Menu

Mode Gelap
APBDes 2027: Strategi Desa Batang Kejar Target Desa Zero Stunting Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa Bantah Isu Kontraktor LPJ, PMD Kolaka Utara Siapkan Klinik Desa

OPINI · 7 Feb 2026 20:05 WIB ·

Bonus Demografi atau Bencana Demografi? Bom Waktu Pengangguran Indonesia


					Ilustrasi Gambar : Sumber Ai Chat GPT Perbesar

Ilustrasi Gambar : Sumber Ai Chat GPT

Opini [DESA MERDEKA] Magdalena  Effendi, S.Stat.,M.Stat. Dosen Prodi Statistika, Institut Teknologi Kalimantan

Dinamika ketenagakerjaan Indonesia hingga 2025 masih menunjukkan persoalan struktural yang belum sepenuhnya teratasi. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) per Agustus 2025 berada pada angka 4,85 persen, atau setara dengan 7,46 juta orang yang belum terserap dalam pasar kerja nasional.

Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS, Moh Edy Mahmud, menyampaikan bahwa jumlah tersebut merupakan angkatan kerja yang tidak terserap oleh pasar kerja. Data ini dihimpun melalui indikator Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) yang digunakan untuk menggambarkan tingkat pemanfaatan pasokan tenaga kerja.

Secara agregat, angka pengangguran tersebut memang menunjukkan penurunan tipis dibandingkan Agustus 2024. Namun, jika dikaitkan dengan total angkatan kerja yang mencapai sekitar 154 juta orang, maka dari setiap 100 orang angkatan kerja masih terdapat hampir lima orang yang berstatus menganggur. Kondisi ini menunjukkan bahwa pertumbuhan kesempatan kerja belum sepenuhnya mampu mengimbangi laju pertambahan angkatan kerja.

Dalam perspektif statistik ketenagakerjaan, TPT merupakan indikator utama untuk menggambarkan ketidakterserapan tenaga kerja. Oleh karena itu, meskipun terjadi penurunan secara tahunan, level pengangguran yang masih berada di atas tujuh juta orang tetap menjadi sinyal peringatan bagi stabilitas ekonomi dan sosial.

Kesenjangan Wilayah: Perkotaan Masih Menyumbang Pengangguran Lebih Tinggi

Berdasarkan Berita Resmi Statistik BPS November 2025, tingkat pengangguran di wilayah perkotaan tercatat lebih tinggi dibandingkan perdesaan. TPT perkotaan mencapai 5,75 persen, sementara perdesaan berada di angka 3,47 persen.

Data tersebut menunjukkan adanya tekanan pasar kerja yang lebih besar di kawasan perkotaan. Tingginya mobilitas penduduk dan konsentrasi pencari kerja di kota-kota besar tidak selalu diiringi dengan pertumbuhan lapangan kerja yang sebanding.

Pengangguran Usia Muda: Tantangan Transisi Pendidikan ke Dunia Kerja

Jika ditinjau berdasarkan kelompok usia, pengangguran di Indonesia masih didominasi oleh kelompok usia 15–24 tahun dengan TPT mencapai 16,89 persen. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan kelompok usia 25–59 tahun yang berada di 2,93 persen, serta kelompok usia 60 tahun ke atas sebesar 1,71 persen.

Secara statistik, tingginya pengangguran usia muda menunjukkan bahwa kelompok ini masih menghadapi tantangan dalam memasuki pasar kerja, khususnya pada masa transisi dari dunia pendidikan ke dunia kerja.

Latar Belakang Pendidikan dan Paradoks Lulusan Terampil

Ditinjau dari tingkat pendidikan, lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) masih mencatat tingkat pengangguran tertinggi, yakni 8,63 persen, disusul lulusan SMA sebesar 6,88 persen, dan lulusan perguruan tinggi (Diploma IV hingga S3) sebesar 5,39 persen.

Di sisi lain, data Sakernas November 2025 menunjukkan bahwa 34,63 persen penduduk bekerja berpendidikan SD ke bawah, sementara pekerja lulusan perguruan tinggi hanya sebesar 10,81 persen. Kondisi ini mencerminkan bahwa struktur pasar kerja Indonesia masih didominasi sektor-sektor yang tidak memerlukan kualifikasi pendidikan tinggi.

Dominasi Sektor Informal dan Risiko Jangka Panjang

Struktur ketenagakerjaan nasional juga masih didominasi sektor informal. BPS mencatat sebanyak 57,70 persen penduduk bekerja berada di sektor informal, sementara sektor formal hanya menyerap 42,30 persen tenaga kerja.

Dalam rilis terpisah, Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti menyampaikan bahwa per November 2025 jumlah pengangguran tercatat sebanyak 7,35 juta orang, menurun dibandingkan Agustus 2025. Penurunan ini sejalan dengan meningkatnya jumlah penduduk bekerja yang mencapai 147,91 juta orang, serta bertambahnya jumlah angkatan kerja menjadi 155,27 juta orang.

Kondisi tersebut turut mendorong Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) turun menjadi 4,74 persen, dengan Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) mencapai 70,95 persen.

Data sebagai Alarm Kebijakan

Berbagai indikator statistik tersebut menunjukkan bahwa persoalan pengangguran di Indonesia tidak hanya berkaitan dengan jumlah lapangan kerja, tetapi juga struktur ketenagakerjaan, kualitas pekerjaan, dan kesesuaian antara pendidikan dan kebutuhan pasar kerja.

Tanpa intervensi kebijakan yang terarah, reformasi pendidikan, penguatan sektor formal, dan penciptaan lapangan kerja bernilai tambah, bonus demografi Indonesia berisiko menjadi beban sosial di masa depan.

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 35 kali

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Keadilan Kurban: Mengalirkan Berkah Hingga ke Pelosok Desa

29 Mei 2026 - 21:01 WIB

Kurban Negara: Antara Keadilan Sosial dan Ekonomi Desa

29 Mei 2026 - 15:32 WIB

Membongkar Jurnalisme Feodal dalam Narasi Pembangunan Desa

29 Mei 2026 - 14:08 WIB

Bahaya Fenomena Candu Seremoni dalam Komunikasi Pembangunan Desa

28 Mei 2026 - 17:45 WIB

Sapi Kurban Presiden: Jejak Ekonomi di Kandang Desa

28 Mei 2026 - 14:51 WIB

Filosofi Idul Adha: Cermin Ketulusan Pendamping Desa di Lapangan

27 Mei 2026 - 16:29 WIB

Trending di OPINI