Bojonegoro, Jawa Timur [DESA MERDEKA] – Strategi pengentasan kemiskinan di Kabupaten Bojonegoro kini punya amunisi baru. Bukan lagi sekadar bantuan tunai, Pemerintah Kabupaten Bojonegoro menggandeng pakar dari Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Airlangga (Unair) untuk menyulap Desa Palembon, Kecamatan Kanor, menjadi sentra bebek petelur unggulan.
Sinergi ini menandai babak baru dalam pemberdayaan ekonomi desa melalui peluncuran Desa Binaan 2026–2030. Tak tanggung-tanggung, sebanyak 40 dosen ahli diterjunkan untuk mengawal 20 keluarga penerima manfaat agar sukses berwirausaha bebek petelur, mulai dari teknis pemeliharaan hingga pengobatan herbal untuk ternak.
Wakil Bupati Bojonegoro, Nurul Azizah, menegaskan bahwa bebek petelur dipilih karena memiliki ritme ekonomi yang cepat dan stabil. “Bebek petelur punya nilai ekonomi tinggi. Telurnya mudah diolah menjadi berbagai produk turunan, sehingga sangat potensial untuk menambah saldo tabungan keluarga secara mandiri,” ungkapnya saat penyerahan bantuan secara simbolis, Selasa (27/1/2026).
Transformasi Ekonomi Lewat “Pasukan Sayap”
Dalam kegiatan ini, setiap paket bantuan yang diterima warga meliputi 17 ekor bebek petelur siap produksi, 50 kilogram pakan berkualitas, serta uang tunai Rp300 ribu sebagai modal operasional awal.
Pemilihan Desa Palembon sebagai proyek percontohan (pilot project) didasarkan pada potensi geografis dan komitmen pemerintah desa yang kuat. Sekretaris Dinas Peternakan dan Perikanan Bojonegoro, Elfia Nuraini, menyebutkan bahwa pendampingan teknis ini akan berlangsung secara struktural hingga tahun 2030 untuk memastikan sistem peternakan berkelanjutan benar-benar terbentuk.
Integrasi Data dan Keberlanjutan Program
Program bebek petelur ini merupakan pelengkap dari ekosistem pemberdayaan ekonomi yang sudah ada di Bojonegoro, seperti:
- Ayam Gayatri: Menjangkau 5.400 keluarga.
- Domba Kesejahteraan: Menyasar 1.200 keluarga.
- Lele Kolega: Fokus pada budidaya perikanan air tawar.
Hingga saat ini, total sekitar 10 ribu keluarga di Bojonegoro telah merasakan dampak dari program kemandirian ekonomi tersebut. Agar bantuan tidak tumpang tindih, Wabup Nurul Azizah memastikan akan ada pemutakhiran Data Terpadu Sosial Ekonomi Nasional. Nantinya, skema bantuan ini akan dipadukan dengan Program Keluarga Harapan (PKH) dan Bantuan Pangan Non-Tunai (BPNT) agar warga mendapatkan dukungan yang komprehensif.
Dekan FKH Unair, Lilik Maslahah, berharap Desa Palembon tidak hanya menjual telur mentah, tetapi mampu mengolahnya menjadi produk bernilai tambah. Dengan pendampingan dari para akademisi, diharapkan risiko penyakit ternak dapat ditekan seminimal mungkin melalui penerapan standar kesehatan hewan yang ketat.
Redaksi Desa Merdeka

















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.