Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan [DESA MERDEKA] – Selama puluhan tahun, anak-anak di Pulau Bonerate harus menantang gelombang laut demi mengecap pendidikan pesantren di luar pulau. Namun, takdir pendidikan di wilayah kepulauan ini resmi berubah pada Senin (16/2/2026). Peletakan batu pertama Pondok Pesantren Hasyimiah di Dusun Benteng Barat, Desa Batu Bingkung, menjadi tonggak sejarah baru: lahirnya pesantren pertama di tanah Bonerate.
Momen ini adalah simbol kemandirian warga. Di atas tanah wakaf masyarakat, pembangunan ini dimulai dengan semangat gotong royong yang kental. Proyek ini tidak hanya tentang mendirikan gedung, tetapi membangun “benteng” masa depan bagi generasi muda di wilayah terpencil.

Investasi Adab Menuju Generasi Emas
Mewakili Camat Pasimarannu, Saifuddin, S.Pd., menyebut langkah ini sebagai investasi jangka panjang. Menurutnya, pendidikan di pulau tidak boleh hanya mengejar angka kecerdasan intelektual, tetapi harus berakar pada adab.
“Pendidikan yang kuat menyiapkan generasi yang siap menghadapi dunia dan akhirat. Ini adalah fondasi bagi generasi emas 20 hingga 30 tahun mendatang,” ungkap Saifuddin di hadapan puluhan warga yang hadir dengan mata berkaca-kaca.
Senada dengan itu, Kepala KUA Kecamatan Pasimarannu, Drs. Tahiruddin, menekankan pentingnya benteng moral. Di tengah gempuran perubahan zaman yang kian kompleks, pesantren diharapkan menjadi kompas agar pemuda kepulauan tidak kehilangan arah.
Senada dengan itu, Kepala Kantor Urusan Agama Kecamatan Pasimarannu, Drs. Tahiruddin, melihat pesantren sebagai benteng moral di tengah perubahan zaman yang kian kompleks.
“Harapan kami, pesantren ini berdiri kokoh dan mampu mencetak generasi yang berakhlakul karimah. Tantangan zaman hari ini tidak ringan. Karena itu, pendidikan agama menjadi sangat penting agar generasi muda tidak kehilangan arah,” katanya.

Revolusi Akhlak dari Bangku Sekolah Dasar
Ketua Panitia Pembangunan, Ahmad Yani, menjelaskan bahwa Ponpes Hasyimiah memiliki pendekatan yang unik. Pembinaan akan dimulai sejak dini, menyasar anak-anak kelas 5 dan 6 SD. Fokus utamanya adalah Tahsinul Qur’an (perbaikan bacaan Al-Qur’an) dan pembentukan karakter.
Konsep yang diusung pun jauh dari sekadar teori:
- Pusat Teladan: Mengandalkan keteladanan asatidz dan pembiasaan shalat berjamaah.
- Kemandirian: Melatih tanggung jawab dan disiplin sejak usia dini.
- Transparansi: Pembangunan dijalankan secara bertahap dan terbuka kepada para donatur serta warga.
“Peletakan batu pertama ini adalah ikrar bahwa pendidikan Islam di Pasimarannu bangkit. Kami berkomitmen, pembangunan ini tidak akan berhenti di sini,” tegas Ahmad Yani.

Di tanah yang dikelilingi laut itu, harapan tumbuh perlahan. Bukan sekadar berdirinya bangunan, tetapi lahirnya generasi yang diimpikan: anak-anak yang fasih membaca Al-Qur’an, lembut hatinya, kuat akhlaknya, dan siap memimpin masa depan.
Di Pulau Bonerate yang jauh dari hiruk-pikuk kota, sebuah mimpi besar kini telah memiliki pijakan fisik. Batu-batu yang tersusun nanti akan menjadi saksi lahirnya generasi baru: anak-anak pulau yang fasih melantunkan ayat suci, berkepribadian kuat, dan siap memimpin masa depan dari beranda samudera.

“Ketika suara rakyat dibungkan, jurnalisme menjadi senjata. Kami hadir bukan hanya untuk melaporkan, tapi untuk mengingatkan bahwa keadilan dimulai dari keberanian menyuarakan kebenaran. Di balik setiap berita, ada tekad untuk menjadikan desa lebih sadar, lebih berdaya, dan benar-benar merdeka.”
HP : 081355523999


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.