Bengkulu [DESA MERDEKA] – Desa kini bukan lagi sekadar pasar bagi raksasa ritel. Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Mendes PDT), Yandri Susanto, menegaskan bahwa Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih hadir sebagai “lawan tanding” tangguh bagi jaringan ritel konvensional. Berbeda dengan model bisnis yang menarik kekayaan ke pusat, Kopdes menjamin 100 persen perputaran uang dan keuntungan tetap tinggal di kantong warga desa.
Saat meninjau progres Kopdes di Desa Palaksiring dan Desa Sukamaju, Bengkulu, Senin (23/3/2026), Mendes Yandri menyebut koperasinya sebagai alat negara untuk memberantas kemiskinan dari akar rumput. Ini adalah implementasi nyata Asta Cita ke-6 Presiden Prabowo Subianto: membangun ekonomi dari bawah untuk pemerataan yang berkeadilan.
Kopdes vs Ritel Raksasa: Siapa Pemilik Untungnya?
Secara tampilan, Kopdes Merah Putih memang mengusung konsep ritel modern yang lengkap—menyediakan pupuk, sembako, hingga LPG. Namun, Yandri menekankan perbedaan filosofis yang fundamental. Jika di jaringan ritel besar keuntungan ditarik oleh segelintir pemodal, di Kopdes, masyarakat desa adalah pemilik sekaligus penikmat hasilnya.
“Kopdes adalah antitesis dari model ekonomi yang memusatkan kekayaan. Di sini, masyarakat bukan cuma jadi konsumen atau buruh, tapi anggota yang menikmati sisa hasil usaha,” tegas Yandri.

Mesin Baru Pendapatan Asli Desa (PADes)
Sistem bagi hasil Kopdes dirancang untuk tidak membiarkan uang “lari” ke kota. Berdasarkan skema baku, minimal 20% dari keuntungan bersih wajib disetorkan sebagai Pendapatan Asli Desa (PADes). Angka ini menjadi suntikan modal penting bagi desa untuk membiayai pembangunannya sendiri secara mandiri.
Sisa keuntungan lainnya dialokasikan untuk dua hal krusial:
- Ekspansi Usaha: Memperkuat daya saing koperasi agar makin besar.
- Program Sosial: Membantu warga kurang mampu di lingkungan desa tersebut.

Memutus Ketergantungan Logistik Kota
Kehadiran Kopdes di pelosok Bengkulu diharapkan mampu memutus rantai distribusi yang panjang dan mahal. Dengan stok logistik yang kuat di tingkat desa, daya beli masyarakat akar rumput akan meningkat karena harga yang lebih kompetitif dan akses yang lebih dekat.
Pemerintah optimistis, jika replikasi Kopdes ini sukses secara nasional, desa-desa di Indonesia akan bertransformasi dari sekadar “penonton” menjadi “pemilik modal” atas perputaran ekonomi mereka sendiri. Desa tidak lagi hanya menyumbang angka inflasi, tapi menjadi benteng pertahanan ekonomi nasional.
Team Redaksi Untuk Kiriman Rilis Berita
Email : mydesamerdeka@gmail.com


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.