Menu

Mode Gelap
Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa Bantah Isu Kontraktor LPJ, PMD Kolaka Utara Siapkan Klinik Desa Sultan HB X: Desa Adalah Fondasi Budaya dan Ekonomi

SOSBUD · 18 Mei 2026 13:23 WIB ·

Krisis Moral Mengancam Nagari, Pemimpin Adat Harus Bergerak


					Krisis Moral Mengancam Nagari, Pemimpin Adat Harus Bergerak Perbesar

Bukittinggi, Sumatera Barat [DESA MERDEKA] Kehancuran sebuah desa atau nagari kini tidak lagi diukur dari lambatnya pembangunan infrastruktur, melainkan dari runtuhnya moral generasi mudanya. Ancaman degradasi moral yang dipicu oleh jeratan narkoba, pergaulan bebas, hingga dampak negatif teknologi digital saat ini tengah mengintai lini terbawah masyarakat di Sumatera Barat.

Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi Ansharullah, memberikan peringatan keras mengenai fenomena ini. Menurutnya, benteng utama untuk menangkal kehancuran sosial di tingkat tapak berada di pundak para pemimpin adat atau panghulu. Jabatan ini bukan sekadar simbol prestise atau gelar kebesaran kaum semata, melainkan sebuah amanah besar untuk menjaga marwah nagari sekaligus membina generasi muda Minangkabau dari derasnya arus perubahan zaman.

“Saat ini moral generasi muda mengalami degradasi yang tinggi. Kalau generasi mudanya hancur, maka hancurlah suatu nagari,” tegas Mahyeldi saat menghadiri prosesi Batagak Pangulu Zulhamdi Nova Candra IB, A.Md, yang resmi menyandang gelar Datuak Nagari Labiah di Nagari Guguak Panjang, Kota Bukittinggi, Minggu (17/5/2026).

Melihat lanskap tantangan hari ini, niniak mamak dan pemimpin adat memikul beban yang jauh lebih berat dibanding era sebelumnya. Panghulu dituntut untuk hadir secara nyata, mengedukasi, serta menanamkan kembali filosofi Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ABS-SBK) serta adat salingka nagari kepada anak kemenakan mereka.

Gelar datuak tidak bisa diberikan secara sembarangan tanpa akuntabilitas moral yang jelas. Diperlukan figur teladan yang memegang teguh kebenaran agar kepemimpinannya dipatuhi oleh masyarakat. Filosofi Minang menyebutkan: Pangulu ditunjuak urang nan dipicayo, gala tibo di urang nan bana. Artinya, posisi ini hanya milik mereka yang layak dan mampu memegang kepercayaan publik.

Kendati demikian, penyelamatan nagari dari ancaman sosial ini mustahil dibebankan kepada sektor adat sendirian. Dibutuhkan sinergi kolektif yang solid antara pemerintah daerah, niniak mamak, alim ulama, cadiak pandai, hingga bundo kanduang. Perbedaan peran di dalam struktur masyarakat seharusnya menjadi motor penggerak pembangunan nagari, bukan justru menjadi pemicu perpecahan horizontal.

Melalui momentum pelewakan Zulhamdi Nova Candra sebagai Datuak Nagari Labiah untuk suku Jambak di Kurai Limo Jorong ini, diharapkan implementasi nilai-nilai ABS-SBK di Bukittinggi dapat semakin kokoh di masa depan.

Merespons arahan tersebut, Zulhamdi Nova Candra Datuak Nagari Labiah menyatakan komitmen penuhnya bersama pemangku adat lain di Kurai Limo Jorong. Langkah taktis ke depan akan difokuskan pada penguatan internal kaum dan pembinaan intensif terhadap anak kemenakan demi eksistensi serta kemajuan nagari bersama.

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 12 kali

badge-check

Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Tradisi Merangkat: Pemuda Desa Puyung Jaga Jantung Adat

18 Mei 2026 - 19:16 WIB

Bersih Desa Karanglo Lor Ponorogo Pacu Gotong Royong

18 Mei 2026 - 17:11 WIB

Menghidupkan Kembali Pentas Malam Kuda Kepang Pringsewu

18 Mei 2026 - 13:43 WIB

DPRD Sumbar Siapkan Regulasi Perkuat Peran Bundo Kanduang

18 Mei 2026 - 13:05 WIB

Sajian Mirip Keranda di Ruwat Desa Pagerngumbuk Sidoarjo

17 Mei 2026 - 20:42 WIB

Modal Swadaya Warga Hidupkan Lagi Kirab Getaspejaten

17 Mei 2026 - 18:07 WIB

Trending di SOSBUD