Menu

Mode Gelap
Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa Bantah Isu Kontraktor LPJ, PMD Kolaka Utara Siapkan Klinik Desa Sultan HB X: Desa Adalah Fondasi Budaya dan Ekonomi

RAGAM · 19 Jan 2026 08:12 WIB ·

Jejak Sunyi di Lembah Pusako Episode 16: Festival Lembah Pusako


					Jejak Sunyi di Lembah Pusako  Episode 16: Festival Lembah Pusako Perbesar

 

Kabut turun perlahan pada pagi itu, serupa doa yang dilepaskan alam dari punggung bukit. Ia tidak tergesa, tidak pula riuh—hanya setia menyentuh dedaunan, seolah hendak mengingatkan manusia bahwa setiap permulaan yang baik selalu lahir dari ketenangan. Dari arah lembah, bunyi talempong terdengar sayup, mengalun seperti panggilan lama yang memanggil pulang anak-anak nagari. Hari itu, Lembah Pusako bersiap menyambut dirinya sendiri—dalam sebuah festival yang lahir bukan dari gemerlap, melainkan dari luka yang telah dipeluk dengan sabar.

Di sepanjang jalan, bambu-bambu bergoyang pelan. Daunnya saling bersentuhan, menimbulkan bunyi halus seperti bisikan. Wangi nasi bakar bercampur kopi panggang, menyusup ke udara pagi yang masih basah oleh embun. Siapa yang menyangka, lembah yang dahulu hampir kehilangan nyawanya kini kembali menghembuskan kehidupan. Pernah airnya keruh, tanahnya retak, dan burung-burung pergi tanpa pamit. Tetapi orang-orang tua di surau selalu berkata: alam hanya menjauh dari manusia yang lupa menundukkan kepala.

Sari berdiri di tepi batang air. Di tangannya, sebuah kendi kecil—Pusaka Embun—warisan neneknya, bidan kampung yang percaya bahwa kehidupan mesti ditolong dengan kasih, bukan dengan kerakusan. Air di sungai kini jernih, memantulkan wajah Sari yang tenang. Di belakangnya, beberapa perempuan mengikat karung berisi botol plastik yang telah mereka kumpulkan.
“Tidak ada doa yang selesai tanpa kerja,” ucap Sari lirih. Kalimat itu sederhana, namun telah menjelma pegangan hidup bagi perempuan-perempuan lembah.

Sejak tragedi tambang merobek perut bumi, Sari dan kawan-kawannya mendirikan Komunitas Perempuan Embun. Dari dapur rumah gadang, mereka membuat sabun kelapa, pupuk kopi, dan pembungkus daun pisang. Hasilnya tak seberapa, tetapi cukup untuk membeli bibit pohon. Bibit itu mereka tanam di mata air, seakan menanam harapan pada tempat yang paling membutuhkan kesetiaan. “Sedikit asal berlanjut,” kata Sari suatu hari, “seperti embun—tak pernah besar, tapi selalu kembali.”

Raka pulang dari kota dengan keyakinan yang telah disaring oleh jarak dan rindu. Ia mengerti kini, ilmu bukan tangga untuk menjauh dari tanah kelahiran, melainkan jembatan untuk kembali. Di balai desa ia mendirikan Pusat Pembelajaran Hijau. Di sana orang belajar mengolah kompos, menenun dengan warna alam, dan merancang kemasan yang ramah pada bumi.
“Ilmu tidak untuk meninggikan diri,” katanya, “tetapi untuk merendahkan hati agar berani mendekap tanah.”

Dari tempat itu lahir Dongeng Hijau. Setiap sore, anak-anak berkumpul di bawah pohon trembesi dekat surau. Sari mendongengkan kisah Penjaga Lembah—roh air yang menjaga keseimbangan. Suaranya lembut, mengalir seperti sungai yang sabar.
“Air menari, daun bernyanyi, Bumi tersenyum bila kita peduli.”

Lagu itu hidup. Ia berpindah dari mulut ke mulut, dari sekolah ke pasar, dari ladang ke dinding kios dalam bentuk pantun. Alam menemukan kembali bahasanya melalui anak-anak.

Namun, seperti hikayat lama di ranah ini, ketenangan jarang abadi. Kabar datang dari hulu: tanah bekas tambang hendak dijual lagi. Kegelisahan merambat, tetapi tidak menjadi ketakutan. Para pemuda menyusun peta wilayah adat, menulis petisi, dan membuka pintu bagi wartawan. Perempuan Embun menyiapkan upacara simbolik: menanam seribu bambu di sepanjang sungai. Mereka menamainya Tirai Penjaga Air.

Hari penanaman tiba. Lembah dipenuhi manusia dan doa. Pak Ranu, tetua kampung, datang dengan sarung batik tua. Matanya berkabut. “Hari ini bukan untuk meminta,” katanya, “tetapi untuk bersyukur.”

Sari menuangkan air dari kendi pusaka ke akar bambu pertama. “Untuk bumi yang memberi,” bisiknya, “dan untuk kita yang belajar menjaga.”

Waktu bekerja diam-diam. Air kembali berkilau. Pasar kembali hidup. Anak-anak belajar bukan hanya dari buku, tetapi dari tanah dan air. Setahun kemudian, Festival Lembah Pusako digelar. Tenda bambu berdiri, talempong dan gandang bersahut, dan tarian Penjaga Air dipentaskan—perpaduan silek dan lenggang daun.

“Dulu kita berjuang agar air hidup,” kata Raka. “Sekarang air yang menghidupkan kita,” jawab Sari.

Malam turun perlahan. Lampu minyak menyala. Bayangan manusia menari di atas sungai yang bening. Pak Ranu berkata dengan suara teduh, “Bumi bukan warisan, melainkan titipan.”

Sari menatap langit. Ia merasa, di antara bintang-bintang, doa neneknya masih bekerja.
Lembah Pusako tak lagi sekadar tempat tinggal. Ia telah menjadi rumah kesadaran—bahwa dari luka, manusia bisa belajar; dan selama ada tangan yang menanam, Penjaga Lembah takkan pernah pergi.

(DA)

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 22 kali

badge-check

Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Etika Jurnalisme: Pilar Penjaga Marwah Pembangunan dari Desa

3 Mei 2026 - 12:13 WIB

Jejak Sunyi di Lembah Pusako Episode 27: Pariwisata Ramah Lingkungan

3 Mei 2026 - 09:57 WIB

Kepala Desa Jarang Ngantor Jadi Ancaman Serius Pembangunan

24 April 2026 - 22:13 WIB

Ekonomi Digital Desa: Koperasi Merah Putih Tembus Pasar Dunia

23 April 2026 - 09:32 WIB

Asa dari Kalaotoa: Saat Bupati Peluk Keluhan Warga

22 April 2026 - 10:54 WIB

Optimisme Petani Selayar: Jagung Bersemi, Kelapa Menanti Data

21 April 2026 - 18:24 WIB

Trending di RAGAM