi Indonesia untuk bersaing secara kompetitif di level global.
AI: Kawan atau Lawan?
Prof. Yassierli menyoroti tiga disrupsi besar di era digital, yaitu AI, akses digital, serta sistem otonom (robot). Alih-alih menghindar, ia justru mendorong angkatan kerja, terutama mahasiswa, untuk “berkawan” dengan teknologi tersebut. Penguasaan big data dan AI dianggap sebagai tiket utama untuk bertahan di dunia kerja masa depan.
Namun, teknologi saja tidak cukup. Menaker menekankan bahwa ada satu hal yang tidak bisa digantikan oleh mesin: soft skills. Kemampuan berkomunikasi, jiwa kepemimpinan, dan fleksibilitas dalam beradaptasi menjadi modal krusial. “Keterampilan inilah yang memungkinkan individu tetap relevan meski perubahan dunia kerja terjadi sangat cepat,” ungkapnya dalam Studium Generale tersebut.
Kolaborasi Sumbar Menuju SDM Unggul
Merespons tantangan tersebut, Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi Ansharullah, langsung memasang ancang-ancang strategis. Ia memandang masukan dari Menaker sebagai fondasi untuk merombak kebijakan ketenagakerjaan di tingkat daerah. Fokus utamanya adalah menyelaraskan kurikulum perguruan tinggi dengan kebutuhan dunia usaha agar lulusan tidak hanya menjadi penambah angka pengangguran terdidik.
Sinergi antara pemerintah, akademisi, dan praktisi di Sumatera Barat kini diarahkan pada peningkatan kualitas pendidikan vokasi dan pelatihan teknis. Harapannya, transformasi ini mampu mendongkrak Human Capital Index (HCI) Indonesia yang saat ini masih berada di bawah rata-rata. Dengan penguatan literasi digital dan karakter yang kuat, tenaga kerja lokal diharapkan mampu menjadi tuan rumah di negeri sendiri sekaligus pemain handal di kancah internasional.


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.