Opini [DESA MERDEKA] Fika Dwi Oktavia, S.T., M.T., Dosen Teknik Kimia Intitut Teknologi Kalimantan
Permintaan energi bersih terus digemakan di seluruh dunia sejalan dengan penggunaan Energi Baru Terbarukan (EBT) di Indonesia yang terus ditingkatkan untuk mengurangi emisi karbon. Komitmen dan kontribusi Indonesia didasari oleh Kebijakan Energi Nasional (KEN) 2014 dan Perjanjian Paris 2015. Bahkan tahun lalu pada peresmian pembangunan dan pengoperasian EBT yang tersebar di 15 provinsi dengan total 55 proyek tanggal 26 Juni 2025, Presiden Republik Indonesia, Bapak Prabowo Subianto optimis terhadap swasembada energi yang lebih cepat menjadi prioritas strategis energi nasional (Jatmika, 2025).
Pengembangan energi bersih juga mempertimbangkan pasokan (supply) dan permintaan (demand) yang akan berdampak pada kesiapan sistem, ekonomi dan kemampuan setiap daerah dalam memproduksi industri EBT. Potensi dan teknologi EBT akan menjadi modal utama dalam melaksanakan transisi energi (esdm.go.id, 2021). Sumber-sumber EBT di Indonesia antara lain adalah energi surya, air, angin, panas bumi dan bioenergi dari biomassa yang mana pemanfaatannya belum dilakukan secara maksimal. Tingginya prospek EBT dan potensi penghematan energi di Indonesia menarik para investor untuk pengembangan energi bersih (oecd.org, 2021).

Potensi yang sedang gencar-gencarnya untuk dikembangkan adalah biomassa. Salah satu biomassa yang melimpah ketersediaannya di Indonesia adalah kelapa sawit pada tahun 2023 produksi mencapai 46,99 juta ton atau naik 0,36% dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Luas area yang digunakan mencapai 16,83 juta hektar dengan prokduktifitas 3.736 kg/ha yang tersebar di 26 provinsi. Terdapat tiga jenis perkebunan berdasarkan pengusahanya yang terlibat dalam memenuhi produksi kelapa sawit di antaranya adalah Perkebunan Rakyat (PR), Perkebunan Besar Swasta (PBS) dan Perkebunan Besar Negara (PBN) (Direktorat Jenderal Perkebunan, 2023).
Produksi kelapa sawit di Indonesia menjadi penyumbang devisa negara yang mampu menggerakkan perekonomian wilayah. Indonesia menjadi produsen terbesar yang dapat memenuhi hingga 58% permintaan minyak sawit di dunia pada tahun 2024/2025 (Kompas.com, 2025). Peningkatan produksi kelapa sawit tentunya akan berdampak pada peningkatan limbah dari proses pembuatan minyak kelapa sawit pula. Industri kelapa sawit juga menghasilkan limbah yang sangat besar sehingga perlu diperhatikan seiring meningkatnya produksi kelapa sawit dari tahun ke tahun. Mengolah satu ton olahan Tandan Buah Segar (TBS) akan menghasilkan limbah Tandan Kosong Kelapa Sawit (TTKS) 21%−23%, serat mesokarp 12%−14,4%, Cangkang Inti Sawit (CIS) 5%−6,4%, Bungkil Kelapa Sawit (BKS) 2,7% dan limbah cair 58,3%−60% (Ahmad dkk., 2016; Indriati dkk., 2020).
Limbah padat utama dengan persentase terbesar biomassa dari industri kelapa sawit adalah Tandan Kosong Kelapa Sawit (TTKS) di mana jumlahnya mencapai 21% dari total neraca massa pengolahan kelapa sawit (Hambali, 2010). Keberadaan TKKS yang melimpah di lingkungan akan berdampak negatif jika tidak dimanfaatkan. Salah satu cara untuk mengatasi masalah tersebut dengan meningkatkan nilai TKKS mengkonversinya menjadi Bio-Crude Oil yang dapat menjadi sumber energi dan bahan kimia dengan proses pirolisis lambat. Pirolisis termasuk ke dalam proses pembakaran termokimia dengan proses penguraian pada suhu tinggi kondisi minimum bahkan tanpa oksigen sehingga menghasilkan produk tanpa pembakaran sempurna.

Pirolisis lambat adalah proses degradasi termal biomassa tanpa adanya oksigen di mana suhu operasi 300°C−700°C, waktu tinggal lama (dalam rentang menit hingga jam) dan laju pemanasannya 0,1−10°C/menit (Dolah dkk., 2021; Tan dkk., 2021). Kadar oksigen yang tinggi dapat memengaruhi produksi Bio-Crude Oil yang dihasilkan. Pirolisis lambat selain menghasilkan Bio-Crude Oil juga menghasilkan Bio-Char dan Bio-Pyrolysis Gas dengan komposisi berturut-turut 30%, 35% dan 35% (Bridgwater, 2007). Produk tersebut dihasilkan dari dekomposisi lignoselulosa (selulosa, hemiselulosa dan lignin) pada rentang suhu tertentu (Yang dkk., 2007). Berbagai produk hasil konversi biomassa limbah kelapa sawit dari TKKS selain menjadi Bio-Crude Oil juga menghasilkan Bio-Char, dan Bio-Pyrolysis gas inilah yang saat ini aktif dikembangkan oleh banyak peneliti di Indonesia. Melalui riset lanjutan dan inovasi teknologi, produk turunan tersebut diharapkan dapat menjadi fondasi penguatan dan pengembangan industri EBT nasional, sekaligus mendorong pemanfaatan sumber daya lokal yang tidak termanfaatkan secara berkelanjutan dan berdaya saing.



















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.