Menu ✖

Mode Gelap
Siasat Desa Paenre Lompoe Merajut Prioritas di Tengah Badai Efisiensi APBDes 2027: Strategi Desa Batang Kejar Target Desa Zero Stunting Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa

KABAR PEMDA · 3 Feb 2026 16:13 WIB ·

Diplomasi Rendang: Simbol Solidaritas Sumbar untuk Tapanuli Tengah


					Diplomasi Rendang: Simbol Solidaritas Sumbar untuk Tapanuli Tengah Perbesar

Bogor, Jawa Barat [DESA MERDEKA] – Di balik keriuhan Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Forkopimda di Sentul International Convention Center (SICC), tersaji momen hangat yang membuktikan bahwa bantuan bencana tidak melulu soal angka. Bupati Tapanuli Tengah, Masinton Pasaribu, menemui Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi Ansharullah, untuk menyampaikan apresiasi mendalam atas pengiriman “logistik rasa empati” berupa rendang saat wilayahnya diterjang bencana hidrometeorologi, Senin (2/2/2026).

Rendang kiriman Pemprov Sumbar tersebut dinilai bukan sekadar bantuan pangan biasa. Bagi masyarakat Tapanuli Tengah, kuliner legendaris ini menjadi suntikan semangat dan bukti nyata bahwa mereka tidak sendirian dalam menghadapi masa sulit pascabencana.

Rendang sebagai “Penyambung” Ketahanan Nasional
Masinton menegaskan bahwa bantuan tersebut merupakan wujud nyata solidaritas antardaerah. Di tengah situasi darurat, kehadiran bantuan yang siap saji dan bergizi tinggi sangat krusial untuk menjaga moral para penyintas.

“Bantuan rendang dari Bapak Gubernur Sumbar sangat berarti. Ini bukan hanya soal logistik, tapi simbol kebersamaan yang menguatkan masyarakat kami di tengah masa sulit,” ujar Masinton penuh kehangatan. Ia menilai sinergi semacam ini adalah modal sosial yang mampu memperkuat ketahanan nasional dalam menghadapi krisis iklim.

Empati Sesama Anak Bangsa
Menanggapi apresiasi tersebut, Gubernur Mahyeldi menyebut aksi bagi-bagi rendang adalah tradisi empati masyarakat Sumatera Barat yang sudah sering dilakukan untuk daerah terdampak bencana di Indonesia. Menurutnya, gotong royong adalah identitas mutlak bangsa yang harus muncul secara otomatis saat terjadi bencana.

“Solidaritas adalah kekuatan utama kita. Apa yang kami kirimkan semata-mata bentuk empati sebagai sesama anak bangsa,” tutur Mahyeldi.

Pertemuan di Bogor ini menjadi pengingat penting bagi para kepala daerah lain bahwa pemulihan pascabencana tidak hanya memerlukan infrastruktur fisik, tetapi juga sentuhan kemanusiaan yang mampu menyentuh sisi emosional masyarakat terdampak.

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 28 kali

badge-check

Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Jalan Mulus Limau Manis: Syukuran Warga atau Lonceng Kematian Desa?

1 November 2026 - 00:04 WIB

Solusi Roda Tiga Pangkas Tani dan Karhutla Kapuas

29 Oktober 2026 - 09:48 WIB

Jalur Tikus Transaksi Gelap Mengurung Ratusan Desa Sumbar

24 Oktober 2026 - 14:10 WIB

Rentetan Krisis Hantam Sumbar, Perda Ketahanan Keluarga Diuji

19 Oktober 2026 - 10:43 WIB

Menantang Bukit Limau Manis, Jalan Fisika Padang Akhirnya Diaspal

19 Oktober 2026 - 10:33 WIB

Jawab Warning KPK, Sumbar Rombak Aliran Anggaran Pascabencana

15 Oktober 2026 - 12:35 WIB

Trending di KABAR PEMDA