Menu

Mode Gelap
Siasat Desa Paenre Lompoe Merajut Prioritas di Tengah Badai Efisiensi APBDes 2027: Strategi Desa Batang Kejar Target Desa Zero Stunting Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa

BUMDes · 6 Jun 2025 01:06 WIB ·

BUMDes Bungo: Raih Miliaran dari Karbon Hutan


					BUMDes Bungo: Raih Miliaran dari Karbon Hutan Perbesar

Bungo, Jambi [DESA MERDEKA] Pemanasan global kian nyata. Di tengah tantangan perubahan iklim, Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) hadir sebagai garda terdepan mitigasi, sekaligus motor penggerak ekonomi hijau. Di Kabupaten Bungo, Jambi, sebuah kisah sukses perdagangan karbon yang melibatkan BUMDes menjadi sorotan, menunjukkan potensi besar peran desa dalam upaya penyelamatan bumi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

BUMDes, Ujung Tombak Perdagangan Karbon di Bungo

Di tengah hamparan hijau Hutan Lindung Bujang Raba, Kabupaten Bungo, Jambi, sebuah inisiatif gemilang dalam perdagangan karbon telah memberikan dampak positif bagi ribuan keluarga. Melalui skema perhutanan sosial, sebanyak 1.259 keluarga yang tergabung dalam kelompok masyarakat setempat berhasil meraup pendapatan fantastis mencapai Rp1,3 miliar dari penjualan kredit karbon.

Kawasan seluas 5.336 hektar ini bukan sekadar hutan biasa. Area ini menyimpan sekitar 5,4 juta ton karbon dioksida, menjadikannya aset berharga dalam pasar karbon sukarela global. Uniknya, seluruh proses pendaftaran dan penjualan kredit karbon difasilitasi oleh ZeroMission, lembaga perantara asal Swedia, menunjukkan kepercayaan internasional terhadap inisiatif lokal ini.

Warga Desa di Kabupaten Bungo, Jambi, menjaga kelestarian hutan sebagai bagian dari upaya konservasi berbasis BUMDes untuk perdagangan karbon.

BUMDes di Bujang Raba memainkan peran sentral sebagai koordinator utama. Mereka mengorganisasi patroli hutan, aktif mencegah deforestasi, dan secara rutin memantau tingkat serapan karbon. Proyek ini tidak hanya berkontribusi signifikan dalam mengurangi emisi gas rumah kaca melalui konservasi, tetapi juga berhasil membangun sistem ekonomi berkelanjutan yang melibatkan masyarakat lokal di setiap tahapannya. Dana yang diperoleh dari penjualan kredit karbon dialokasikan untuk berbagai kebutuhan vital, seperti pembangunan infrastruktur desa, peningkatan akses pendidikan, dan program kesehatan masyarakat. Alhasil, terciptalah efek berganda (multiplier effect) yang nyata bagi kesejahteraan warga desa.

Pemerintah juga melihat potensi ini. Kementerian Desa PDTT dan Kementerian Keuangan bahkan menginisiasi proyek percontohan pengurangan emisi karbon melalui BUMDes di sejumlah desa terpilih. Tujuannya jelas: membuktikan bahwa desa memiliki kapasitas besar untuk menjadi aktor utama dalam mitigasi iklim sekaligus menciptakan sumber pendapatan baru. Strategi yang diterapkan mencakup kombinasi kegiatan seperti agroforestri, pengelolaan sampah terpadu, dan pengembangan energi terbarukan yang emisinya dapat diukur secara akurat.

Misalnya, pengembangan biogas dari limbah ternak oleh BUMDes dapat secara signifikan mengurangi emisi metana, sekaligus menghasilkan listrik untuk kebutuhan masyarakat. Setiap ton metana yang berhasil dihindari setara dengan 25 ton karbon dioksida, yang berarti proyek semacam ini memiliki nilai karbon yang sangat signifikan. Pendapatan dari penjualan kredit karbon kemudian diinvestasikan kembali untuk pengembangan usaha desa, menciptakan siklus ekonomi hijau yang mandiri dan berkelanjutan.

Penting untuk memastikan BUMDes tidak terjebak dalam eksploitasi broker. Mekanisme transparan yang disertai pendampingan teknis dan akses langsung ke pasar menjadi kunci. Kerja sama dengan lembaga internasional seperti ZeroMission di Jambi menunjukkan bahwa BUMDes dapat menjual kredit karbon tanpa perantara yang merugikan. Pelatihan penggunaan platform digital, seperti CarbonX atau Pactum, juga dapat memfasilitasi transaksi langsung antara BUMDes dan pembeli kredit karbon.

Selain itu, pemerintah daerah dapat membentuk klaster karbon yang mempertemukan BUMDes dengan perusahaan yang membutuhkan offset emisi. Contohnya, PT Pertamina telah membeli kredit karbon dari 63 desa dalam program Desa Energi Berdikari, yang berhasil mengurangi 565.978 ton emisi per tahun. Model kemitraan ini tidak hanya menghindari peran broker, tetapi juga memastikan manfaat ekonomi langsung mengalir ke masyarakat.

Kunci Sukses Perdagangan Karbon Berbasis Desa

Keberhasilan proyek perdagangan karbon yang melibatkan BUMDes sangat bergantung pada beberapa faktor krusial:

  • Sertifikasi dan Verifikasi: Proyek karbon BUMDes wajib memenuhi standar internasional, seperti Verified Carbon Standard (VCS) atau Gold Standard, demi menjamin kredibilitas dan akuntabilitas.
  • Kemitraan Multistakeholder: Kolaborasi erat dengan lembaga swadaya masyarakat (LSM), akademisi, dan sektor swasta sangat penting untuk penyediaan teknologi dan pendanaan awal.
  • Transparansi Pengelolaan: Laporan keuangan yang terbuka dan partisipasi aktif masyarakat dalam setiap pengambilan keputusan akan mencegah konflik internal dan memastikan distribusi manfaat yang adil.

Dengan demikian, BUMDes tidak lagi sekadar penonton dalam isu perdagangan karbon global. Mereka adalah aktor utama yang mengubah konservasi lingkungan menjadi sumber kesejahteraan yang inklusif dan berkelanjutan bagi masyarakat desa.

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 79 kali

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Strategi Ekonomi BUMDes Kebunagung Keluar dari Ketergantungan Wisata

27 Juli 2026 - 18:47 WIB

Ayam Petelur BUMDes Kebunagung Jadi Motor Ekonomi Desa

24 Juli 2026 - 15:12 WIB

Menaklukkan Tanah Pesisir, BUMDes Pasiran Panen Tonan Cabai

22 Juli 2026 - 06:01 WIB

Dari Cafe Pelangi, Desa Dengkol Menyiapkan Generasi Z

18 Juli 2026 - 20:08 WIB

Siasat BUMDes Bulukumba Tebar Benih Baru Saat Panen

9 Juli 2026 - 21:04 WIB

Dari Darurat Sampah Menuju Desa Unicorn

20 Juni 2026 - 21:27 WIB

Trending di BUMDes