Padang, Sumatera Barat [DESA MERDEKA] – Dari atas podium Aula Kantor Gubernur Sumatera Barat, Senin (12/10/2026), narasi yang meluncur adalah diplomasi normatif tentang penguatan sinergi lintas sektor. Namun di luar dinding ruang sidang, realitasnya jauh lebih pekat dan mencekam. Pertemuan akbar yang mempertemukan Satgas dari 19 kabupaten/kota itu sesungguhnya adalah kepanikan birokrasi setelah benteng pertahanan keamanan pangan mereka jebol telak.
Asap krisis ini sudah mengepul sejak awal September 2026. Kala itu, wilayah Kecamatan Palupuh di Kabupaten Agam mendadak lumpuh. Sebanyak 334 pelajar dan guru mendadak ambruk serentak. Mereka mengeluhkan gejala mual yang menyiksa, diare parah, hingga demam tinggi. Korban bertumbangan dalam waktu yang hampir bersamaan. Ambulans merasa meraung-raung di jalanan nagari, melarikan tubuh-tubuh lemas anak sekolah ke pusat medis terdekat.
Belum sempat publik bernapas lega, petaka serupa kembali berulang di pertengahan September 2026. Kali ini menghantam MTsN 1 Kota Pariaman. Sebanyak 129 siswa dilarikan ke rumah sakit. Gejalanya jauh lebih mengerikan dari klaster keracunan nasional pada umumnya. Di Pariaman, anak-anak tidak sekadar muntah. Mereka mengalami sesak napas akut dan penurunan tekanan darah secara drastis hingga tubuhnya mendingin. Beberapa anak bahkan harus dievakuasi ke ruang perawatan intensif (PICU) demi mempertahankan nyawa.
Apa yang sebenarnya terjadi di dapur mereka?
Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) akhirnya membongkar tabir misteri tersebut melalui uji laboratorium. Hasilnya mengejutkan. Sampel menu makanan tahu dan cabai balado lokal yang disajikan terbukti positif terkontaminasi bakteri Bacillus cereus dalam tingkat kepekatan tinggi. Bakteri ini memproduksi toksin hemolitik yang sangat agresif menghantam dinding pencernaan dan memicu syok sistemik pada tubuh anak-anak.
Ironisnya, kontaminasi ini bukan terjadi karena faktor ketidaksengajaan. Perwakilan Ombudsman RI Sumatera Barat yang turun melakukan investigasi lapangan menemukan borok sistemik dalam rantai pasok program Makan Bergizi Gratis (MBG). Ada tujuh tahapan SOP wajib yang dilanggar secara kasat mata oleh pengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Faktor geografis Sumbar yang berbukit-bukit memperparah keadaan. Demi mengejar waktu distribusi ke pelosok nagari, pengelola dapur nekat memasak makanan sejak pukul lima subuh.
Celakanya, hidangan kaya protein dan bersantan itu dibiarkan mengeram di dalam kotak tertutup selama lebih dari enam jam. Tanpa adanya proses food safety test (uji kelayakan) sebelum didistribusikan, kotak-kotak makanan itu berubah menjadi inkubator maut yang membiakkan miliaran bakteri berbahaya sebelum akhirnya mendarat di perut para siswa.
Mahyeldi sendiri tidak menampik adanya keretakan koordinasi pada lini bawah pasukannya. Di depan forum, ia mengakui adanya kelemahan tata kelola tersebut.
“Pengawasan ini tidak bisa dilakukan sendiri-sendiri. Harus ada koordinasi yang kuat, pembagian tanggung jawab yang jelas, dan tindak lanjut yang terukur. Kita ingin mencegah terulangnya kasus keracunan dalam pelaksanaan MBG di Sumbar,” aku Mahyeldi jujur.
Sebuah pernyataan yang secara tidak langsung menampar wajah sistem pengawasan pangan daerah yang selama ini mereka bangga-banggakan.
Kini, ambisi besar program strategis nasional ini sedang diuji di ranah Minang. Sanksi tegas akhirnya dijatuhkan. Dapur SPPG Pasia Laweh Agam dan SPPG Pasir Pariaman Tengah dipaksa berhenti beroperasi. Di depan seratus pejabat Satgas yang berkumpul, sang Gubernur melempar ultimatum keras tanpa kompromi.
“Apabila ditemukan kasus keracunan yang berkaitan dengan penyediaan makanan MBG, operasional dapur harus dihentikan sementara untuk penanganan dan evaluasi,”tegas Mahyeldi dengan nada tinggi.
Langkah potong kompas ini terpaksa diambil demi menyetop mata rantai kelalaian yang terus berulang. Namun, ancaman di atas kertas tentu tidak akan pernah cukup. Selama kompetensi higiene pekerja dapur lokal belum dibenahi dan manajemen logistik distribusi masih dibiarkan kedodoran, selama itu pula piring-piring makan gratis anak sekolah di Sumatera Barat akan terus dihantui oleh teror bakteri yang mematikan.


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.