Menu

Mode Gelap
Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa Bantah Isu Kontraktor LPJ, PMD Kolaka Utara Siapkan Klinik Desa Sultan HB X: Desa Adalah Fondasi Budaya dan Ekonomi

RAGAM · 25 Feb 2026 13:35 WIB ·

Jejak Sunyi di Lembah Pusako Episode 22: Peran Media Lokal


					Jejak Sunyi di Lembah Pusako Episode 22: Peran Media Lokal Perbesar

 

Episode 22: Peran Media Lokal

Sejak nama Lembah Pusako mulai muncul di berbagai platform digital, perhatian media lokal pun mengalir deras. Surat kabar daerah, portal berita online, hingga radio komunitas mulai memberitakan kisah perubahan desa yang dahulu sunyi kini berdenyut dengan inovasi. Di antara semua itu, sosok yang paling sibuk adalah Sari, gadis jurnalis muda yang selama ini menjadi penghubung antara dunia media dan masyarakat desa.

Sari tumbuh di lembah itu. Ia mengenal setiap jalan setapak, setiap aroma tanah sehabis hujan, juga setiap wajah petani yang kini jadi tokoh inspirasi. Ketika dulu ia memutuskan menjadi wartawan, banyak yang heran. “Apa yang mau ditulis dari desa kecil seperti ini?” tanya seseorang padanya. Kini, pertanyaan itu dijawab oleh perubahan yang nyata: teknologi, ekonomi kreatif, dan semangat gotong royong yang dihidupkan kembali lewat digitalisasi.

Sore itu, Sari duduk di beranda balai desa, menatap hamparan sawah yang mulai menguning. Di tangannya, kamera dan mikrofon kecil siap untuk merekam. Di hadapannya, Raka dan Siti sedang berbincang dengan kelompok ibu-ibu Anyaman Pusako. Tema liputannya kali ini adalah “Perempuan dan Transformasi Desa”.

“Bu, waktu pertama kali dengar soal aplikasi PusakoHub, apa Ibu langsung percaya?” tanya Sari sambil menyalakan alat perekam. Salah satu ibu tersenyum malu-malu. “Awalnya tidak, Nak. Saya pikir itu cuma mainan anak muda. Tapi waktu ada pesanan dari Padang dan uangnya masuk langsung ke rekening kelompok, baru saya percaya.”

Semua tertawa kecil. Sari menulis cepat di buku catatannya. Ia tahu, justru kisah sederhana seperti ini yang paling kuat menyentuh hati pembaca. Ia tak ingin sekadar menulis laporan, tapi merekam perubahan sosial—bagaimana teknologi memberi ruang baru bagi perempuan desa untuk berdaya.

Malamnya, Sari mengedit video liputan itu bersama Damar, wartawan muda dari stasiun televisi lokal. Mereka duduk di depan laptop tua yang penuh kabel dan catatan. “Kita buat dua versi,” kata Damar, “satu untuk siaran televisi, satu lagi untuk media sosial. Di TikTok dan Instagram, konten berdurasi satu menit bisa jauh lebih viral.”

Sari mengangguk. “Tapi jangan hanya mengejar viral. Kita harus tetap bawa pesan tentang nilai budaya. Jangan sampai desa kita terkenal hanya karena sensasi.”Damar tertawa. “Itu sebabnya aku suka kerja bareng kamu. Kamu selalu ingatkan arah.”

Kerja sama keduanya melahirkan program “Cerita dari Pusako”, segmen mingguan di televisi lokal yang menyorot potret kehidupan desa dari berbagai sisi: lingkungan, budaya, pendidikan, hingga spiritualitas. Dalam setiap episode, selalu ada kutipan dari pepatah Minang atau petuah adat yang disisipkan di akhir cerita. Tayangan itu mendapat sambutan hangat, bahkan mulai ditonton oleh pemirsa dari luar Sumatra Barat melalui kanal YouTube.

Suatu hari, mereka menerima undangan untuk menghadiri forum media daerah di Padang. Tema acaranya: “Media Lokal dan Kemandirian Desa Digital.” Raka ikut mendampingi, membawa presentasi tentang PusakoHub dan data pertumbuhan ekonomi desa. Sari menjadi pembicara dalam sesi panel tentang jurnalisme budaya dan partisipasi masyarakat.

Di depan para jurnalis, akademisi, dan pejabat daerah, Sari berbicara dengan tenang namun penuh keyakinan. “Peran media lokal bukan hanya menyampaikan berita, tapi menjaga jati diri daerah di tengah arus globalisasi. Kita tidak sedang melawan dunia digital, kita sedang mencari cara agar budaya lokal tidak hilang di dalamnya,” ujarnya.

Ruangan bergemuruh oleh tepuk tangan. Seorang wartawan senior mendekatinya setelah sesi usai dan berkata, “Tulisanmu mengingatkanku pada jurnalisme masa lalu—yang dekat dengan hati rakyat. Teruskan, Nak.”

Sari tersenyum haru. Ia tahu, perjuangan ini belum selesai. Media sering dianggap hanya ‘pelengkap’, padahal di balik setiap kemajuan desa, ada cerita yang harus disampaikan dengan jujur dan bermakna.

Sepulang dari Padang, Sari bersama Damar merancang pelatihan “Jurnalisme Warga” di Lembah Pusako. Mereka mengajak anak-anak muda desa belajar menulis berita, membuat vlog, dan mendokumentasikan kegiatan sosial. “Kalau kita tidak bercerita tentang desa kita sendiri, orang lain yang akan menuliskannya dengan cara mereka,” kata Sari dalam sesi pembukaan.

