Jejak Sunyi di Lembah Pusako
Oleh Deddi Ajir
Episode 35: Festival Budaya Tahunan ke-2
(Lembah Pusako Menjadi Panggung Dunia)
Tahun kedua festival budaya digelar di Lembah Pusako datang dengan gegap gempita yang tak pernah dibayangkan oleh para tetua adat beberapa tahun lalu. Desa yang dulu hanya dikenal karena sawah yang hijau dan aliran sungai yang jernih kini menjadi buah bibir di berbagai media sosial dan portal wisata. Ketika pengumuman resmi festival budaya tahunan muncul, lengkap dengan daftar artis nasional dan tamu internasional yang akan hadir, udara desa seolah bergetar oleh harapan baru. Penduduk seperti tak sabar menunggu bagaimana tahun ini akan mengubah wajah Lembah Pusako lagi.
Jauh sebelum panggung didirikan dan kain dekorasi digantung, persiapan sudah dimulai berbulan-bulan sebelumnya. Raka, yang kini tidak hanya dikenal sebagai tokoh muda tapi juga penggerak inovasi desa, kembali dipercaya menjadi koordinator acara. Sari mengatur bagian kesenian, memastikan setiap penampilan tradisional tetap mendapat ruang terhormat walaupun festival kini jauh lebih modern. Ninik mamak memegang kendali pada urusan adat, memastikan festival yang meriah ini tidak mengikis nilai-nilai luhur yang menjadi dasar kehidupan masyarakat.
“Festival harus berkembang, tapi akarnya jangan tercabut,” kata salah seorang ninik mamak dalam rapat besar. Kalimat itu menjadi prinsip yang memandu seluruh persiapan.
Dari pagi hingga malam, anak-anak muda bekerja memasang lampu warna-warni, mengecat gerbang festival dengan motif ukiran Minangkabau, dan membangun panggung raksasa yang dikerjakan oleh gabungan tenaga lokal dan teknisi profesional dari kota. Para ibu mempersiapkan aneka makanan khas: lamang tapai, palai bada, galamai, kipang kacang, hingga rendang yang diolah dalam jumlah besar. Aroma santan, rempah, dan bara kayu menyelimuti udara sepanjang minggu sebelum festival. Di bagian lain, para pengrajin anyaman bambu, pandai besi, serta pembuat songket bekerja siang malam karena pesanan melonjak berkali lipat. Banyak dari mereka yang baru pertama kali merasakan hasil karya tradisi dihargai begitu luas.
Ketika hari pertama festival tiba, desa berubah menjadi lautan manusia. Wisatawan datang dari berbagai kota—Padang, Pekanbaru, Medan, bahkan Jakarta. Bus pariwisata hilir mudik membawa rombongan. Mobil pribadi memadati jalan desa, sehingga panitia harus membuat jalur satu arah agar tidak terjadi kemacetan panjang. Namun yang paling mencuri perhatian adalah rombongan wisatawan dari Jepang, Korea Selatan, dan Belanda yang datang khusus untuk mempelajari musik tradisi dan pola ukiran Minang.
Di pintu masuk festival, para pengunjung disambut oleh pertunjukan gandang tasa yang menghentak-hentak, menggetarkan dada dan membuat banyak orang tak sengaja mengikuti iramanya. Anak-anak kecil berlari sambil menari-nari, sementara orang dewasa merekam suasana dengan ponsel masing-masing. Di sudut lain, para ibu menjual kain sarung dan selendang warna-warni. Suasana begitu hidup, penuh tawa, penuh wajah-wajah kagum.
Puncak acara malam pertama adalah penampilan artis nasional yang sudah lama ditunggu. Panggung besar diterangi cahaya LED yang berkelip seperti bintang. Ketika artis itu muncul membawa lagu yang memadukan musik modern dan instrumen talempong, ribuan penonton bersorak. Namun yang membuat festival tahun ini benar-benar berbeda adalah kehadiran artis internasional—seorang penyanyi folk asal Kanada yang sengaja datang untuk berkolaborasi dengan musisi tradisional Lembah Pusako. Kolaborasi itu memadukan seruling bambu dengan gitar akustik, menciptakan suasana magis yang membuat banyak orang menahan napas. Musik itu seperti menyatukan dunia luar dan desa kecil yang damai ini dalam satu harmoni.
