Paguyuban Banteng Suro Rayakan Dua Tahun, Komitmen Lestarikan Seni Kuda Kepang di Pringsewu
Pringsewu, Lampung [DESA MERDEKA] – Paguyuban Banteng Suro, sebuah perkumpulan yang mewadahi kelompok kesenian kuda kepang di Kabupaten Pringsewu, Lampung, menyelenggarakan acara besar bertajuk Grebek Suro dalam rangka memperingati Bulan Asyura 1447 Hijriah sekaligus merayakan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-2 paguyuban tersebut. Acara yang mengusung tema “Merajut Tali Kerabat Mengikat dengan Erat Melangkah Menebar Manfaat” ini sukses digelar di Lapangan Pekon Tritunggal Mulyo, Kecamatan Adiluwih, pada Sabtu, 19 Juli 2025.
Perayaan ini menjadi penegasan komitmen Paguyuban Banteng Suro yang dibentuk pada 1 Suro tahun 2023, untuk terus menjaga, melestarikan, dan memajukan seni dan tradisi Jawa, khususnya kesenian kuda kepang, di kancah daerah hingga nasional.
Dihadiri Pejabat Tinggi dan Jaga Sinergitas
Acara Grebek Suro yang menandai ulang tahun kedua ini dihadiri oleh berbagai tokoh penting, menunjukkan dukungan serius dari pemerintah daerah dan aparat keamanan terhadap pelestarian seni budaya lokal. Tamu undangan yang hadir meliputi Bupati Pringsewu, perwakilan dari Kodim 0424 Tanggamus (diwakili Pelda Kodri), Koramil Sukoharjo, Polsek Sukoharjo, Kesbangpol, Disdikbud, Camat Adiluwih, Kepala Pekon Tritunggal, Ormas Granat, serta para ketua grup kuda kepang se-Kabupaten Pringsewu.
Dalam sambutannya, Ketua Umum Paguyuban Banteng Suro, Linus Erwin, berharap paguyuban ini tidak hanya menjadi wadah seni dan budaya, tetapi juga mampu menjadi jembatan komunikasi yang efektif dengan berbagai pihak terkait. Tujuannya adalah memastikan seni dan tradisi Jawa dapat terus dirawat dan dijaga keberlangsungannya.
“Kami berharap Paguyuban Banteng Suro dapat menjadi perpanjangan tangan untuk menjembatani komunikasi dengan pihak-pihak terkait dalam upaya menjaga dan merawat seni-budaya kita ini,” jelas Linus.
Kedepankan Prinsip ‘Telu Eng’ dan Kekeluargaan
Linus juga menekankan bahwa Paguyuban Banteng Suro memiliki pedoman prinsip yang dipegang teguh, yang dikenal dengan ‘Telu Eng’: 1. Ngalah (mengalah), 2. Ngalih (berpindah atau menghindari konflik), dan 3. Ngamuk (marah, digunakan sebagai pilihan terakhir dalam mempertahankan kehormatan). Prinsip-prinsip tersebut diupayakan untuk selalu diterapkan dalam setiap kegiatan dan pementasan.
Di akhir sambutannya, Linus Erwin menyerukan kepada seluruh anggota Paguyuban agar selalu mengedepankan rasa kekeluargaan dan persatuan sebagai insan seni budaya. Upaya ini merupakan bagian dari misi besar mereka dalam mengangkat seni budaya kuda kepang ke kancah nasional dan mengharumkan nama Kabupaten Pringsewu.
Sementara itu, Pelda Kodri, yang mewakili Dandim 0424 Tanggamus, menyampaikan apresiasi dan ucapan selamat ulang tahun. Ia berharap Paguyuban Banteng Suro terus solid, menjaga kekeluargaan, dan memperkuat sinergitas dengan Pemerintah Kabupaten Pringsewu.
“Kami berharap kegiatan ini terus dilakukan, guna melestarikan adat dan senibudaya kita, serta memperkuat jalinan silaturahmi antar warga masyarakat, dengan saling meningkatkan kepedulian terhadap mereka yang membutuhkan,” ujar Pelda Kodri, menegaskan pentingnya peran komunitas budaya dalam mempererat hubungan sosial. Acara Grebek Suro ini pun menjadi bukti nyata bahwa seni budaya dapat menjadi sarana efektif dalam merajut kebersamaan dan menebar manfaat di tengah masyarakat Pringsewu.

Penulis merupakan anak desa yang ingin memuliakan desa serta menjunjung tinggi marwah dan cita – cita desa


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.