Pelatihan itu berlangsung sederhana namun penuh semangat. Di aula balai desa, beberapa pemuda menulis artikel pertama mereka tentang kegiatan bersih sungai, sementara yang lain belajar membuat video pendek tentang proses menenun anyaman tradisional. Raka membantu bagian teknis—editing video dan pengelolaan akun media sosial komunitas.

Beberapa minggu kemudian, hasil karya mereka mulai tayang di kanal “Suara Pusako”, media komunitas yang mereka bangun bersama. Berita-berita ringan tentang kegiatan warga, inovasi pertanian, hingga cerita kearifan lokal mendapat banyak tanggapan positif. Tak sedikit media nasional yang kemudian mengutip kisah mereka.

Suatu pagi, surat kabar besar dari Jakarta menurunkan headline: “Desa Digital Berbasis Adat: Kisah Sukses dari Lembah Pusako.” Sari membaca artikel itu sambil tersenyum. Ia merasa bangga, tapi juga sadar bahwa sorotan publik berarti tanggung jawab yang lebih besar.

“Sekarang semua mata tertuju ke sini,” kata Damar. “Kita harus jaga agar pemberitaan tetap apa adanya—jujur dan membangun.” Sari mengangguk. “Media bukan cermin untuk mempercantik wajah desa, tapi jendela agar dunia melihat apa adanya, termasuk perjuangan di baliknya.”

Tak lama kemudian, mereka mendapat ide untuk membuat serial dokumenter mini berjudul “Jejak Pusako.” Setiap episode menyorot tokoh atau kelompok kecil yang berperan dalam pembangunan desa: petani organik, pengrajin, guru muda, hingga imam surau yang mengajarkan etika lingkungan dalam ceramahnya. Serial itu tayang di kanal YouTube Suara Pusako dan menarik ribuan penonton, termasuk mahasiswa dan peneliti yang tertarik pada studi tentang inovasi desa.

Namun, di tengah kesuksesan itu, muncul tantangan baru. Sebuah media luar datang meliput dan memotong sebagian wawancara, menampilkan Lembah Pusako seolah-olah telah menjadi desa yang sepenuhnya modern tanpa sentuhan adat. Video itu viral, tetapi banyak warga merasa tidak nyaman.

“Ini bukan tentang kemarahan, tapi tentang kebenaran,” kata Sari dalam rapat kecil bersama Raka dan tokoh desa. “Kita harus klarifikasi dengan cara yang elegan. Bukan membalas, tapi meluruskan.”

Mereka pun membuat liputan balasan berjudul “Modern Tapi Berakar.” Dalam video itu, ditampilkan kegiatan adat, gotong royong, dan nilai-nilai Islam yang menjadi dasar pembangunan desa. Sari membacakan narasinya dengan suara lembut:

“Kami memang mengenal teknologi, tapi kami tidak meninggalkan tanah. Kami berinovasi, tapi tetap sujud pada nilai. Di Lembah Pusako, kemajuan bukan berarti lupa asal, tapi menemukan kembali makna hidup di tengah perubahan.”

Video itu menyebar cepat dan mendapat apresiasi luas. Banyak komentar dari penonton: “Beginilah seharusnya kemajuan—berpijak di bumi sendiri.”

Sejak saat itu, Sari makin yakin bahwa media lokal bukan sekadar sarana informasi, melainkan benteng identitas. Ia bersama tim Suara Pusako membentuk jaringan dengan media desa lain di sekitar kabupaten, saling berbagi konten dan pengalaman. Dari kerja sama itu lahir kampanye regional: “Cerita dari Nagari”, yang menyorot berbagai desa inspiratif di Sumatra Barat.

Kini, setiap kali kabut pagi turun di lembah dan sinyal radio komunitas mulai mengudara, suara Sari terdengar lembut di udara:

“Selamat pagi, pendengar Suara Pusako. Hari ini, kita akan berbagi kisah tentang tangan-tangan yang bekerja tanpa lelah menjaga bumi dan budaya kita.”

Bagi Sari, suara itu bukan sekadar siaran. Itu adalah doa, pesan, dan pengingat bahwa setiap berita yang lahir dari tanah sendiri adalah bagian dari perjuangan menjaga jati diri bangsa.

Di penghujung hari, ketika ia menatap langit lembah yang perlahan diselimuti senja, Sari tersenyum. Ia tahu, peran media lokal tidak akan pernah kecil selama masih ada orang-orang yang mau menulis dengan hati.

Dan di Lembah Pusako yang semakin dikenal dunia, setiap cerita menjadi cahaya kecil yang menuntun jalan perubahan—perlahan, namun pasti.(DA)

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 41 kali

badge-check

Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Ekonomi Digital Desa: Koperasi Merah Putih Tembus Pasar Dunia

23 April 2026 - 09:32 WIB

Asa dari Kalaotoa: Saat Bupati Peluk Keluhan Warga

22 April 2026 - 10:54 WIB

Optimisme Petani Selayar: Jagung Bersemi, Kelapa Menanti Data

21 April 2026 - 18:24 WIB

Bukan Beban Anggaran, Pers Adalah Perisai Antikorupsi Desa

21 April 2026 - 12:33 WIB

Hentakan Kuntau Bonerate: Memuliakan Pemimpin dengan Ketulusan Adat

20 April 2026 - 22:34 WIB

Luka di Bacan Barat: Saat Dana Kesehatan Desa Dikorupsi

20 April 2026 - 22:18 WIB

Trending di RAGAM