Tetapi festival ini tidak hanya soal panggung besar dan artis terkenal. Di area tengah, berdiri arena kesenian tradisi yang menjadi jiwa utama acara. Para maestro tari piring, randai, silek tuo, dan dendang Pauh ditampilkan dengan bangga. Namun kali ini, ada sesuatu yang berbeda: panggung itu dipenuhi anak-anak muda yang sudah dilatih selama berbulan-bulan. Mereka menari dengan percaya diri, memperlihatkan bahwa seni tradisi bukan hanya milik generasi tua. Tepuk tangan meriah menggema setiap kali mereka menyelesaikan gerakan yang sulit. Melihat itu, para tetua adat tersenyum bangga—seni tradisi mereka tidak akan lenyap; ia hidup kembali dalam tubuh generasi baru.
Pasar wisata juga menjadi magnet besar festival. Ada ratusan stan menjual makanan, kerajinan, karya seni, dan produk UMKM desa. Para pengunjung antre membeli kopi Lembah Pusako yang mulai dikenal karena aromanya yang kuat. Ada pula stan yang menampilkan demo membuat songket. Seorang wisatawan Swiss bahkan membeli empat helai sekaligus untuk dibawa pulang sebagai koleksi pribadi. Sementara itu, anak-anak muda yang berjualan minuman tradisional seperti saribuah mendapat keuntungan besar. Mereka tak pernah menyangka bahwa resep-resep tua yang biasa dibuat untuk acara adat bisa diminati wisatawan asing.
Untuk pertama kalinya sejak festival digelar, pemerintah provinsi mengirimkan tim dokumentasi profesional dan menawarkan kerja sama jangka panjang. Bahkan beberapa agen perjalanan wisata mulai memasukkan festival budaya Lembah Pusako dalam paket tur resmi. Desa yang dulu sunyi kini menjadi sorotan. Tidak sedikit penduduk yang terharu karena melihat Lembah Pusako mendapatkan pengakuan yang selama ini hanya mereka impikan.
Namun di balik kemeriahan itu, ada momen yang lebih tenang tetapi menyentuh. Pada malam kedua, setelah penampilan randai yang memukau, Raka naik ke panggung untuk memberi sambutan singkat. Dengan suara yang agak bergetar, ia mengatakan bahwa festival ini bukan hanya tentang pariwisata. Festival ini adalah cara desa menjaga jati diri dan menunjukkan kepada dunia bahwa budaya bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan sumber kehidupan yang terus memberi napas.
“Kita boleh mengundang artis nasional dan internasional,” katanya, “tapi jiwa festival tetap milik Lembah Pusako. Kita yang harus menjaganya. Kita yang harus membuatnya tetap berakar.”
Kata-kata itu membuat penonton hening sejenak. Angin malam mengalir perlahan, membawa suara sungai dan aroma tanah basah. Di tengah sorot lampu panggung, wajah-wajah masyarakat bersinar oleh rasa bangga yang sulit diungkapkan.
Festival budaya tahun ini berakhir dengan pesta kembang api yang memecah langit malam. Warnanya memantul di permukaan sawah dan wajah-wajah penonton yang menengadah. Dalam kilatan cahaya itu, tampak betapa desa ini berubah. Lembah Pusako tidak lagi sekadar kampung di kaki bukit; ia telah menjadi tempat di mana budaya bertemu dunia, di mana tradisi hidup berdampingan dengan inovasi, dan di mana harapan masa depan tumbuh begitu kuat seperti akar pohon surian.
Festival budaya tahunan ini telah membuka jalan baru bagi Lembah Pusako—jalan yang menuntun desa kecil itu menjadi pusat perhatian, bukan hanya karena keindahan alamnya, tetapi karena kekayaan budaya yang dijaga, dirawat, dan dipersembahkan kepada dunia dengan sepenuh hati. (DA)
Saya seorang pensiuan berpengalaman di bidang pemerintahan dengan kemampuan analisis dan komunikasi yang baik. Terbiasa bekerja secara tim maupun mandiri, saya selalu berkomitmen memberikan hasil terbaik dan terus belajar untuk berkembang.


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.