Malang, Jawa Timur [DESA MERDEKA] – Langkah kaki seorang nenek tua menyusuri jalanan aspal sepanjang dua kilometer di Desa Banjararum siang itu terasa berat. Sambil menggendong cucunya yang masih balita, tujuannya hanya satu: teras posyandu desa. Baginya, memastikan sang cucu ditimbang dan mendapat tambahan vitamin jauh lebih penting daripada rasa lelahnya.
Perjuangan sunyi seperti inilah yang menjadi nyawa utama di balik keberhasilan penanganan kesehatan warga. Melalui keringat para kader kesehatan dan kesadaran keluarga, Desa Banjararum di Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, perlahan tapi pasti berhasil menekan jumlah anak penderita stunting dan gizi buruk, dari semula 28 anak kini turun menjadi 25 anak.
Komitmen nyata untuk terus menekan angka tersebut dibahas bersama dalam Rembuk Stunting Desa Banjararum yang digelar di Aula Kantor Desa pada Jumat (24/7/2026). Forum ini mengumpulkan para kader posyandu dan perangkat desa untuk merancang anggaran kesehatan dalam Rencana Kerja Pemerintah (RKP) Desa Tahun 2027, memanfaatkan dana desa secara tepat sasaran.
Kerja Keras Kader di Garis Depan
Penurunan angka stunting di desa ini bukan sekadar hitungan di atas kertas biasa. Ada peran besar para ibu kader posyandu yang setiap bulan mengetuk pintu-pintu rumah warga secara sukarela.
Kepala Desa Banjararum menyampaikan rasa terima kasih mendalam atas dedikasi tanpa lelah yang ditunjukkan oleh warganya di lapangan.
“Saya sangat mengapresiasi ibu-ibu kader yang sudah bahu-membahu menurunkan angka stunting maupun gizi kurang di desa kita. Saya berharap semua warga terus kompak agar lingkungan kita benar-benar bebas dari stunting,” ujarnya di depan peserta rembuk desa.
Menurutnya, pemerintah desa tidak akan bisa berjalan sendiri tanpa adanya kepedulian yang tumbuh langsung dari dalam keluarga dan komunitas posyandu terkecil.
Membantu Kader Posyandu Lewat Aplikasi Digital
Selain mengandalkan pelukan hangat para kader di lapangan, Desa Banjararum kini diperkuat oleh sentuhan teknologi terapan bernama Electronic Human Development Worker (e-HDW). Aplikasi digital khusus ini berfungsi layaknya catatan kesehatan pintar di dalam kantong gawai para petugas.
Lewat aplikasi e-HDW, para kader posyandu kini tidak perlu lagi pusing melihat tumpukan buku administrasi yang tebal. Mereka tinggal memasukkan data tinggi badan, berat badan, dan status imunisasi anak langsung dari ponsel pintar.
Aplikasi ini otomatis memetakan keluarga mana saja yang rawan gizi buruk dan mendeteksi bantuan apa saja yang belum mereka terima. Hasil laporan digital (scorecard) inilah yang kemudian dipakai desa sebagai acuan mutlak untuk membelanjakan Dana Desa. Anggaran tidak lagi ditebak-tebak, melainkan langsung menyasar kebutuhan ril anak yang membutuhkan bantuan makanan tambahan.
Pendamping Desa Banjararum mengingatkan pentingnya menjaga akurasi catatan digital ini demi masa depan anak-anak desa.
“Data aplikasi e-HDW ini sangat membantu kader di lapangan untuk mengawal kesehatan balita secara berkala. Aplikasi ini memastikan tidak ada satu pun anak yang terlewat dari layanan kesehatan desa,” jelasnya.
Tantangan Nyata di Meja Makan Warga
Meskipun teknologi sudah membantu dan angka stunting mulai turun, kenyataan di lapangan masih menyisakan banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan bersama.
Asia, salah seorang Kader Pembangunan Manusia (KPM) Desa Banjararum, menceritakan kendala harian yang sering ia temui saat berkeliling dusun.
Banyak balita di desa yang terpaksa diasuh penuh oleh kakek atau neneknya karena kedua orang tua mereka sibuk bekerja di luar rumah. Pola asuh dan pemahaman gizi generasi tua terkadang berbeda dengan standar kesehatan modern saat ini.
“Tantangan lainnya adalah masih ada orang tua yang memilih memeriksakan anaknya ke klinik swasta secara mandiri, tetapi lupa melaporkan hasilnya kepada kader posyandu. Akibatnya, grafik pertumbuhan anak tersebut jadi tidak terpantau di sistem desa,” ungkap Asia jujur.
Melahirkan Inovasi Sederhana yang Membumi
Menyikapi tantangan nyata tersebut, forum Rembuk Stunting kemarin melahirkan sejumlah ide kreatif baru yang akan diterapkan pada tahun 2027 nanti. Desa tidak ingin program kesehatan terasa kaku dan membosankan bagi warga.
Beberapa inovasi yang siap diluncurkan antara lain:
* KPM Digital Squad: Gerakan kader muda yang memanfaatkan media sosial untuk menyebarkan tips memasak makanan sehat secara kreatif dan kekinian.
* Sehat Banjararum: Lomba kreasi menu makanan bergizi dengan memanfaatkan bahan pangan lokal yang murah dan mudah didapat di pekarangan rumah warga.
* KPM Hero Award: Bentuk apresiasi sederhana dari pemerintah desa untuk membakar semangat para kader posyandu yang berprestasi di tingkat dusun.
* Duta Stunting Muda: Merangkul para remaja desa agar peduli pada kesehatan reproduksi dan gizi seimbang sejak dini sebelum mereka membangun rumah tangga.
Melalui perpaduan teknologi aplikasi e-HDW dan ketulusan para kader di lapangan, Desa Banjararum sedang membuktikan sebuah hal mendasar. Penanganan stunting sejati bukanlah soal seberapa besar anggaran yang dihabiskan, melainkan tentang seberapa peduli kita menjaga setiap tumbuh kembang anak di dalam rumah kita sendiri.

Mochamad Fajar Kurniawan adalah Founder Forum Handarbeni Singhasari (FONDASI), CEO Raja Kebab Singosari dan Raja Ayam Geprek Singosari, serta anggota Tim Pendamping Profesional (TPP) Kecamatan Singosari sejak 2017. Alumni SMAN 3 Malang (BHAWIKARSU) dan Universitas Brawijaya ini juga menjadi Pembina Paguyuban Batik Singosari dan Paguyuban Batik Lawang.Jurnalis
Berbekal pengalaman sebagai mantan Pemimpin Redaksi sebuah tabloid di Kota Malang, ia aktif menulis tentang tata kelola pemerintahan desa, pemberdayaan masyarakat, ekonomi lokal, UMKM, pelestarian budaya, dan pembangunan berbasis potensi desa. Melalui tulisan dan kegiatan pendampingan, ia berkomitmen mendorong lahirnya desa-desa yang mandiri, inovatif, dan berkelanjutan.

















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.