Menu

Mode Gelap
APBDes 2027: Strategi Desa Batang Kejar Target Desa Zero Stunting Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa Bantah Isu Kontraktor LPJ, PMD Kolaka Utara Siapkan Klinik Desa

KOPDES MP · 24 Mar 2026 08:02 WIB ·

Antitesis Ritel Modern: Kopdes Pastikan Keuntungan Balik ke Warga


					Antitesis Ritel Modern: Kopdes Pastikan Keuntungan Balik ke Warga Perbesar

Bengkulu [DESA MERDEKA] Desa kini bukan lagi sekadar pasar bagi raksasa ritel. Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Mendes PDT), Yandri Susanto, menegaskan bahwa Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih hadir sebagai “lawan tanding” tangguh bagi jaringan ritel konvensional. Berbeda dengan model bisnis yang menarik kekayaan ke pusat, Kopdes menjamin 100 persen perputaran uang dan keuntungan tetap tinggal di kantong warga desa.

Saat meninjau progres Kopdes di Desa Palaksiring dan Desa Sukamaju, Bengkulu, Senin (23/3/2026), Mendes Yandri menyebut koperasinya sebagai alat negara untuk memberantas kemiskinan dari akar rumput. Ini adalah implementasi nyata Asta Cita ke-6 Presiden Prabowo Subianto: membangun ekonomi dari bawah untuk pemerataan yang berkeadilan.

Kopdes vs Ritel Raksasa: Siapa Pemilik Untungnya?
Secara tampilan, Kopdes Merah Putih memang mengusung konsep ritel modern yang lengkap—menyediakan pupuk, sembako, hingga LPG. Namun, Yandri menekankan perbedaan filosofis yang fundamental. Jika di jaringan ritel besar keuntungan ditarik oleh segelintir pemodal, di Kopdes, masyarakat desa adalah pemilik sekaligus penikmat hasilnya.

“Kopdes adalah antitesis dari model ekonomi yang memusatkan kekayaan. Di sini, masyarakat bukan cuma jadi konsumen atau buruh, tapi anggota yang menikmati sisa hasil usaha,” tegas Yandri.

Mesin Baru Pendapatan Asli Desa (PADes)
Sistem bagi hasil Kopdes dirancang untuk tidak membiarkan uang “lari” ke kota. Berdasarkan skema baku, minimal 20% dari keuntungan bersih wajib disetorkan sebagai Pendapatan Asli Desa (PADes). Angka ini menjadi suntikan modal penting bagi desa untuk membiayai pembangunannya sendiri secara mandiri.

Sisa keuntungan lainnya dialokasikan untuk dua hal krusial:

  • Ekspansi Usaha: Memperkuat daya saing koperasi agar makin besar.
  • Program Sosial: Membantu warga kurang mampu di lingkungan desa tersebut.

Memutus Ketergantungan Logistik Kota
Kehadiran Kopdes di pelosok Bengkulu diharapkan mampu memutus rantai distribusi yang panjang dan mahal. Dengan stok logistik yang kuat di tingkat desa, daya beli masyarakat akar rumput akan meningkat karena harga yang lebih kompetitif dan akses yang lebih dekat.

Pemerintah optimistis, jika replikasi Kopdes ini sukses secara nasional, desa-desa di Indonesia akan bertransformasi dari sekadar “penonton” menjadi “pemilik modal” atas perputaran ekonomi mereka sendiri. Desa tidak lagi hanya menyumbang angka inflasi, tapi menjadi benteng pertahanan ekonomi nasional.

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 34 kali

badge-check

Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Cara KUB Plasma Menjelutung Perdana Lestari Berbagi Berkah

26 Mei 2026 - 13:12 WIB

Seni Mengolah Keterbatasan Menjadi Modal Utama Koperasi Lodoyong

20 Mei 2026 - 12:19 WIB

Modal Integritas: Senjata Rahasia Koperasi Lodoyong Dobrak Pasar

20 Mei 2026 - 06:31 WIB

Kunci Sukses Koperasi Lodoyong: Pilih Figur Pemimpin yang ‘Ceto’

19 Mei 2026 - 19:22 WIB

Siasat Titip Jual Koperasi Lodoyong: Bisnis Minim Modal Hasil Maksimal

19 Mei 2026 - 09:26 WIB

Strategi Hadapi Perang Dagang Akar Rumput Versi Koperasi Lodoyong

18 Mei 2026 - 13:48 WIB

Trending di KOPDES MP