Menu

Mode Gelap
APBDes 2027: Strategi Desa Batang Kejar Target Desa Zero Stunting Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa Bantah Isu Kontraktor LPJ, PMD Kolaka Utara Siapkan Klinik Desa

SOSBUD · 12 Feb 2026 20:53 WIB ·

Tradisi Geren Masal Jabalsari: Jembatan Doa dan Silaturahmi Warga


					Tradisi Geren Masal Jabalsari: Jembatan Doa dan Silaturahmi Warga Perbesar

Tulungagung, Jawa Timur [DESA MERDEKA] Kuburan Desa Jabalsari, Kecamatan Sumbergempol, berubah menjadi lautan manusia pada Kamis (12/2/2026). Ratusan warga berkumpul bukan untuk suasana duka, melainkan melaksanakan “Geren Masal” atau ziarah makam bersama. Tradisi unik ini menjadi bukti nyata kekuatan sinergi antara Pemerintah Desa (Pemdes) Jabalsari dengan Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama (NU) dalam menjaga warisan leluhur.

Kegiatan yang berlangsung khidmat ini diawali dengan Khotmil Qur’an sejak pagi hari, kemudian memuncak pada sore hari dengan prosesi doa bersama di pusara para leluhur. Selain sebagai ritual spiritual, Geren Masal kali ini ditegaskan sebagai instrumen sosial untuk mempererat kerukunan warga desa.

Harmoni Umaro dan Ulama di Pusara
Kaur Kesra Desa Jabalsari, Moch. Zainuri, S.HI., menyatakan bahwa momentum ini adalah representasi dari keharmonisan antara pemerintah (umaro) dan tokoh agama (ulama). Kerjasama dengan Ranting NU memastikan jalannya tahlil dan istighosah yang dipimpin oleh Kyai Daroini berlangsung teratur.

“Ini bukan sekadar ritual tahunan. Sinergi ini menunjukkan bahwa di Jabalsari, pemerintah dan ulama berjalan beriringan untuk mengayomi masyarakat,” ujar Zainuri melalui pesan singkat.

Menolak Punah: Pesan untuk Generasi Muda
Di balik taburan bunga dan lantunan doa, terdapat misi besar untuk menyelamatkan tradisi dari gerusan zaman. Kyai Daroini, tokoh agama setempat, mengungkapkan bahwa Geren Masal rutin digelar dua kali setahun, yakni menjelang Ramadan dan Idulfitri. Namun, tantangan terbesarnya adalah melibatkan generasi milenial dan Gen Z.

“Ziarah ini adalah pengingat akan kematian sekaligus sarana menyambung silaturahmi yang renggang akibat kesibukan. Kami berharap ke depan, anak-anak muda lebih aktif terlibat agar tradisi ini tidak musnah ditelan zaman,” tutur Kyai Daroini.

Acara yang berakhir dengan ramah tamah ini berhasil mengubah suasana pemakaman yang biasanya sunyi menjadi ruang dialog antarwarga. Dengan melibatkan seluruh lapisan masyarakat, Jabalsari membuktikan bahwa menghormati masa lalu adalah cara terbaik untuk memperkuat masa depan desa.

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 75 kali

badge-check

Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

UMKM Lokal Hidupkan Festival Kuliner 100 Tahun Jam Gadang

21 Juni 2026 - 22:20 WIB

Ritual Sedekah Gunung, Kekuatan Budaya Warga Desa Lencoh

18 Juni 2026 - 04:22 WIB

Muharam di Desa: Momentum Revolusi Mental dan Etos Kerja

17 Juni 2026 - 15:31 WIB

Mandeh Siti Manggopoh, Inspirasi Pembangunan Desa Agam Modern

16 Juni 2026 - 13:46 WIB

Prasasti Kuno Buktikan Akar Sejarah Literasi Desa Nusantara

14 Juni 2026 - 08:22 WIB

Batik Singosari: Dari Sebatang Lilin Menuju Pengakuan Nasional

14 Juni 2026 - 05:43 WIB

Trending di SOSBUD