Semarang, Jawa Tengah [DESA MERDEKA] – Sejauh mata memandang di sepanjang Jalan Raya Tuntang–Bringin, aroma menyengat yang menggoda indra penciuman menjadi penanda bahwa “demam tahunan” telah tiba. Sejak November hingga April mendatang, kawasan ini berubah menjadi pasar durian terpanjang di Kabupaten Semarang, di mana lebih dari 100 lapak menjajakan durian lokal kualitas premium yang tumbuh dari pohon-pohon berusia seabad.
Fenomena ini bukan sekadar transaksi ekonomi musiman. Di sini, terjadi fenomena unik di mana mobil-mobil mewah berpelat luar kota rela masuk ke pelosok dusun demi mengejar buah dari pohon spesifik yang sudah mereka incar. Hubungan antara pelanggan dan petani bahkan telah bergeser menjadi ikatan personal; mereka saling bertukar kabar via ponsel hanya untuk memastikan kapan pohon favorit mereka mulai menjatuhkan buahnya.

Kearifan Lokal di Balik Pohon Raksasa
Desa Tuntang, Delik, Tlogo, hingga Karanganyar merupakan “surga tersembunyi” bagi durian lokal. Tanah subur di kawasan ini menjadi rumah bagi pohon-pohon durian raksasa yang sudah ada sejak zaman kakek-nenek mereka. Kekuatan utama durian di sini terletak pada karakternya yang otentik—setiap pohon memiliki profil rasa, tekstur, dan aroma yang berbeda-beda, sebuah keragaman hayati yang tidak dimiliki oleh durian hasil persilangan industri.
Namun, kelezatan ini tidak datang dengan sendirinya. Ada peran vital dari para “pasukan langit” alias ahli panjat durian. Profesi langka ini menuntut keahlian khusus, mulai dari merawat buah sejak masih muda, menyemprot perekat agar tidak rontok diterjang angin, hingga teknik mengikat buah di ketinggian puluhan meter agar tidak hancur saat jatuh ke tanah.

Dari Tukang Panjat Menjadi Juragan
Ekosistem durian di Tuntang–Bringin juga menjadi saksi mobilitas sosial warga desa. Banyak tukang panjat, seperti Pak Pri, yang berangkat dari pengalaman lapangan kemudian berkembang menjadi penebas (tengkulak) hingga juragan durian. Bersama generasi mudanya, mereka mengelola rantai pasok dari kebun hingga ke lapak pinggir jalan, menjaga agar identitas durian lokal tetap eksis di tengah serbuan durian impor atau varietas baru.
Menanti Festival Sebagai Panggung Utama
Meski durian lokal ini telah memiliki penggemar setia, potensinya diyakini masih bisa “meledak” lebih besar. Fenomena ratusan lapak ini sebenarnya adalah modal kuat bagi pemerintah daerah untuk menciptakan festival durian berbasis desa yang terjadwal secara profesional. Langkah ini bukan hanya soal jualan buah, tapi tentang mengemas kearifan lokal menjadi daya tarik pariwisata yang berkelanjutan.
Kisah durian Tuntang–Bringin adalah bukti nyata bahwa kekuatan ekonomi desa tidak harus selalu mengikuti arus modernisasi yang kaku. Dengan tetap mempertahankan identitas gemah ripah loh jinawi, warga desa membuktikan bahwa kearifan lokal yang dikelola dengan hati tetap menjadi idola yang tak lekang oleh waktu.



















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.