Bangko, Merangin, Jambi [DESA MERDEKA] – Tradisi “Bantaian Adat” di Bukit Batu, Kabupaten Merangin, tahun ini menjadi sorotan tajam. Bukan sekadar ritual tahunan menyambut Ramadan 1447 Hijriah, jumlah hewan ternak yang disembelih melonjak drastis hingga 13 ekor kerbau. Angka ini naik hampir dua kali lipat dibanding tahun lalu yang hanya tujuh ekor, sekaligus menjadi sinyal kuat meningkatnya kesejahteraan ekonomi masyarakat setempat.
Wakil Bupati Merangin, A. Khafidh, yang hadir membuka acara pada Minggu (15/2/2026), mengungkapkan rasa bangganya atas fenomena ini. Menurutnya, lonjakan jumlah kerbau dalam bantaian adat merupakan indikator valid bahwa daya beli dan rasa syukur warga Bukit Batu sedang berada di tren positif.
“Secara ekonomi, kenaikan dari 7 menjadi 13 ekor kerbau ini menunjukkan adanya peningkatan kesejahteraan masyarakat. Pemerintah Kabupaten Merangin merasa bangga melihat kekompakan warga dalam menjaga tradisi sekaligus membuktikan kemandirian ekonomi mereka,” ujar Wabup Khafidh di tengah ratusan warga yang memadati lapangan terbuka.
Filosofi Keadilan dalam Seutas Daging
Di balik kemeriahan penyembelihan, terdapat aturan main yang sangat ketat dan transparan. Tokoh Adat Bukit Batu, Datuk Harun, menjelaskan bahwa tradisi ini dipagari oleh hukum adat yang diwariskan oleh para pendahulu untuk menjaga harmoni sosial.
Prinsip keadilan menjadi napas utama dalam pembagian daging. Datuk Harun merinci bahwa proses penentuan bagian daging untuk ninik mamak hingga pembagian untuk masyarakat umum dilakukan tanpa ada yang ditutup-tutupi.
“Ada pepatah adat, daging gajah sama dilapah, daging tunggal sama dicacah. Artinya, semua lapisan masyarakat harus merasakan nikmat yang sama tanpa ada diskriminasi,” tegas Datuk Harun. Ia menambahkan bahwa kepatuhan terhadap aturan ninik mamak adalah kunci agar tidak terjadi selisih paham saat pembagian hasil bantaian.
Menjaga Warisan di Tengah Modernisasi
Wabup Khafidh juga berpesan agar semangat kebersamaan ini menjadi modal spiritual utama dalam memasuki bulan suci Ramadan. Tradisi bantaian adat dianggap sebagai momen “pembersihan diri” kolektif melalui aksi saling memaafkan dan berbagi rezeki.
Pemerintah daerah berharap tradisi ini tidak hanya lestari secara seremonial, tetapi juga terus tumbuh sebagai motor penggerak ekonomi kerakyatan melalui sektor peternakan lokal di masa depan. Dengan hati yang bersih dan stok pangan yang terjamin melalui bantaian adat, warga Bukit Batu siap menjalankan ibadah puasa dengan penuh kedamaian.
Redaksi Desa Merdeka


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.