Menu

Mode Gelap
Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa Bantah Isu Kontraktor LPJ, PMD Kolaka Utara Siapkan Klinik Desa Sultan HB X: Desa Adalah Fondasi Budaya dan Ekonomi

JALAN JAJAN · 18 Jan 2026 07:18 WIB ·

Sihir Sejarah Ambarawa: Sendratari Babad Fort Willem I Digelar Rutin


					Sihir Sejarah Ambarawa: Sendratari Babad Fort Willem I Digelar Rutin Perbesar

Ambarawa, Jawa Tengah [DESA MERDEKA] Kabar gembira bagi para pencinta sejarah dan budaya. Kawasan cagar budaya Benteng Pendem atau Fort Willem I Ambarawa kini tidak hanya menawarkan kemegahan arsitektur kolonial, tetapi juga menyuguhkan pertunjukan seni yang spektakuler. Mulai Januari 2025, drama Sendratari Babad Fort Willem I resmi diluncurkan sebagai agenda rutin bulanan.

Pertunjukan perdana yang digelar pada Sabtu (17/1/2025) malam, menandai babak baru dalam promosi wisata sejarah di Kabupaten Semarang. Marsono, Supervisor Kawasan Fort Willem I dari Lawu Group, menyatakan bahwa pementasan ini merupakan upaya nyata dalam melestarikan budaya adiluhung sekaligus menghidupkan narasi sejarah benteng tersebut.

Serial Sejarah: Strategi Belanda dan Perlawanan Diponegoro
Sendratari ini tidak sekadar tarian, melainkan sebuah serial sejarah yang dibagi ke dalam beberapa episode. Ceritanya berfokus pada latar belakang pembangunan benteng pada tahun 1834. Pasca-Perang Diponegoro, Belanda yang mengalami kerugian besar dari sisi logistik dan strategi akhirnya membangun Fort Willem I sebagai benteng pertahanan sekaligus barak militer raksasa.

“Kami ingin penonton penasaran dengan kelanjutan ceritanya. Oleh karena itu, sendratari ini dikemas secara berseri. Episode kedua dan ketiga akan ditampilkan pada pertengahan bulan berikutnya,” ujar Marsono.

Kolaborasi Lokal dengan Standar Profesional
Meski persiapannya hanya memakan waktu dua minggu, kualitas pertunjukan ini disebut-sebut setara dengan Sendratari Ramayana di Prambanan. Rahasianya terletak pada kolaborasi apik antara Lawu Group dengan seniman asli Ambarawa, seperti Sanggar Nayanika, Hanuman Art, dan Sanggar Kemerincing.

Seluruh pemeran dan penari merupakan putra daerah Ambarawa yang telah melalui proses pembinaan intensif. Hal ini membuktikan bahwa Ambarawa memiliki bibit unggul dalam bidang seni pertunjukan. Dukungan penuh juga datang dari jajaran Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dan Pemerintah Kabupaten Semarang yang turut hadir dalam pementasan perdana tersebut.

Wisata Terjangkau Kelas Dunia
Salah satu kejutan dari pertunjukan ini adalah harga tiketnya. Jika pertunjukan serupa di tempat lain dibanderol ratusan ribu rupiah, pengunjung Fort Willem I cukup membayar tiket masuk kawasan sebesar Rp15.000 untuk bisa menikmati sajian drama tari semegah ini.

Pihak pengelola juga membuka kelas karawitan bagi anak-anak usia SD dan SMP untuk menjamin keberlanjutan regenerasi seniman. Dengan orkestrasi budaya Jawa dan latar sejarah benteng yang megah, pementasan ini diharapkan mampu menarik minat wisatawan Nusantara hingga mancanegara untuk berbondong-bondong ke Ambarawa.

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 92 kali

badge-check

Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Racikan Rempah Belakang Rumah: Primadona Baru Wisata Ambarawa

13 April 2026 - 17:51 WIB

Racikan Empon-Empon Ambarawa: Warisan Simbah yang Menembus Benteng

13 April 2026 - 15:57 WIB

Kampung Tenun Samarinda: Magnet Budaya di Gerbang IKN

2 April 2026 - 14:04 WIB

Pacu Kuda Padang Pariaman 2026: Magnet Ekonomi Perantau Pulang

29 Maret 2026 - 09:12 WIB

Stasiun Tuntang: Saat Kereta Tua Hidupi Ekonomi Desa

27 Maret 2026 - 08:07 WIB

Parkir “Nembak” Harga Rp20 Ribu Coreng Wajah Carocok Painan

25 Maret 2026 - 13:45 WIB

Trending di JALAN JAJAN