Padang Pariaman, Sumatera Barat [DESA MERDEKA] – Langkah kaki seorang gadis tangguh asal Padang Pariaman kini tidak lagi hanya melintasi jalanan tanah pedesaan, melainkan bersiap menembus ruang-ruang bioskop nasional. Proses syuting film Nia Kurniasari resmi dimulai dengan mengambil latar awal di SMA INS Kayu Tanam, Kabupaten Padang Pariaman. Kehadiran Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi Ansharullah, di lokasi syuting menegaskan bahwa sinema ini bukan sekadar komoditas hiburan komersial, melainkan sebuah monumen edukasi tentang daya juang anak desa yang menolak kalah oleh keadaan.
“Film ini bukan hanya sekadar hiburan, tetapi juga menjadi media edukasi yang sangat berharga,” ujar Gubernur Mahyeldi di sela-seles aktivitas produksi.
Menurutnya, kisah hidup Nia mengajarkan banyak hal fundamental tentang esensi kerja keras, determinasi tinggi, serta komitmen mendalam terhadap keluarga. Melalui sudut pandang sinematik, potret kemiskinan desa tidak lagi dieksploitasi sebagai kesedihan, melainkan sebagai bahan bakar moral bagi generasi muda.
Menariknya, karya layar lebar bertajuk “Tragedi Nia Kurniasari” ini dikemas melebihi batasan sebuah biopik konvensional. Pihak produser sengaja mengintegrasikan lanskap alam dan kekayaan budaya Sumatera Barat sebagai panggung utama cerita. Penonton nantinya akan disuguhi visualisasi lokasi ikonik yang memanjakan mata, mulai dari riak tenang Danau Maninjau hingga kemegahan dinding batu Lembah Harau.
“Kami berharap film ini dapat menjadi sarana promosi pariwisata Sumatera Barat,” ungkap produser film tersebut.
Langkah ini menjadi strategi jitu untuk mendorong sektor pariwisata berbasis komunitas di pedesaan sekitarnya. Selain itu, ada misi kultural untuk menginspirasi generasi muda agar kembali menoleh, menghargai, dan merawat warisan leluhur mereka yang mulai luntur diterjang modernisasi.
Pesan moral yang diembankan dalam durasi visual ini tergolong mendalam. Narasi film Nia Kurniasari bertumpu pada tiga pilar utama: arti penting bakti anak terhadap orang tua, keteguhan hati melewati batas kesulitan hidup, serta penyemaian kembali nilai kejujuran dan kepedulian sosial yang kian langka. Panggung sinema ini diharapkan mampu memicu lahirnya sineas-sineas muda dari daerah untuk berani berkarya. Gubernur Mahyeldi memungkasi optimisme tersebut, “Mari kita jadikan kisah Nia sebagai motivasi untuk terus berjuang dan meraih cita-cita.”
















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.