Aceh Tamiang, Nangroe Aceh Darussalam[DESA MERDEKA] – Mahasiswa kini tidak lagi hanya turun ke jalan, tetapi turun ke pelosok untuk menghadirkan solusi teknologi. Tim BEM Universitas Sriwijaya (Unsri) membuktikannya di Kampung Landuh, Aceh Tamiang, dengan memasang dua unit instalasi pengolahan air bersih yang mampu mengubah air sungai tercemar menjadi air siap minum tanpa bahan kimia.
Inovasi ini hadir melalui Program Mahasiswa Berdampak Kemdiktisaintek untuk memulihkan akses air warga pascabencana. Dengan kapasitas mencapai 2.000 galon per hari, teknologi ini menjadi jawaban instan bagi masyarakat yang selama ini berjuang melawan sumur yang tercemar lumpur dan air dengan kadar pH serta TDS yang tinggi.
Filter Ultrafiltrasi: Bakteri dan Virus Amblas
Rahasia dari air jernih ini terletak pada kombinasi sistem adsorpsi dan membran ultrafiltrasi. Air baku dilewatkan melalui tabung berisi karbon aktif, manganese greensand, dan silika teraktivasi, sebelum dipaksa melewati membran polimer dengan pori sangat halus menggunakan tekanan pompa.
Dandi Dwi Wiradinata, Koordinator Program, menjelaskan bahwa sistem ini diperkuat dengan sterilisasi lampu ultraviolet. “Teknologi ini menyaring partikel terkecil, bakteri, hingga virus secara fisik, sehingga air yang dihasilkan langsung layak konsumsi saat itu juga,” jelasnya. Sejak hari pertama beroperasi, warga terpantau langsung mengantre dengan galon kosong untuk mencicipi hasil inovasi kampus ini.
Solusi Berkelanjutan dan Peluang Ekonomi
Berbeda dengan bantuan darurat yang biasanya bersifat sementara, instalasi ini dirancang untuk operasional jangka panjang. Perawatannya mudah, hemat energi, dan material penyaringnya dapat diproduksi oleh pelaku usaha kecil lokal. Hal ini membuka peluang ekonomi baru bagi desa sembari memastikan kemandirian akses air bersih tetap terjaga di masa depan.
Dosen Pembimbing, David Bahrim, menyebutkan bahwa teknologi ini sebelumnya telah sukses diuji coba di 30 lokasi di Sumatra Selatan. Selain menghadirkan air, para mahasiswa juga melakukan aksi nyata dengan merehabilitasi Polindes yang tertutup lumpur dan menginisiasi taman obat keluarga untuk memperkuat kesehatan warga setempat.
Aksi mahasiswa Unsri ini menegaskan tren baru gerakan mahasiswa: membawa laboratorium kampus langsung ke tengah masalah masyarakat. Setelah sebelumnya terjun di banjir Pasaman Barat, kehadiran mereka di Aceh Tamiang membuktikan bahwa teknologi tepat guna adalah “logistik” paling efektif untuk pemulihan wilayah pascabencana.
Redaksi Desa Merdeka


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.