Opini [DESA MERDEKA] –
Menuntaskan Anak Tidak Sekolah di Desa : Mengapa PKBM adalah Kunci?
Angka Anak Tidak Sekolah (ATS) masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi pembangunan daerah, khususnya di tingkat desa. Di balik megahnya pembangunan fisik desa, bayang-bayang anak-anak usia sekolah yang putus karena kendala ekonomi, geografis, maupun sosial masih nyata adanya. Menghadapi tantangan ini, sekolah formal saja tidak cukup. Dibutuhkan jembatan yang fleksibel namun tetap berkualitas, dan jembatan itu bernama Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM). PKBM bukan sekadar penyelenggara ujian Kejar Paket A, B, atau C. Lebih dari itu, lembaga non-formal berbasis masyarakat ini adalah garda terdepan untuk menyelamatkan masa depan generasi muda di desa yang terlempar dari sistem persekolahan konvensional.
3 Alasan Mengapa PKBM Vital untuk Penuntasan ATS di Desa
Ada tiga alasan utama mengapa intervensi PKBM jauh lebih efektif dalam menyisir dan menyelesaikan masalah ATS langsung di akar rumput:
1. Pendekatan yang Fleksibel dan Ramah Kondisi Siswa
Banyak anak di desa terpaksa berhenti sekolah karena harus bekerja membantu orang tua di ladang, pasar, atau laut. PKBM menawarkan fleksibilitas waktu belajar yang tidak mungkin didapatkan di sekolah formal. Hal ini membuat anak-anak tetap bisa produktif membantu keluarga tanpa harus mengorbankan hak pendidikan mereka
2. Berbasis Komunitas dan Minim Sekat Psikologis.
Seringkali, anak yang sudah terlanjur putus sekolah merasa minder atau malu untuk kembali ke kelas formal karena faktor usia yang sudah tertinggal. PKBM, yang biasanya dikelola oleh tokoh lokal dan bertempat di lingkungan desa sendiri, menghadirkan ruang belajar yang lebih inklusif, merangkul, dan minim tekanan psikologis.
3. Kurikulum Integratif: Pendidikan + Keterampilan Berusaha
PKBM tidak hanya mengejar ijazah kesetaraan. Kekuatan utama PKBM terletak pada program pemberdayaan dan kursus keterampilan (vokasi) yang disesuaikan dengan potensi desa,seperti pertanian modern, kerajinan, hingga literasi digital. Ini memberikan jaminan bahwa setelah lulus, mereka memiliki keahlian konkret untuk mandiri secara ekonomi.
Kolaborasi: Langkah Nyata yang Harus Diambil
Mengandalkan PKBM berjalan sendiri tentu tidak akan maksimal. Penuntasan ATS di desa membutuhkan sinergi kolektifkolekti
1. Pemerintah Desa (Pemdes): Harus aktif melakukan pemutakhiran data by name by address terkait anak-anak yang putus sekolah, kemudian mengalokasikan sebagian Dana Desa untuk memfasilitasi operasional atau beasiswa santri/siswa di PKBM setempat.
2. Masyarakat dan Tokoh Agama : Berperan penting memutus stigma negatif tentang “sekolah paket” dan terus memotivasi orang tua agar mau menyekolahkan kembali anaknya ke PKBM.
3. Pengelola PKBM : Terus meningkatkan mutu tutor (pengajar) dan memperluas kemitraan dengan dunia usaha agar lulusannya memiliki daya saing.
Membiarkan satu anak putus sekolah di desa sama saja dengan memelihara rantai kemiskinan struktural baru. Menghidupkan dan memperkuat peran PKBM adalah investasi termurah dengan dampak terbesar untuk membangun SDM desa yang unggul.
Pendidikan adalah hak segala bangsa, dan anak-anak di pelosok desa tidak boleh menjadi pengecualian. Sudah saatnya kita menempatkan PKBM bukan lagi sebagai pilihan alternatif kelas dua, melainkan sebagai pilar strategis dalam mewujudkan desa bebas Anak Tidak Sekolah.@mistoni


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.