Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan [DESAMERDEKA] – Program GEMETAR GEMERLAP Selayar menjadi tumpuan baru harapan petani di Kecamatan Pasimarannu. Di tengah keterbatasan dan jarak yang tak selalu ramah, Bupati Kepulauan Selayar, Muhammad Natsir Ali, menegaskan bahwa perubahan tidak akan lahir dari bantuan semata, melainkan dari keseriusan desa dalam menyiapkan data dan lahan secara nyata.
Di dalam aula sederhana itu, puluhan warga dan aparat desa duduk tenang, menyimak dengan saksama—seolah memahami bahwa arah kebijakan hari itu akan menentukan musim panen mereka ke depan.
Program GEMETAR GEMERLAP Selayar Dorong Ekonomi Petani
Dalam skema Program GEMETAR GEMERLAP Selayar, Bupati meluruskan bahwa Gerakan Menanam Lima Juta Kelapa (GEMERLAP) saat ini masih tertahan pada tahap administratif. Pemerintah daerah menunggu kejujuran dan kecepatan pemerintah desa dalam menyusun data CPCL—Calon Petani dan Calon Lahan. Tanpa data yang valid, bantuan bibit kelapa dari pusat tidak akan dapat direalisasikan di Selayar.
Jagung: Mesin Cepat Program GEMETAR GEMERLAP Selayar
Berbeda dengan kelapa yang membutuhkan waktu panjang, Gerakan Menanam Batara atau Jagung (GEMETAR) dipastikan bergerak lebih cepat. Pemerintah daerah tidak menunggu intervensi pusat, melainkan langsung menyiapkan bibit gratis bagi petani. Jagung diproyeksikan menjadi penggerak ekonomi jangka pendek yang realistis bagi masyarakat desa.
“Dengan harga Rp6.400 untuk kadar air tertentu, satu hektare bisa menghasilkan Rp55 juta hingga Rp64 juta,” ungkap Bupati Natsir. Angka ini bukan sekadar hitungan, melainkan peluang nyata untuk meningkatkan pendapatan petani di Pasimarannu yang selama ini dihadapkan pada fluktuasi harga komoditas.
Menembus Isolasi di Lambego
Visi pembangunan juga diarahkan ke Lambego, wilayah dengan potensi kesuburan tinggi namun masih terhambat keterisolasian. Potensi ekonomi yang besar belum dapat dimaksimalkan karena keterbatasan akses.
“Bagaimana kita membawa alat berat kalau tidak ada pelabuhannya? Makanya tahun ini kita dorong pembangunan pelabuhan atau dermaga,” tegas bupati. Infrastruktur tersebut menjadi kunci untuk membuka akses logistik sekaligus mempercepat pengembangan kawasan pertanian di wilayah terpencil tersebut.
Bola Ada di Tangan Desa
Pada akhirnya, GEMETAR dan GEMERLAP menjadi ujian nyata sinergi antara pemerintah dan masyarakat. Pemerintah daerah telah menyiapkan bibit serta mendorong pembangunan infrastruktur, namun keberhasilannya tetap bergantung pada kesiapan desa dalam menghadirkan data yang akurat.
Keberhasilan program ini tidak ditentukan di ruang birokrasi semata, melainkan di lapangan—di lahan garapan dan di meja kerja perangkat desa. Partisipasi aktif masyarakat dalam penyusunan data CPCL menjadi langkah awal menuju kemandirian ekonomi yang berkelanjutan.
Di Pasimarannu, harapan itu tidak lagi sekadar wacana. Jagung akan lebih dulu menjawab kebutuhan hari ini, sementara kelapa menunggu kesungguhan hari esok—dan semuanya bermula dari satu hal sederhana: data yang benar.

kontributor Desamerdeka.id wilayah Sulawesi Selatan. Aktif meliput isu-isu sosial, pemerintahan desa, dan dinamika pembangunan masyarakat pesisir.


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.