Menu ✖

Mode Gelap
Siasat Desa Paenre Lompoe Merajut Prioritas di Tengah Badai Efisiensi APBDes 2027: Strategi Desa Batang Kejar Target Desa Zero Stunting Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa

KABAR DESA · 21 Jan 2026 06:17 WIB ·

Merti Desa Baledono: Wayang Kulit hingga Digitalisasi Ekonomi Kreatif


					Lurah baru Baledono, Tsabit Taqiyyuddin Perbesar

Lurah baru Baledono, Tsabit Taqiyyuddin

Purworejo, Jawa Tengah [DESA MERDEKA] – Kelurahan Baledono baru saja membuktikan bahwa tradisi kuno dan ambisi masa depan bisa berjalan beriringan. Rangkaian ritual Merti Desa yang puncaknya digelar pada Sabtu (17/1/2026), tidak lagi sekadar ritual “buang sial”, melainkan momentum bagi Lurah baru Baledono, Tsabit Taqiyyuddin, untuk memetakan kekuatan ekonomi digital dan pemberdayaan anak muda di wilayahnya.

Baledono, yang dihuni hampir 11 ribu jiwa dengan sebaran 10 RW dan 63 RT, merupakan potret kelurahan urban yang heterogen. Puncak acara Merti Desa ditandai dengan pagelaran wayang kulit oleh dalang Ki Santoso Joko Bledek yang membawakan lakon Wisanggeni Krido. Kehadiran Wakil Bupati Purworejo, Dion Agasi Setyabudi, menambah bobot gelaran budaya yang sarat pesan kepemudaan ini.

“Lakon Wisanggeni adalah simbol keberanian anak muda. Ini nafas baru yang ingin kita bawa ke Baledono,” ujar Tsabit Taqiyyuddin saat ditemui di kantornya, Selasa (20/1/2026).

Transformasi Ritual Menjadi Kekuatan Sosial
Rangkaian kegiatan telah dimulai sejak Rabu (14/1) dengan ziarah kubur ke makam leluhur dan tokoh masyarakat Purworejo, disusul kenduri agung sebagai wujud syukur. Esoknya, pengajian umum peringatan Isra Mikraj digelar untuk memperkuat pondasi religius warga. Namun, di balik sakralnya doa, Tsabit melihat peluang untuk menyatukan warga pendatang dan penduduk asli dalam satu frekuensi pembangunan.

Sebagai Lurah yang baru menjabat di awal 2026, Tsabit menyadari bahwa Merti Desa adalah pintu masuk untuk menyentuh “daya saing” masyarakat. Ia menargetkan Baledono bukan hanya sebagai kawasan perdagangan konvensional, melainkan pusat ekonomi kreatif digital.

Membidik Ekonomi Kreatif Digital
Langkah out of the box yang disiapkan Tsabit adalah merangkul komunitas hobi dan pengusaha muda. Program pemberdayaan tahun 2026 akan difokuskan pada pendekatan kekinian, mulai dari penguatan media digital hingga fasilitasi komunitas ikan hias dan burung berkicau.

“Baledono punya banyak pengusaha muda yang mulai merambah dunia digital. Kemajemukan karakter di sini adalah modal untuk menjadi mandiri dan berdaya saing. Zaman sekarang, tanpa daya saing, kita akan tertinggal,” tambahnya.

Selain ekonomi baru, Baledono tetap mengandalkan aset sejarah dan wisata seperti Makam Kyai Imam Puro, Kolam Renang Arta Tirta, hingga situs purbakala Lingga Yoni di Kedung Putri. Sinergi antara kearifan lokal, situs sejarah, dan inovasi digital diharapkan mampu membawa Baledono menjadi kelurahan yang lebih sejahtera dan “guyup rukun” di masa depan.

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 106 kali

badge-check

Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Jemu Janji Manis, Warga Obi Kompak Benahi Jalan

1 Oktober 2026 - 19:56 WIB

Ritual Pendinginan: Harmoni Adat dan Modernitas Pesisir Malaka

29 September 2026 - 19:22 WIB

Pilkades Bantarjaya: Tumbangnya Petahana dan Ujian Pj Mursidi

29 September 2026 - 12:55 WIB

Bansos Ribuan Warga Wonogiri Disetop Gegara Judol Pinjol

19 September 2026 - 06:11 WIB

Sengkarut Dana Desa Malaka: Pelatihan 10 Menit Disorot

17 September 2026 - 10:01 WIB

Bantaran Citarum Memanas: Sengkarut Rivalitas 4 Calon Pemimpin Bantarjaya

10 September 2026 - 16:25 WIB

Trending di KABAR DESA