Bireun, DI Aceh [DESA MERDEKA] – Di saat prosedur pembangunan Hunian Tetap (Huntap) dari pemerintah pusat sering kali terjebak dalam proses administrasi yang panjang, aksi nyata justru datang secara spontan di pelosok Kabupaten Bireuen. Nek Ti Gade (73), warga Gampong Salah Sirong yang kehilangan rumah akibat terseret arus banjir, kini tak lagi harus luntang-lantung berkat respons kilat anggota DPR RI Fraksi PKB, H. Ruslan M. Daud (HRD), Minggu (8/2/2026).
Tragedi yang menimpa Nek Ti tergolong ekstrem; rumahnya bukan sekadar rusak, melainkan habis dibawa arus hingga halamannya berubah menjadi aliran sungai. Pertemuan emosional terjadi saat HRD sedang meninjau proyek jembatan di wilayah tersebut pada Sabtu (7/2/2026). Nek Ti yang putus asa mendekati sang legislator untuk meminta tempat bernaung sementara.
“Saya memohon kepada Bapak HRD, jika hunian dari pemerintah belum jelas, tolong buatkan tempat berteduh meski hanya dari bambu. Yang penting saya ada tempat bernaung,” kenang Nek Ti dengan isak tangis haru.
Memotong Rantai Birokrasi Demi Kemanusiaan
Respons HRD yang langsung memerintahkan pembangunan Hunian Sementara (Huntara) menjadi oase bagi warga pedalaman Jeumpa. Langkah ini dianggap out of the box karena memprioritaskan fungsi hunian darurat secara mandiri tanpa menunggu kucuran dana bantuan sosial formal yang biasanya memakan waktu berbulan-bulan.
Ketua DPAC PKB Kecamatan Jeumpa, Gussalim (Bos Agus), mengonfirmasi bahwa seluruh material bangunan sudah disiapkan atas instruksi langsung HRD. Fokus utamanya adalah memastikan Nek Ti memiliki atap yang layak sebelum memasuki bulan suci Ramadan yang tinggal menghitung hari.
Doa untuk Sang Legislator
Bagi Nek Ti, Huntara ini lebih dari sekadar bangunan kayu dan bambu, melainkan martabat di masa senja. “Saya mendoakan Bapak HRD panjang umur dan sehat. Beliau peduli pada kami yang tinggal jauh di pedalaman ini,” ungkapnya tulus.
H. Ruslan M. Daud secara terpisah mengonfirmasi bahwa tindakan tersebut murni merupakan bentuk kepedulian kemanusiaan. Aksi ini menjadi pengingat bagi para pengambil kebijakan bahwa bagi korban bencana, kecepatan bantuan sering kali jauh lebih berharga daripada janji pembangunan besar yang baru terealisasi di masa depan.
Redaksi Desa Merdeka


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.