Menu

Mode Gelap
APBDes 2027: Strategi Desa Batang Kejar Target Desa Zero Stunting Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa Bantah Isu Kontraktor LPJ, PMD Kolaka Utara Siapkan Klinik Desa

RAGAM · 4 Feb 2026 09:54 WIB ·

Tol Sicincin-Bukittinggi: Menembus Bukit Barisan dengan Terowongan 5,8 Kilometer


					Tol Sicincin-Bukittinggi: Menembus Bukit Barisan dengan Terowongan 5,8 Kilometer Perbesar

Jakarta [DESA MERDEKA] Wajah infrastruktur Sumatera Barat segera berubah drastis. Proyek Tol Padang-Pekanbaru seksi Sicincin–Bukittinggi tidak hanya sekadar membangun jalan aspal, melainkan proyek ambisius yang akan “membelah” kerumitan topografi Bukit Barisan. Kementerian Pekerjaan Umum (PU) bersama Pemerintah Provinsi Sumbar resmi mematangkan rencana pembangunan jalan tol sepanjang 40 kilometer tersebut dengan estimasi biaya fantastis mencapai Rp25,23 triliun.

Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi Ansharullah, menjelaskan bahwa proyek ini dibagi menjadi dua segmen krusial: Sicincin/Kayu Tanam–Padang Panjang (20,3 km) dan Padang Panjang–Bukittinggi (19,71 km). Mengingat medan yang ekstrem, teknologi terowongan menjadi solusi utama untuk menjaga kelestarian alam sekaligus efisiensi rute.

“Perencanaan disesuaikan dengan kompleksitas medan yang tinggi. Kami akan membangun dua terowongan dengan total panjang 5,85 kilometer pada segmen pertama,” ungkap Mahyeldi usai rapat koordinasi di Kementerian PU, Jakarta, Selasa (3/2/2026).

Rekayasa Konstruksi: Kombinasi Jembatan dan Terowongan
Berbeda dengan tol di wilayah datar, jalur Sicincin–Padang Panjang akan menggunakan skema kombinasi yang rumit. Hanya sekitar 4,45 kilometer jalan yang dibangun di atas permukaan tanah (at grade). Selebihnya, pengemudi akan melintasi 10 kilometer jembatan megah dan 5,85 kilometer terowongan bawah tanah.

Sementara itu, untuk segmen Padang Panjang–Bukittinggi, konstruksi akan didominasi oleh jalur at grade sepanjang 17 kilometer dan jembatan sepanjang 2,71 kilometer. Setiap segmen juga akan dilengkapi dengan satu interchange (simpang susun) untuk mempermudah konektivitas ekonomi antarwilayah.

Menunggu “Lampu Hijau” dari Hutan Lindung
Meskipun survei topografi telah rampung, tantangan berikutnya adalah survei geoteknik atau boring investigation (penyelidikan tanah) yang dijadwalkan berlangsung pada Februari hingga Mei 2026. Namun, langkah ini sangat bergantung pada izin masuk hutan lindung dari Kementerian Kehutanan.

“Jika izin belum terbit, tim survei belum bisa bekerja. Kami butuh dukungan lintas sektor, termasuk dari masyarakat terkait pembebasan lahan, agar proyek ini bisa segera dimulai,” tambah Mahyeldi.

Pertemuan strategis ini juga dihadiri oleh Wakil Ketua Komisi VI DPR RI Andre Rosiade dan Dirut Hutama Karya, yang menegaskan komitmen pusat untuk menuntaskan salah satu sirip tol paling menantang di Indonesia ini.

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 115 kali

badge-check

Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Tudingan Sepihak: Kades Nyonyifi Resmi Laporkan Darwis Yusuf Atas Dugaan Penyerobotan Lahan

25 Juni 2026 - 20:19 WIB

Sinergi Gotong Royong Wali Murid Warnai Kelulusan SDN Bantarjaya 05 Bekasi

24 Juni 2026 - 13:14 WIB

AI dan Bansos: Akhir Era ‘Main Mata’ Perangkat Desa?

24 Juni 2026 - 08:49 WIB

Momen Haru Angkatan XV PAUD Satria Mandiri: Sinergi Desa Balitata Cetak Generasi Emas

23 Juni 2026 - 21:12 WIB

Klinik APBDesa Singosari,Sekolah Tata Kelola yang Menginspirasi Desa

23 Juni 2026 - 12:52 WIB

Pasca-Audit Investigasi, Warga Kembali Segel Kantor Desa Loleo

23 Juni 2026 - 06:10 WIB

Trending di RAGAM