Oleh : Jayanto Arus Adi*
Ada duet rasa duel, sekadar sinyalemen, atau anomali empirik yang layak kita cermati. Duet Prabowo-Gibran adalah pahatan peradaban yang menggoreskan banyak catatan. Proses ini dapat dianalogikan seperti bayi tabung. Secara normal duet ini susah diurai dalam narasi sederhana. Karenanya dalam perjalananya duet Prabowo-Gibran mencuatkan berbagai riak, goncangan, euforia sampai tsunami politik yang tidak biasa.
Secara etik, secara filosofis, juga kultural kita merasakan, dan menyasikan fenomena ganjil alias sungsang dari tapak-tapak negeri ini, seperti yang kita lihat, saksikan di depan mata. Bangsa ini seperti sedang masuk angin alias bocor alus, jadi ibarat mobil lajunya goyang-goyang. Untuk ukuran standar atau normal mestinya tak laik jalan, tapi apa boleh buat dipaksakan.
Sebagian penumpang mobil sudah teriak-teriak. Simak keluh kesah yang menguar ke publik. Ada yang minta jangan nekad jalan, tapi mesti ganti ban dulu. Ada juga yang usul percuma ganti ban, sebaiknya mobil dibereskan di-overhaul alias turun mesin dulu. Berupa-rupa usul bersahutan, tak luput mencuat juga diskursus revolusioner.
‘’Kok ribut, ini bukan soal ban, bukan soal mesin. Mobil ini masih bagus, bukan hanya bagus. Mobilnya istimewa, limited edition yang nggak becus sopirnya. Atau kalau bukan sopir ya kernetnya. Kernet kok rasa sopir. Ambyaarlah,’’ begitu kata Togog, mahasiswa dari Kota Candu. Togog santri yang lama nyantrik di Pondok Pesantren Alam Semesta belakangan vokal, saking vokalnya dia dikerubuti banyak orang.
Togog naik daun, saben hari muncul di TV, mejeng di media, baik cetak maupun online. ‘’Waah waaah waaah, Togog kondang. Ada yang bilang Roy Suryo, Simon Sianipar, bahkan Gus Bahak kalah populer,’’ begitu komentar pengamat yang marak di unggahan Podcas.
Fenomena Togog jadi anomali, kok masih ada mahasiswa yang lumayan waras. Kecenderungan yang jamak mahasiwa zaman now sudah ogah berfikir kritis. Ya buat apa kritis, vokal, apalagi panas-panasan ikut demo. Berisiko, salah-salah kena gebug aparat, atau jika sekadar nyinyir hajar sana, hajar sini bisa-bisa diculik juga.
‘’Aaah itu khan dulu. Udah nggak zaman lagi. Lagian siapa yang mau nyulik, wong yang kasih perintah udah pensiun. Mbabok lu, kebanyakan minum air putih,’’sergah mantan aktivis yang kini sudah tobat karena sudah jadi anggota DPR.
Sang legislator lantas bercerita ikhwal gerakan mahasiswa zaman sekarang yang telah jauh bergeser dari aras idealismenya. Kini gerakan atau lebih pas sebagai aksi kental bau amis transaksi yang mendistorsi predikat sakralnya sebagai benteng moral. Istilah demo bayaran, atau maju tak gentar membela yang bayar bukan lagi sebuah aib.
Tragis dan ironisnya, pergeseran terjadi tidak hanya pada oknum-oknum secara personal, namun menjalar sampai pada institusi kampus, sebut BEM, Senat maupun pendidikan tinggi itu sendiri. Jika sudah seperti ini apa lagi yang bisa diharapkan??
Purnawirawan TNI Marah
Munculnya gerakan dari Forum Purnawirawan Prajurit TNI yang sempat melayangkan tuntutan terbuka menjadi sebuah penanda, sekaligus tengara tersendiri. Saat ini bangsa kita memasuki fase yang disebut sebagai zaman kalabendu.
Kala bendu atau zaman sungsang adalah era di mana hukum ditransaksikan, moral bukan merepresentasikan kehormatan, tetapi tak luput sekadar komoditi. Jargon asu gedhe menang kerahe. Yang berlaku adalah hukum rimba.
Dalam konteks ini pemimpin tidak lahir dari sebuah ritus panjang yang namanya meritokrasi. Sebaliknya dia tampil karena daulat kuasa, daulat bendawi. Kedudukan, drajat, pangkat, semat yang dipahami sebagai achieve menjadi kurang memiliki legacy karena manifestasi wahyu, pulung tidak menyertai.
Kedudukan dan jabatan yang diperoleh melalui cara-cara seperti itu (baca beli) akhirnya membawa tumbal. Tumbal pertama adalah tidak amanah dengan rakyat bukan sebagai muara pengabdian. Kesetiaan mereka pada sang tuan, tidak pada sistem dan pasti mendistorsi kualitas dan kinerjanya.
Ketika institusi, dalam skala apa pun dilola atas dasar manajemen maju tak gentar membela yang bayar sudah pasti fighting spirit nol besar. Ibarat sebuah tim sepakbola pemain sudah dibeli, maka kehancuran hanya soal waktu. Amit-amit berbagai persoalan kita (baca negeri ini) larut dalam kubangan formalisme belaka.
‘’Yok opo rek, jabatan tuku, kedudukan tuku, sekolah tuku, pelanggar gak dihukum, karena mbayar, apa yang bisa diharapkan,’’gerutu Cak Wik yang malam itu jaga Sisklampling.
Dia menggerutu negeri ini terseret di pusaran krisis yang tak kunjung habis. Korupsi mencapai ratusan triliun. Yang tambah hati ‘mbhedhedheg’ senopati pemberantas korupsi amit-amit koruptor kakak juga. ‘’Iki apa maneh, dudu sinetron, dudu film tapi beneran. Polisi menggeladah rumah Jampidsus ratusan miliar diangkut, dan 74 emas batangan. Ameh ngomong opo maneh dirimu,’’begitu Cak Wik nerocos penuh ;ngemosi’ !
Melihat kondisi bangsa yang remuk redam seperti ini, wajar kita semua bersedih. Rasanya tidak ada harapan Indonesia kita bakal menjadi ‘baldhatun thoyibatun warobun ghofur’. Makin ke sini, korupsi makin menjadi-jadi. Kata Kang Dedi Mulyadi, bangsa kita lebih kejam daripada kolonialis Belanda.
Kata-kata KDM (Kang Dedi Mulyadi) jangan dipahami secara harfiah, karena sesungguhnya sebuah ironi. ‘’Belanda menjajah kita (Indonesia) 300 tahun, tapi meninggalkan hal-hal baik. Perkebunan menghampar luas, rel kereta api kokoh membentang. Sungai bening, bangunan-bangunan kukuh. Astahfirullah, kita 80 tahun merdeka semua rusak. Jalan-jalan hancur, sungai keruh, hutan habis dibabat. Bencana-bencana, banjir, kekeringan, kebakaran karena ulah kita sendiri,’’begitu kata Dedi Mulyadi.
Kata-kata itu membuat saya lemas, tak berdaya, pingsan. Dalam pingsan saya bermimpi, sepertinya Dedi Mulyadi menjadi Presiden. Begitu terbangun, saya menangis, ya menangsis meratapi bangsa ini. Tabik.
Jayanto Arus Adi, Wartawan Senior, Ahli Pers Dewan Pers, Dewan Pendiri MobileJurnalist Indonesia. Wakil Ketua SMSI Pusat.
Team Redaksi Untuk Kiriman Rilis Berita
Email : mydesamerdeka@gmail.com


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.